Gerakan kepanduan sejak dini kini dilakukan lewat layar; baris-berbaris di server Roblox, aba-aba “siap, grak!” diterjemahkan jadi emote dance dan hati warna-warni. Ada rapat sore ini, notulen disimpan di repositori awan, belum diperpanjang eskternal giganya. Draft diedit ChatGPT, disepakati lewat voting; tak ada bau kertas, tapi ada lag dan semangat nasional di antara notifikasi. Di Mobile Legend mereka bertarung, bukan demi tanah air tapi demi rank dan skin epic; meski siapa tahu, di sela-sela laga mereka belajar arti kerjasama, arti kalah dengan hormat, arti tidak AFK pada sejarah. Di meja makan, tablet berdiri seperti tiang bendera, Tupperware diisi ayam kriuk dan patriotisme instan; les biola disambung lewat Zoom tapi nada lagu kebangsaan masih sumbang. Weltevreden tinggal nama, kosthuis jadi co-living, Ze!f-onderricht berubah jadi tutorial 1 menit di TikTok. Namun siapa tahu; mungkin sumpah itu tak pernah mati, hanya berganti domain. Mungkin di Minecraft ada upacara, blok demi blok membangun tanah air digital, dimana setiap avatar punya cita-cita dan setiap respawn adalah kesempatan baru untuk percaya. Karena bahkan dalam kolom komentar paling absurd, di antara stiker dan spam promo, masih ada yang menulis: “Indonesia satu.” dan entah kenapa, aku ingin menjawab:
“Masih, kan?”
No comments:
Post a Comment