Showing posts with label sepuisi. Show all posts
Showing posts with label sepuisi. Show all posts

Monday, January 5, 2026

Di Koran Sekarang-Sekarang

Piala tidak mau diam, ia menggelinding sendiri, ring yang pura-pura tuli di kolong tol; timnas atletik berlari di dalam sepatu kata, bobot kemenangan ditimbang emisi, jatuh jadi abu. Datacenter batuk, memutar duet Raisa–Ayu Tingting sampai telepon merasa punya tenggorokan, ia menghubungi malam hingga lupa pulang. 


Di Sumatera, banjir menggulung selimut, air menggunting daratan jadi kaca-kaca; nelayan berdiskusi dengan PLTU yang mengirim tongkang-tongkang batubara sebagai jawaban. 


Desa Fatufia gatal-gatal, menajam, berubah jarum, lobby-lobby menusuk peta, sementara terumbu karang di Kupang belajar bernapas dari sisa cahaya. Berita kini memegang senjata sendiri—lima petani jatuh, ke kata-kata; ring menutup, gunting tertawa pelan, dan malam terus berjalan, membawa tanya yang berdering tanpa siapapun ada di seberangnya.


2025

Sejak Aku Menikmati Kopi

Sejak aku menikmati kopi, hujan turun terbalik. Ia yang menghapus air-air lainnya, dari selokan, dari bak mandi, dari empang sebelah milik tetangga

Sejak aku menikmati kopi, manis berjarak dengan tepat. Kue-kue tidak lagi memaksa, mengerti akan diabetes karena kenyang tata bahasa


Sejak aku menikmati kopi, tubuh berhenti menjadi tempat kejadian perkara. Darah pensiun lebih awal, dan pisau-pisau kecil dalam kepala kehilangan jadwal kerja


Sejak aku menikmati kopi, kota lahir mengajarkan cara bertahan. Lampu merah tetap menyala meski tak ada yang menyeberang, belajar menunggu


Sejak aku menikmati kopi, luka berubah fungsi. Mendaki-mendaki lagi, menjadi peta, menunjukkan daerah rawan yang tidak perlu lagi dikunjungi


Sejak aku menikmati kopi, pahit duduk di kursi. Ia bertamu, tidak berteriak, tidak mengetuk lebih dulu, hanya menaruh sepatu di depan pintu dan meminta segelas air


Sejak aku menikmati kopi, amigdala berhenti berbohong pada tukak lambung. Ia hanya lelah menerima yang berlebihan, uang-uang, contohnya


Sejak aku menikmati kopi, percobaan itu tidak lagi tampak seperti jalan keluar. 


2026

Wednesday, July 9, 2025

Akar Tubuh

Semua tangan meraba tombol, dan bunyi ketukan serentak mencipta ruang mendengar

Seperti gendang, gong, kecapi bertaut tanpa dominasi

Perjalanan suara-suara yang bertemu di luar hierarki

Di situ; sastra, nada, dan pengalaman perempuan bergelora setara

Cahaya merambat di atas dahan,

bercabang lebat, menopang daun tanpa cemburu

Begitu pula pemikiran kita, tumbuh dalam simpul yang saling memanggul

Tidak ada batang tunggal yang berdiri sendiri

hanya hutan lintas suara dan tubuh

Napas masuk dan keluar bersamaan, seperti kurasi pengalaman;

yang bergulir tanpa jeda

Di sanalah Ia tumbuh;

menjadi akar

yang sama menghidupi ragam kata

 


2025

 

Thursday, September 22, 2022

I'll see you around. 2021.

Ini adalah beberapa yang tertangkap di luar kata

Setelah kita melumat petang di Martadinata

Apakah selamanya akan ada?

Atas seluruh jawaban ini kusisip Martini

Cawan ini dari nirwana, rasanya.


Gemawan menarik rupa, ada matahari tembus di dalam dada

Anglaksa luka memerih tiada

Bersandar pada angin bulan September

Riak dalam mataku menyanyikan lagu, dan

Ia tidak suka ditanya, kecuali

Elang menyuruhnya pulang, untuk kembali ke;

Lautan biru di sudut pipimu


Menuliskanmu perlahan di angkasa, bersama

Opus yang kaunyanyikan menggema di telinga

Nanti, Aku menyimpan suaramu dengan hati-hati di celah kemejaku

Dan Bandung kembali jadi bibir-bibir bisu 

Ini kaldera rindu yang selalu menggandakan diri tanpa tahu waktu



                                     

                                                              I'll see you around. 

Sunday, September 18, 2016

Labuan Bajo I

aku menyelami mata cakrawala,
kehidupan
fana dan kabur
mencoba menatap, bertanya
desis ombak-ombak
pagi

aku menyelami mata cakrawala
dijawabnya dengan
heningan
dan silau-silau emas
berderai
 berseru

aku menyelami mata cakrawala
tepian teluk
mendengarkan,
 mendegupi
berdebur jadi koor syahdu

mengedip ia
memberiku
isyarat

Labuan Bajo
2015

Monday, April 18, 2016

Hal yang Selalu Aku Tanyakan

ada yang selalu kutanyakan, kepada penyair
tentang huruf yang hilang dalam puisi ini. aku curiga
kau mencurinya, tanpa alasan. sama seperti kenangan-kenangan
yang kau
    hilangkan
dan darahku
   kau
      kering kerontangkan
masihku mencari-cari, gelisah 
dengan mata yang kedua bolanya, merah
ada huruf yang hilang dari puisi ini, entah
dengan mata yang kedua bolanya, pecah

ada yang selalu kutanyakan, kepada penyair
tentang huruf yang hilang dalam puisi ini, masihkah bisa jadi syair
sampai kapan kumelipir dan mangkir?
Sen yıllardır yazıp bitiremediğim şiir
  
Senin, Selasa; kau menggoyang cakrawala, 
kedatanganmu serupa deru gempa pada semesta
Senin, Selasa; matamu langit tosca
Anladım sendin aradığım hayatım boyunca 

ada yang selalu kutanyakan, kepada penyair
tentang huruf yang hilang dalam puisi ini; Ah ya sudah, biarkanlah. mungkin
ketidaksempurnaan akan selalu jadi teka-teki.
sampai bertemu lagi dalam waktu yang mati

kini kutanyakan padamu, bukan pada si penyair lagi;
bolehkah aku pinjam itu mata coklat selai roti?
supaya nanti, lain kali saat mencuri
bisa kau aku pergoki.


* Anggap saja ini sebuah alegori. Bagiku, kau adalah intrepretasi dari segala bentuk puisi.

2016.

Thursday, July 23, 2015

Hal yang Sering Kita Lakukan

sering kita
diam memesan
segelas kopi dan secangkir teh vanilla
tak bergula

sering kita
diam berhadapan
duduk di antara dua
senja

sering kita
diam berbantahan
dari politik hingga larik cinta
antara

sering kita
diam memabukkan
bercerita hingga botol bir kelima
berbuih busa

sering kita
diam berpelukan
malam perlahan menjelma
airmata

sering kita
diam dalam lenguhan
basah keringat gerhana
bercinta

sering kita
diam di keheningan
menggeletar doa-doa
bahagia

sering kita
diam berpandangan
bertanya-tanya
siapa yang lebih dulu terluka

sering kita
diam mendoakan
jiwaku menjerit ketakutan;
kau tinggalkan

Juli 2015

Saturday, July 11, 2015

Separuh.


google.com
Sejenak kita berhadapan, aku menoleh. Hidungmu hanya berjarak dua senti. Bibir setipis itu dibuat pasi. Wajahmu memucat karena suhu sepuluh derajat.
Dan awan selalu pindah cepat-cepat, namun detak detik waktu serasa kian melambat. Andai kau tahu, bagaimana rasanya jatuh cinta sebegini istimewa. Andai kau tahu, untuk kedatanganmu, aku banyak cerita kepada Maharasa.

Lagi, Aku mengadah mencari galaksi. Kamu merapatkan tubuh, aku mencari tanganmu. Kau dan aku melumat hening. Berdua memeluk pagi. Sesampai embun menyampaikan matahari. Jika aku meminta abadi, kurasa itu tidak terlalu tinggi.

Tetapi mataku kembali menyelasar ke samping. Memang matamu ternyata indahnya lebih dari bima sakti. Walau di langit menyemut milyaran, sepasang coklat terang selalu berhasil membuatku betah menyelam, diam-diam.

Tanganku kau genggam, aku sebentar memejam. Kau masih bisa tersenyum dengan dingin mencucuk belulang. Kau memintaku untuk lelap dalam kejap. Aku mencintai malam, sayang. Mana bisa? Mataku menyipit berkelit. Enggan tercebur dalam mimpi, tanganku mengarah ke langit.
Ada bintang jatuh di sana. Pun kamu melihatnya.
Pemandangan yang sangat nadir.

Tetapi mataku kembali menyelasar ke samping. Labirin di matamu melirih. Pekat menatap. Kau tahu, pada bulan yang separuh itu, aku berjanji untuk tidak memetik kristal-kristal airmata karena sakit yang terlampau.  


Maaf, kekasihku.
Air mataku menderas di dada.
Permohonan ini kulayangkan pada satu mesta,  seluruh isinya, beserta.

Waktu kehilangan suaranya, hening mempepat.
 Embun turun sebentar. Dengan tatap nanar, cerlang pagi mengintip kami.

"Tak ada semesta tempat rinduku berlari selain hatimu.
Rentang cintamu seluas cakrawala, 
dimanapun aku berada, rinduku menjejak dibawahnya” 


  Biarkan senyum menjadi bentuk penghayatan kita paling dalam. 
Berdua, 
di bawah bebintang dan langit yang semakin dekat jaraknya.

andai matamu, melihat aku.

Juli 2015.

Sunday, March 8, 2015

Ketahuilah

Ketahuilah, aku sedang tidak bersiasat ketika aku benar-benar mengatakan perasaan ini tersesat.
Jatuh cinta padamu pun bukanlah sesuatu yang bisa kuprediksikan tepat
Bila aku berkata jatuh
Ya aku memang luluh
Bila aku berkata bersama
Ya aku memang cinta

Ketahuilah, aku sedang tidak bertaktik ketika aku benar-benar mengatakan, kau cukup membuat jiwaku pelik
Jatuh cinta padamu pun bukanlah suatu yang bisa kurencanakan baik-baik
Bila aku berkata bukan sekedar singgah
Ya aku memang akan menjadikanmu sebagai rumah
Bila aku berkata bukan sekedar hinggap
Ya aku memang akan lama menetap

Ketahuilah, aku tidak sedang bermain ketika aku benar-benar mengatakan, bahwa hanya ada kau saat ini dan tidak ada selain
Jatuh cinta padamu pun, bukanlah suatu yang bisa kucegah, malah makin-makin
Bila aku berkata aku ingin berjuang
Ya aku memang menjadikanmu sebagai tempat pulang
Bila aku berkata  tidak sedang mengembara
Ya, aku memang selalu diam diam berdoa
(aku ingin) kamu saja

Ketahuilah, aku tidak sedang berkilah, tidak usah kau takut mulut ini berbuih karena terlalu banyak berkisah,
aku jadi sering menghabiskan malam dengan diam, kan?
Ketahuilah
Aku tidak bisa berkilah,
Karena aku memang benar-benar  menyerah

2015


Tuesday, July 8, 2014

Vanavond

Malam selalu terasa meluncur lebih cepat
Tak jauh darinya; ketika seseorang mendekap
Bingungnya jadi berlipat-lipat.
Punggungnya mendedah tenang, napasnya melilitku

Lalu seperti kurang kerjaan, kembalilah Ia duduk di gazebo rumah;
Kakinya terjuntai, dengan mata mengerjap-ngerjap 
nanar; (mungkin melihatku)
berharap
seseorang pendekap itu bisa berubah menjelma serigala
atau jadi apa saja; 
(karena bukan penting itu perkara) 

lalu ingatannya menjadi panjang, sekali.

2014.

Thursday, April 3, 2014

3 April 2014

Nostalgia tentangmu bukanlah nostalgia yang biasa-biasa saja.
Kau harus tahu:
(Perlu duakali putaran penuh jarum jam untuk mengurai-urai rindu demi rindu) 

Nostalgia tentangmu itu melelahkan.
Kau harus tahu:
(Tenagaku seolah diserap masa lalu yang kau putar-putar dan terlempar-lempar) 

Kau adalah ombak yang mudah tertebak. 
Dulu kita genap lantas sekarang lenyap
Berdua kita buat langit-langit penuh berkumpul angan,
juga di samping kolam ikan
tapi siapa tahu sekarang 
hanya
kenangan?

Thursday, December 19, 2013

Kaki-kaki mungilku memaksa
Hujan turun dari awan, berlarian
Senja yang lama, masih di sana
     masih di sana masih di sana
di kolong langit, di  merah awanku
Kaki-kaki mungilku berjalan
Tersandung sore yang kian hilang

Kaki-kaki mungilku memaksa
     membawa
separuh senyum yang kau punya
ke trotoar trotoar jalan, ke bisingnya knalpot motor malam
Kaki-kaki mungilku memaksa
     membawa
separuh kicau burung yang bersuara
ke telinga-telinga, ke jiwa jiwa yang tenang

Kaki-kaki mungilku memaksa
berhenti sejenak,
berat katanya, Ia membawa
cerita pahit dari jingga kelabu sampai ungu

2013


Wednesday, November 13, 2013

Jangan Pernah Mencibir Caraku, Mencintaimu.

Jangan pernah mencibir caraku mencintaimu
Kadang sembap pipi mengingatkan
di malam meja makan
seringnya kau aku ribut
hanya karena ketan kesukaan
lupa kubelikan dan kau cemberut

jangan pernah mencibir caraku mencintaimu
saat kau dan aku beradu sampai datang amarah
misal di ruang tengah
Kau aku bicara tentang hewan sampai pemerintah
bagaimana singa tak sakit perut makan bangkai mentah-mentah
atau impor sapi dan korupsi ;
sehingga kau gelisah
dan bilang negara kita seperti sungai penuh sampah

jangan pernah mencibir caraku mencintaimu
walau jarang kubilang sayang
atau berbisik mesra lewat daun daun telingamu
walau jarang kukata cinta
atau merayu sampai hari menutup sayu
di malam setelah kau tertidur
aku berbisik mesra pada Tuhan
aku merayuNya

namamu selaluterselip dalam tiap doa
untukmu untukku
asal kau tahu

jangan pernah mencibir caraku, mencintaimu
walau jarang aku mengalah, katamu
atau memohon maaf, padamu
tiap tangis diamku, untukmu
aku merasa sangat bersalah, karenamu
lalu kau menggerutu berkata salahku, ungkapmu
menangis sejadi-jadinyalah aku, di depanmu

aku kekanakkan, pencemburu, bawel dan  egois, menurutmu
namun jangan pernah mencibir,
caraku mencintaimu

asal kau tahu
kau yang selalu jadi pertamaku
nomor satu
bukan aku, bukan diriku
adalah kamu, kamuku.

Monday, September 30, 2013

Gedung Kesenian

betapa kayu merindukan dirinya diinjak didentam dentam, ditapak kaki pekerja seni yang jiwanya tak lelah dan tak mati, kayu menunggu sang seni yang menyetubuh manusia memecah-mecah bagian dirinya yang telah tua dimakan usia.
berpuluh tahun kayu dijatuhi keringat-keringat bau hasil raga estetika. kadang melongok sedikit ke atas mengintip peran apa di sana dan siapa yang sedang ambil peran
penjudi sampai bang haji pernah duduk sila di atasku, kata kayu.

kayu tertawa sendiri melihat mata-mata penonton di seberang sana, menatap terpana atau kadang mengerengut karena tak paham akan mulut seni bicara. bisa jadi menangis sampai matahari datang dari batas pagi. sekedar menyeruput kopi-kopi, berdiskusi.

karena gedung itu tak pernah sepi. di dalamnya ada kayu-kayu yang terus saja menanti, walau lampu lampu sorotnya telah lama mati

kadang ada beberapa sejoli yang sesekali mampir,
untuk kali ini lebih baik tutup mata saja, malas ku lihat mereka berpagutan, kata kayu.

2013

Thursday, September 12, 2013

di Beranda

rinduku dimakan telepon-telepon umum pinggir jalan,
tak tahan berkabar, Bu!
bahwa aku di sini baik-baik saja,
tidak beku karena salju, tidak kehausan karena matahari musim panas,  dan tidak kelaparan karena uang kiriman yang pas-pasan

Kota ini benar-benar cuek. Benar-benar tidak peduli;
gedung-gedungnya sibuk sekali. hanya satu dua orang yang duduk di luar kantor, menyesap satu atau dua batang rokok, dan kembali tenggelam kerja lagi

kekasihku di Bali apakabar bu? tolong sampaikan;
tunggulah aku, baru saja setahun kerja di negeri orang, 
sudah terkumpul uang nanti bersiaplah kau kulamar

Awas kalau ku dengar kau mau diajak kabur oleh anak pak Lurah


2013
(p.s Terimakasi Banda Neira - di Beranda)

Akuisisi

Kecintaanmu kecintaannya kecintaanku
Apa yang jadi perasaanku;
Perasaanmu perasaannya
Apa yang meletupku
Meletup di kamu;
meletupkannya

Kecemasanmu kecemasannya kecemasanku
Apa yang seolah diukur jadi rindu
Milikmu miliknya
Apa yang disilakanku
merebutkannya

Luntur di tepi luntur kini

2013

Sunday, September 8, 2013

aku rindu wangi tanah belakang rumah yang kadang
tertabur biji cabai dan tomat, bekas
malam tadi ibu mulai bertanam lagi
aku rindu suara dari surau sebelah, saat
menuju subuh adzan terdengar pecah
tidak akan lupa setelahnya kukecup
kening ibu yang masih
basah; air wudhu rumahku dingin sekali

dengarkanlah;

2013

Tuesday, September 3, 2013

Rektorat Tujuh Pagi

dan ia menyapa, bertanya apa pandora ada dari balik itu mata
dan semburat kuning tadi, apakah ia jadi perona
mama bilang, biarkan langit pucat pasi
tercuri birunya dari pesisir senggigi

dan ia menyapa, bertanya apa pandora ada dari balik itu punggung
dan semburat kuning tadi, apakah ia tercekik gunung
mama bilang, biarkan langit tetap membalik
tercuri tamahnya dari malu malu tiap detik

September 2013

Thursday, August 22, 2013

Di sekitar matamu
Ada sajak yang terbang-terbang
Yang memisahkan aku; kamu; titik dan koma
Di sekitar matamu
Ada kamus yang bebal umur tak tergerus
Yang tertuang tanda dari kau di ujung halaman pertama
Kertasnya bau tua
Hampir jadi remah dimakan rayap

kau menungguku di musim gugur
di sorga

2013



Friday, July 5, 2013

Straw to My Berry

Sesederhana kacamata longgar yang selalu turun
dan kukembalikan ke posisinya semula
sesederhana naikan nada-nada yang selalu tak sengaja
dan kuturunkan ke irama semula

sesederhana hidung bulat yang selalu kau kecup
dan kutepis karena kegelian di atas mata