Monday, January 5, 2026

Masih, Kan?

 Gerakan kepanduan sejak dini kini dilakukan lewat layar; baris-berbaris di server Roblox, aba-aba “siap, grak!” diterjemahkan jadi emote dance dan hati warna-warni. Ada rapat sore ini, notulen disimpan di repositori awan, belum diperpanjang eskternal giganya. Draft diedit ChatGPT, disepakati lewat voting; tak ada bau kertas, tapi ada lag dan semangat nasional di antara notifikasi. Di Mobile Legend mereka bertarung, bukan demi tanah air tapi demi rank dan skin epic; meski siapa tahu, di sela-sela laga mereka belajar arti kerjasama, arti kalah dengan hormat, arti tidak AFK pada sejarah. Di meja makan, tablet berdiri seperti tiang bendera, Tupperware diisi ayam kriuk dan patriotisme instan; les biola disambung lewat Zoom tapi nada lagu kebangsaan masih sumbang. Weltevreden tinggal nama, kosthuis jadi co-living, Ze!f-onderricht berubah jadi tutorial 1 menit di TikTok. Namun siapa tahu; mungkin sumpah itu tak pernah mati, hanya berganti domain. Mungkin di Minecraft ada upacara, blok demi blok membangun tanah air digital, dimana setiap avatar punya cita-cita dan setiap respawn adalah kesempatan baru untuk percaya. Karena bahkan dalam kolom komentar paling absurd, di antara stiker dan spam promo, masih ada yang menulis: “Indonesia satu.” dan entah kenapa, aku ingin menjawab: 

“Masih, kan?”

Di Koran Sekarang-Sekarang

Piala tidak mau diam, ia menggelinding sendiri, ring yang pura-pura tuli di kolong tol; timnas atletik berlari di dalam sepatu kata, bobot kemenangan ditimbang emisi, jatuh jadi abu. Datacenter batuk, memutar duet Raisa–Ayu Tingting sampai telepon merasa punya tenggorokan, ia menghubungi malam hingga lupa pulang. 


Di Sumatera, banjir menggulung selimut, air menggunting daratan jadi kaca-kaca; nelayan berdiskusi dengan PLTU yang mengirim tongkang-tongkang batubara sebagai jawaban. 


Desa Fatufia gatal-gatal, menajam, berubah jarum, lobby-lobby menusuk peta, sementara terumbu karang di Kupang belajar bernapas dari sisa cahaya. Berita kini memegang senjata sendiri—lima petani jatuh, ke kata-kata; ring menutup, gunting tertawa pelan, dan malam terus berjalan, membawa tanya yang berdering tanpa siapapun ada di seberangnya.


2025

Sejak Aku Menikmati Kopi

Sejak aku menikmati kopi, hujan turun terbalik. Ia yang menghapus air-air lainnya, dari selokan, dari bak mandi, dari empang sebelah milik tetangga

Sejak aku menikmati kopi, manis berjarak dengan tepat. Kue-kue tidak lagi memaksa, mengerti akan diabetes karena kenyang tata bahasa


Sejak aku menikmati kopi, tubuh berhenti menjadi tempat kejadian perkara. Darah pensiun lebih awal, dan pisau-pisau kecil dalam kepala kehilangan jadwal kerja


Sejak aku menikmati kopi, kota lahir mengajarkan cara bertahan. Lampu merah tetap menyala meski tak ada yang menyeberang, belajar menunggu


Sejak aku menikmati kopi, luka berubah fungsi. Mendaki-mendaki lagi, menjadi peta, menunjukkan daerah rawan yang tidak perlu lagi dikunjungi


Sejak aku menikmati kopi, pahit duduk di kursi. Ia bertamu, tidak berteriak, tidak mengetuk lebih dulu, hanya menaruh sepatu di depan pintu dan meminta segelas air


Sejak aku menikmati kopi, amigdala berhenti berbohong pada tukak lambung. Ia hanya lelah menerima yang berlebihan, uang-uang, contohnya


Sejak aku menikmati kopi, percobaan itu tidak lagi tampak seperti jalan keluar. 


2026