Showing posts with label kisahan. Show all posts
Showing posts with label kisahan. Show all posts

Tuesday, July 15, 2025

Kopi, Goni dan Senar di Halaman Belakang

Senar dan Goni duduk bersisian di taman belakang, di atas bangku besi yang dicat putih dan mulai terkelupas warnanya. Di hadapan mereka tertanam rumpun-rumpun serai dan kenikir yang tumbuh tidak teratur, seperti sedang memberontak dari desain taman yang terlalu rapi. Di ujung-ujungnya, sebatang pohon asam menua dengan anggun, dedaunannya berguguran satu demi satu, seolah tahu bahwa dunia tak lagi punya cukup tempat untuk menampung segalanya. Burung Bayan, satu-satunya makhluk yang selalu lebih cerewet dari televisi, bertengger di palang jemuran. Ia sesekali berteriak, bukan karena ada tamu atau maling, tapi karena hidup terlalu penuh informasi. Suaranya menirukan apa yang terakhir ia dengar:

"Setop uranium! 1,5 derajat! Laptop error! RDF! RDF!"


Di atas meja kayu, dua cangkir kopi robusta setengah basi mengepul lemah. Senar mencelupkan jari ke dalam cangkirnya; entah untuk mengetes panas atau menakar kesabaran. "Kadang kupikir, kita ini hidup di antara dua halaman. Satu halaman berita, satu halaman doa. Tapi tak ada yang bisa kita tulis sendiri," katanya. Goni mengangguk. Ia menyentuh tanah yang lembap berlumut, "Kau tahu, Iran sedang diancam lagi. Diminta berhenti memperkaya uranium. Disuruh manut pada yang merasa punya hak moral; dan pasukan."

Senar tersenyum kecil. "Kita semua pernah jadi Iran, dalam skala rumah tangga. Ditekan untuk berhenti memperkaya diri, karena dianggap berbahaya jika terlalu mandiri."


Burung Bayan mencicit, lalu bersuara seperti iklan layanan masyarakat:
"Digitalisasi pendidikan, generasi emas, satu siswa satu laptop."
Ia meniru suara Pak Menteri dengan begitu sempurna, hingga kopi di tangan Goni nyaris tumpah. "Dan ternyata ada anggaran yang menguap juga di sana, ya?" Goni bersuara lirih. "Laptop-laptop lebih banyak jadi tumpukan daripada digunakan. Anak-anak masih belajar di ruang kelas dengan plafon bolong dan kabel colokan yang diganjal sendok." Senar tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke langit yang kelabu. "Tapi di gurun Atacama, kabut bisa dipanen. Lima liter per meter persegi. Sehari. Air minum dari udara."

Ia terdiam, seakan sedang mengukur berapa banyak harapan bisa diperas dari udara Jakarta.

“Bayangkan. Negara di tengah kekeringan bisa mencipta kelembapan. Sementara kita; yang banjir pun tiap dua bulan, tak bisa mengelola basah tanpa tenggelam.” Angin menyusup ke sela-sela kemeja mereka. Aroma tanah lembap dan sisa bakaran plastik dari rumah tetangga menyatu, membentuk semacam kenyataan yang enggan dihindari. Goni berkata pelan, “Bantargebang katanya sekarang punya RDF. Sampah jadi bahan bakar. Katanya solusi. Tapi siapa yang tinggal di dekatnya? Siapa yang hirup udara itu?"


“Dan siapa yang ucapkan pidato sambil pakai masker N95, tapi menyuruh warga pakai saputangan bekas?” Senar menimpali.

Suasana jadi hening. Bahkan Burung Bayan pun membisu. Lanjut Goni, "Tadi pagi aku membaca, suhu bumi telah melampaui 1,5 derajat dari masa pra-industri. Kita resmi memasuki fase baru." “Mungkin bukan bumi yang berubah. Tapi kita yang lupa bagaimana rasanya tinggal di rumah sendiri,” jawab Senar. Ia menenggak kopinya, kini sudah dingin, seperti hasil riset yang tak lagi hangat bahkan saat dibakar berkasnya.


Bayan mengepakkan sayap. Di bawahnya, daun kenikir bergoyang. Seseorang menyalakan televisi di dalam rumah. Suara-suara ramai lagi: proyek, anggaran, investigasi, resolusi, investasi hijau, peluncuran AI, dan pertemuan tingkat tinggi. Namun di taman belakang, dua lelaki dan seekor burung tahu betul bahwa dunia tak akan diselamatkan oleh presentasi. Berdoa bahwa semua ini akan pulih, mungkin.

Wednesday, July 9, 2025

Dilma, Pieng dan Merbou - Lonceng yang Menolak Berdenting

Di lembah yang bentuknya seperti cangkir raksasa, terkurung kabut putih dan pepohonan kurus, berdiri sebuah sekolah kayu yang warnanya telah lama menyerah pada musim. Mereka menyebutnya Madrasah Sendu, meskipun tidak ada pelajaran agama di dalamnya. Di sanalah tiga nama tumbuh dari akar yang berbeda; Dilma, si pendengar gema, Pieng, penebar tanda tanya,  dan Merbou, penjaga pintu yang tidak pernah terkunci. Sekolah itu enggan memiliki jam. Waktu diatur oleh bayangan burung yang terbang melewati jendela, atau suara daun yang jatuh pada lantai bambu. Para guru? Mereka tidak punya mulut; hanya papan-papan kayu yang memutar kalimat-kalimat usang lewat lidah kapur yang gemetar.

I. Dilma dan Telinga Ketiganya

Dilma lahir dari sebuah perahu. Ibunya seorang pembuat jaring, ayahnya tenggelam sebelum sempat memberi nama. Ia memiliki telinga ketiga di balik rambutnya yang selalu basah, dan katanya ia bisa mendengar suara-suara yang tidak pernah diucapkan. Di Madrasah Sendu, Dilma duduk paling belakang. Ia tidak mencatat, tidak bertanya. Tapi ia mendengar. Ia tahu saat huruf “A” mulai merasa malu, atau ketika angka “7” menyimpan dendam pada perkalian.

“Ilmu itu seperti angin,” katanya sekali, pada Pieng. “Kalau kau paksa masuk botol, ia akan jadi bisu.” Orang-orang menyebutnya aneh. Tapi Dilma tahu: pelajaran tidak selalu datang dari papan tulis. Kadang dari bunyi serangga, atau detak jari guru yang mengetuk meja tanpa sadar.

II. Pieng, Sang Pemelihara Koma

Pieng punya keinginan untuk memecah semua kalimat. Ia membenci titik, menyukai koma. “Titik adalah kematian,” ujarnya. “Koma masih memberi harapan.”

Ia membawa buku catatan dengan garis-garis diagonal. Di dalamnya, ia menulis ulang pelajaran hari itu—tapi selalu ia ubah. Jika pelajaran tentang segitiga, ia akan menggambar rumah berkaki tiga. Jika soal sejarah, ia menulis ulang masa lalu sebagai kemungkinan, bukan kepastian. Guru-guru kayu di Madrasah Sendu nampak tidak menyukai Pieng. Mereka lebih menyukai anak-anak yang meniru, bukan menyoal.

 “Kenapa sejarah hanya dihafal, bukan ditanyai?” tanya Pieng suatu hari, dan papan tulispun retak. Dilma mendengar sesuatu pecah dalam diam hari itu. Ia menoleh ke Pieng dan melihat: ada seekor burung bertengger di bahunya. Burung itu terbuat dari kata-kata yang ditolak.

 

III. Merbou, dan Pintu yang Selalu Terbuka

Merbou tak banyak bicara. Ia tidak pandai membaca. Tapi ia tahu segalanya tentang pintu. Setiap pagi, ia datang lebih dulu dan membuka semua pintu sekolah. Tapi anehnya, tidak pernah ada yang tahu pintu mana yang sebenarnya dia buka.

“Aku hanya ingin semua punya jalan keluar,” katanya lirih. Ia percaya bahwa tidak semua orang harus masuk ke ruang yang sama untuk belajar. Ia membuka pintu menuju lapangan, kamar mandi kosong, loteng berdebu, bahkan ke bawah lantai tempat rayap bersidang. Orang dewasa menyebut Merbou bodoh. Tapi Dilma mendengar angin berbisik saat Merbou lewat. Dan Pieng selalu menulis namanya dalam huruf kecil, seolah Merbou adalah jeda yang menyelamatkan kalimat dari kebuntuan.

IV. Lonjakan di Hari Tanpa Angka

Pada suatu hari, angka-angka hilang dari buku matematika. Semua halaman berubah putih. Para guru berdiri beku. Suara papan kayu pun lenyap. “Hari ini kita tak punya angka,” ujar Dilma. “Mungkin kita sedang dilupakan.” Pieng tersenyum. Ia menulis: Jika tak ada angka, mungkin kita akhirnya belajar menghitung makna. Merbou membuka pintu.

Di luar, kabut seperti perca kain menggantung dari langit. Ia mengangguk pada Dilma dan Pieng. Mereka bertiga melangkah keluar. Di tengah lapangan, mereka menggambar lingkaran dengan ranting. Dilma menaruh daun, Pieng menaruh kata, Merbou menaruh kunci yang patah. Lingkaran itu bersinar samar. Dan dari dalam tanah, muncul lonceng tua;karatan, retak, tapi hidup.

“Ini lonceng yang tak pernah berdenting,” ujar Dilma.

“Karena tak ada yang mau mendengarnya,” sahut Pieng.

Merbou mendekat, dan meniupnya.

Nihil suara. Tapi udara berubah. Seekor kelinci melompati buku pelajaran. Huruf-huruf keluar dari jendela. Salah satu guru kayu ambruk, berubah menjadi tanaman. Dan para murid menari. Tidak seperti tarian perpisahan. Tapi seperti tarian anak-anak yang baru saja mengingat: belajar bukan meniru, tapi menggali diri sendiri yang terus tumbuh dan berubah.

V. Satu Tahun Tanpa Kurikulum

Sejak hari itu, Madrasah Sendu berubah. Tidak ada jadwal. Tapi semua datang tepat waktu. Tidak ada ujian, tapi setiap anak menemukan pertanyaan yang mustahil dapat dijawab orang lain. Para guru pun mulai tumbuh mulut. Tapi bukan untuk memberi tahu, melainkan untuk mendengar. Dilma mengajar dengan mendengarkan. Pieng menjadi penjaga perpustakaan yang hanya berisi buku kosong, tempat anak-anak menulis sendiri. Merbou tidak pernah masuk kelas, tapi membuka lebih banyak pintu, bahkan ke rumah-rumah di desa. Mereka menyebut ini tahun tanpa kurikulum. Tapi di seberang lembah, orang-orang mulai resah, berulang kali bertanya: Apa gunanya sekolah jika tak ada ranking? Apa gunanya belajar jika tak bisa dilombakan?

Maka datanglah Orang-Orang Bertopi Angka.

Mereka membawa meteran, grafik, nilai, dan peraturan yang bisa dibingkai. Mereka bicara dengan bahasa yang tak punya metafora. Lonceng dipaksa berdenting kembali. Pintu-pintu dikunci. Madrasah Sendu disterilkan. Dilma dipecat. Pieng dikirim ke kota. Merbou menghilang.

VI. Batu yang Berbicara Setelah Hujan

Beberapa tahun kemudian, seorang anak berjalan di lereng lembah. Ia menemukan batu kecil dengan ukiran aneh: “Kadang, belajar adalah melupakan pelajaran yang tidak lagi berguna.” Ia mendongak. Di sana, di balik ilalang dan lumut, terlihat kerangka bangunan tua. Ada pintu yang terbuka. Ada suara daun yang jatuh. Ada bunyi burung dari dalam papan tulis yang retak. Dan mungkin, jika kau diam cukup lama, kau bisa mendengar suara telinga ketiga Dilma, jejak tanda koma Pieng, dan pintu Merbou yang terus terbuka—di mana pelajaran tidak pernah selesai ditulis.

Ayam Yang Tak Mau Mati

Di sebuah desa yang tak lagi disebut dalam peta, tinggal seekor ayam jantan bernama Sora. Ia bukan ayam sembarang, bukan pula ayam aduan atau ayam cemani. Ia ayam biasa, bulu cokelat kusam, jenggernya menggelantung lemas seperti bendera setengah tiang. Yang luar biasa darinya cuma satu: ia bisa berpikir.

Sora tinggal di tengah sawah yang dulu subur, kini mengering. Rumput menguning seperti mulut orang tua yang lupa minum. Lalat pun ogah mampir. Pernah suatu waktu Sora bicara sendiri, “Kalau sawah sudah mati, apa gunanya hidup?” Tapi ia tak mati juga. Ia terlanjur terikat pada dunia ini seperti tali tambang pada tiang jemuran. Setiap pagi ia berkokok, bukan karena fajar, tapi karena kebiasaan. Tak ada lagi yang mendengar selain angin dan seonggok karung pupuk yang tertiup pelan.

Dulu, sebelum matahari seperti bola lampu yang korslet, desa ini hidup dengan irama musim. Ada perempuan bernama Ima, gadis desa yang setiap sore mencuci kaki di selokan, menanak nasi dari beras yang ia tanam sendiri, dan memelihara Sora sejak masih anak ayam. Ima bersahaja. Ia percaya pada pepatah, pada langit, pada angin. Tapi itu dulu.

Ketika perusahaan-perusahaan mulai membeli tanah sawah dengan harga dua kali lipat nilai moral, banyak yang menjual. Ima marah, tapi ayahnya justru tertawa, “Lebih baik sawah kering dibeli orang, daripada kering tanpa guna,” katanya, sambil mengunyah sirih. Ima menangis diam-diam, sambil menggendong Sora.

Lalu ia pindah ke kota.

Di kota, Ima bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah seorang pejabat kementerian lingkungan hidup. Ironis, ya? Tapi hidup memang suka bercanda. Majikannya, Bu Lestari, selalu berbicara soal ‘sustainability’ dengan artikulasi seperti presentasi PowerPoint: Green economy, carbon offset, eco-lifestyle. Di meja makan, Bu Lestari memarahi Ima karena plastik pembungkus tempe tidak digulung rapi. Tapi di pesta ulang tahun anaknya, mereka menyewa dekorasi balon satu truk penuh.

“Sampah itu masalah rakyat, bukan elite,” kata Pak Raka, suaminya, seorang pejabat yang suka sekali menyebut kata ‘konservasi’ sembari menyiram rumput sintetis di taman mereka. Ima mengangguk saja. Dalam hatinya, ia rindu tanah yang basah, suara kodok, dan ayam jantannya.

Sora tetap tinggal di desa. Ia melihat traktor datang, menggusur pohon pisang dan rumpun bambu. Ia menyaksikan ladang menjadi kompleks vila.  Sawah berubah jadi lapangan parkir. Tapi ia tak bisa lari. Ia sudah tua. Sayapnya lemah. Ia cuma bisa menatap langit sambil mengingat Ima.Suatu malam, seorang guru ngaji tua lewat depan sawah, membawa kitab dan lentera. Ia melihat Sora dan berhenti.

“Kau masih hidup, ayam?” katanya.

Sora memiringkan kepala. Ia tidak bicara, tentu saja. Ia ayam. Tapi ia mengerti.

“Kau tahu,” lanjut guru itu, “dulu Nabi Sulaiman bisa bicara pada binatang. Tapi sekarang manusia bahkan tak bisa mendengar bumi sendiri menangis.”

Guru itu tertawa pendek. Lalu bersabda entah kepada siapa, “Keseimbangan alam itu amanah. Tapi kita mengkhianatinya demi pendingin ruangan dan gengsi perkotaan.”

Lalu ia pergi, ditelan kabut malam yang membawa bau plastik terbakar.

Suatu hari, Ima pulang kampung. Bukan karena rindu. Tapi karena ayahnya meninggal dan tanah rumah hendak dijual. Ia berjalan melewati jalan desa yang kini berdebu seperti roti basi. Truk-truk proyek lewat membawa batu dan semen. Ia melihat Sora duduk di bawah bayangan bangunan setengah jadi. Ayam tua itu tampak kurus, tapi masih hidup. Ima terisak. Ia mengangkat Sora, memeluknya.

“Kau tidak mati?”

Sora mematuk pelan tangannya, seolah berkata: “Kau juga belum.”

Malam itu, Ima tidak tidur. Ia duduk di beranda rumah peninggalan ayahnya, menatap bulan yang tampak seperti lampion murung. Ia berpikir tentang semua: tentang sawah, tentang kota, tentang plastik yang tak pernah hancur, dan tentang anak-anak pejabat yang membeli air dalam botol kaca demi konten Instagram. Bumi adalah rumah, tapi mereka mendekornya seperti tempat pesta lalu pergi meninggalkan sampah.

Esoknya, Ima membuat keputusan aneh. Ia tidak kembali ke kota. Ia membeli bibit, menggali tanah dengan tangan. Ia menanam padi di sawah yang setengah mati. Orang-orang menganggapnya gila. Beberapa bulan berlalu. Ima tetap menanam, sendiri. Tak ada yang membantunya, kecuali Sora yang sesekali mencakar tanah lalu tidur di bawah bayangan caping. Sawahnya mulai menghijau, meskipun tipis. Orang-orang yang tadinya mencibir kini hanya diam dari jauh, menonton seperti menonton ayam sabung—penasaran siapa yang kalah duluan: Ima atau tanah.

Suatu pagi, datang mobil mewah ke desa. Platnya seperti kode rahasia dari langit ibu kota. Turunlah sekeluarga pejabat lengkap: sang ayah pejabat kementerian, sang ibu aktivis lingkungan sekaligus influencer, dan anak gadis mereka yang tampak seperti hasil digitalisasi estetika. Ima mengenali mereka, keluarga tempatnya dulu bekerja.

“Ima? Ini kamu?” kata Bu Lestari, mengenakan kacamata hitam besar yang memantulkan wajah sawah. Ima mengangguk. Tangannya penuh lumpur. Di belakangnya, Sora mengamati dari jauh, seperti seorang satpam spiritual.

 

Pak Raka turun sambil menutupi hidung. “Masih bau lumpur ya tempat ini. Tapi… kami tertarik. Kementerian ingin mengembangkan Eco-Tourism. Sawah kamu bisa jadi pilot project. Kami bangun homestay. Wisata edukatif. Sesi panen selfie. Kamu tinggal bagi hasil.”

Ima hanya menatap mereka. Lama.

“Tanah ini bukan tempat selfie,” katanya, “Ini tempat sembuh.”

Laut di Telingaku

 

Ibu, ibu, ibu, mengapa di kupingku selalu ada suara gemuruh air bergulung?”

“Gemuruh? Gemuruh seperti apa, Nak?”

“Seperti pertama kali Ibu membawaku ke Wohkudu.”

“Maksudmu seperti suara ombak?”

“Nah iya, seperti itu.”

“Kapan pertama kali kamu menyadarinya?”

“Beberapa minggu lalu. Aku bermimpi juga dihujani pasir-pasir, berwarna merah muda, coklat kemudaan. Malam setelahnya aku juga bermimpi tuts-tuts piano kamarku beterbangan mengelilingi wajahku.”

“Hmm.. mimpimu absurd sekali..”

“Ibu mengerti?”

“Tidak. Tapi kakekmu pernah bermimpi seperti itu juga. Diceritakannya berulang-ulang kepada kami, anak-anaknya, dan cucu-cucunya. Ibu lupa cerita kepadamu karena Ibu rasa ini tidak penting.”

 

***

 

Lima tahun sejak percakapan petang di hari Kamis itu. Telingaku tidak sama lagi. Setiap hari aku harus hidup dengan telinga yang bergemuruh, aku tinggal di kota besar, tetapi seakan-akan kamarku langsung menghadap samudera. Ibu juga telah membawaku ke dokter—dokter umum, dokter spesialis, cenayang, tabib, usada. Sebutlah semua penjuru pengobatan, namun semua tidak punya jawabannya. Jika kalian membayangkan seperti white noise yang berdampak pada menurunnya kepekaan pendengaranku, bukan. Bukan seperti itu. Aku mencoba mendefinisikan sedetail mungkin kepada orang-orang. Sederhananya, Aku seperti membawa laut kemanapun. Di dalam busway, ketika lari di GBK, ketika gereja, bahkan ketika mandi. Seolah-olah jalur busway, running track GBK, barisan kursi ibadah jemaat dan shower kamar mandiku terletak sejajar dengan bibir pantai.

 

Maka sejak saat itupula, ketika aku sudah bisa berdamai dengan suara gemuruh, Aku kerap mendatangi bibir-bibir laut. Tidak pernah ada jam pasti untuk mengunjungi. Mau tengah malam sekalipun, laut selalu menerimaku dengan senyum dan tentu saja, nasihat. 



(Aku selalu merawat pertemuanku dengan laut walau telingaku hampir berdarah,  karena Ia tak pernah menutup mulutnya ketika Aku datang menjenguk. Ada saja nasihatnya, dari penampilan, finansial, percintaan, bahkan spiritual. Kupikir, ketika Laut sedang sibuk, dan Aku menyempatkan berkunjung, Ia akan dalam kondisi tidak mood dan menemaniku dalam hening saja. Oh ternyata tidak, lewat angin, burung, atau perahu-perahu nelayan, Ia menyampaikan nasihat-nasihatnya. Tidak peduli Aku datang dalam kondisi bahagia, patah, gamang atau sumringah. Selalu saja ada celoteh.)

  

 

 

 

Monday, February 8, 2016

Makan Malam dan Setelahnya.

Mungkin kita bisa bersama. Tapi nanti.
Di sini?
Tidak. Tidak di sini.
Kenapa?
...
Kau terkekeh. ''Malu oleh waktu.''
 ''Malu oleh hingar bingar yang ada. Nanti kita ditertawakan''.
 ''Bukan masalah." Matamu mengubah pandangan.
 Mataku mengkail matamu, aku mendekat.
 "Sibuk sekali, sih? Sudah hampir lima jam kamu diam di depan sana. Punggungmu pegal nanti."
 Matamu masih melurus ke depan. "Ya kan ada kamu."
 "Mentang-mentang, ya." Senyummu terkembang.
 Kucium tengkukmu dari belakang. "Take some time off."
 "Kan, aku diomeli lagi. Makan saja, yuk." bibirmu cemberut.
 "Makan apa malam ini?"
 "Pancake?"
 Kau mematikan laptop. "Dua tangkup dengan nutella dan mapple?"
  "Boleh. Aku lapar sekali... Tapi...mengantuk." setelahmu mematikan rokok,
 "Tidurlah sebentar kalau begitu. I’ll come wake you when it’s ready, okay?"
 Keningku diciummu. "Terima kasih, babyboo."
 Kali ini senyummku terkembang.

We can be miracles, 
we can be the ones..

"Oh sayang! Dan kopi. Kali ini sedikit pekat." Berjalan ke ruang tengah, Kau bersahut.
Sedang...Sedang kubuat. Tanpamu perlu meminta, secangkirmu takkan kulewat.
Kau melepas dua kancing kemeja, menata dua bantal kecil di sofa. Lampunya kau redupkan, lantas menyalakan perapian. Setelah melepas kacamata dan menaruhnya di nakas. Kau merebah, kemudian memejam kedua mata.

Entah sampai kapan kebersamaan ini sampai pada ujungnya. Entah di mana kami akan bermuara. Mungkin tersampir pada kenyataan berdua harus melipir, atau mungkin terhanyut pada gelombang selanjutnya, yang membawa pada laut lepas. Itu berarti, masih kamu yang menjadi nahkoda dan ini hanya dermaga sementara. Semoga.

Wangi pancake hangat di atas meja tidak seraya membangunkan kamu ternyata. Rupanya kamu benar lelah. Segan jadinya aku membangunkan. Kuperhatikan kamu sejenak. Bulu matamu yang lentiknya melebihiku, dilindung alis lengkung halus. Jari telunjukku menelusur lengan hingga wajahmu. Bibirmu tipis kukecup. Lalu kunyalakan lampu yang sedikit meredup. Naik turun napasmu tenang terdengar. Sadar, kau terbangun perlahan. Mata yang jarang tidur itu memendar sebentar.

"Sudah jadi, sayang?"
Hanya dengan senyum ku membalas. Tanganku menggamit pergelangan
Kepalaku mengangguk. 

Lantas, kau dan aku menuju ruang makan. Dua gelas di samping piringmu kutuang. Malam tidak pernah terasa kosong dan sunyi, walau isi apartemen ini hanya kami. Banyak tawa dan diskusi-diskusi kecil yang mewarnai. Seperti malam ini, empat tangkup pancake berukuran besar habis juga oleh berdua. 

Hingga kemudian, seperti yang sudah-sudah, dering telepon selalu memotong pembicaraan. Aku  terburu-buru dari kursi, mengangkat telepon dan berjalan ke arah jendela. Kulihat sisa embun meruapkan basah di sebagian lempeng kaca jendela saat kau juga mendengarkan dengan syahdu suara di seberang.

 Dari ibuku.
''...Kamu baik-baik saja di sana? Sedang winter banyak makan buah ya, Nak! Kuliah lancar? Eh, ada yang mau mami kenalkan sama kamu. Anaknya Om Dewo, temannya Papa itu lho, kamu ingat, kan?''

Hebatnya, kamu hanya memberi kedua mata jahil itu, seperti... ''ayo-coba-silahkan-saja-tante." yang selalu berhasil membuatku tertawa kecil. Setelah telepon kumatikan, aku menumpuk piring kotor dan membawanya ke dapur.
"Biasa, Ibu." kataku datar sambil mengambil sabun pencuci dan membusakannya.
Kau mengikutiku.  
"I know..."
..Kamu takut?"
Kedua lengan kau lingkarkan di pinggulku. Kali ini, erat sekali.
"Kan kamu, menantu barunya.."
Dapur mendadak hening. Tinggal sunyi yang menahan senyumku sendiri.

We can be miracles..

Mungkin kita bisa bersama. Tapi nanti.
Di sini?
Tidak. Tidak di sini.
Kenapa?
Lebih tepatnya,
 tidak sekarang. 

Tak ada yang tahu, bahwa berdua, kami benar-benar menyelam di kerak kepiluan, atau lebih dalam lagi. Kau dan aku justru menyimpan cinta yang tak terkata.


weheartit.com

Friday, November 27, 2015

Semoga Rindu Membawamu Lagi Padaku

Kabut belum turun sore itu. Hutan belakang rumahnya menyejuk. Beberapa jam yang lalu, hujan mengguyur kota. Si perempuan lantas berlari keluar kamar. Sedari kecil, Ia memang menyenangi hujan. Rambut panjangnya kuyup mengikal. Bertelanjang kaki kemudian menari memutar-mutar. Melepas jaket, Si Perempuan anteng berloncatan, di antara kubangan-kubangan. Menunggu jadi gerimis, lantas Ia duduk di tepian.

Perempuan itu mengubah posisi tubuh. Ia menyilang dan memasukkan kedua kaki ke air. Sungai di depannya beriak-riak. Bebatuan memecah arusnya menjadi kecil-kecil.


Ingatan si Perempuan memilah satu kenangan.

***

Aku jangan ditunggu. Kembaliku mungkin masih cukup lama.
Ingat kata Ayahmu, cari laki-laki itu  yang mapan, yang bisa beri kamu kesenangan. Jangan lihat aku terus. Malu-maluin kamu dan keluargamu..., Si Lelaki merunduk, melanjutkan,
...lagipula aku belum bisa kasih kamu apa-apa. Mungkin iya setahun ini kamu tidak bakal uring-uringan melulu aku ajak jalan-jalan naik motor. Tiga atau empat tahun nanti? Siapa yang tahu kamu membatin? Siapa tahu kamu mengharap bisa duduk di jok empuk mobil besar yang bisa terbuka atapnya? Untuk sekarang, aku tidak bisa kasih itu, Mar. Uangku habis untuk biaya daftar ulang universitas. Jauh dari bisa memberimu hadiah semisal gincu, atau tas.
Lelaki itu seolah-olah berpidato. 
Si Perempuan, Ia tidak menjawab barang satu patah. 

Mara, kamu dengarkan aku, tidak? Realistis saja lah. Kamu itu cantik. Di sini, siapa yang tidak mau sama kamu, sih? Sering aku ditanya, pakai pelet apa lah, kenapa kamu bisa sebegitu kepincutnya lah, sampai dukun mana yang aku gunakan untuk bisa mendapatkan kamu...

Padahal yang ada malah aku. Aku yang ingin sekali dilamar kamu... Perempuan dalam hati.

Ia memainkan ujung rambutnya dengan tertunduk. Si Perempuan menahan kekata di ujung lidah, membiarkannya tak terucap. Bingung dan kecewa cukup membuat hatinya megap-megap. Dipeluknya Si Lelaki. Tangannya lantas mengerat di bongkah kedua bahu. Pun tidak ada tetes mata yang jatuh, padahal ini adalah perpisahan. Entah sementara atau selamanya, ternyata.

Mar, saya cinta sama kamu. Tapi keadaan sekarang buat saya jadi kecil hati. Kamu tak usah khawatir, kalau memang Gusti beri izin untuk saya dan kamu. Nanti juga diberi, direstui.

Si Perempuan menjinjit, jempol kakinya menekan tanah basah. Diciumnya kening si Lelaki. Lama, Ia menumpahkan semua. Rela melepas pergi Lelaki demi mimpi-mimpi. Rentetan kalimat yang telah dirapikan malah hilang menguap.Si Perempuan tersenyum, walau rasanya pahit. Ia tahu, sulit bagi Lelaki untuk mengutarakan, mengambil keputusan yang jauh dari membahagiakan.


 ***

Seekor burung gereja kecil yang hinggap tepat di ujung tangan, menyadarkan Si Perempuan dari lamunan. Ia memandang jauh ke arah senja yang cepat menggelap. Mengapa perasaan ini tidak pernah sampai hingga tepinya. Mengapa semua yang datang meminang, Ia tolak dan kembali pulang. Mengapa hiruk pikuk kota tempatnya melanjutkan pendidikan, tidak menghilangkan Si Lelaki dari ingatan. Mengapa memori-memori yang kian mengusang, tidak juga membuyar.

Masih,
Pada lelaki itu, Ia besar harap.

Aku menunggu kau pulang. Aku menunggu rindu membawamu datang.
Dan semoga, waktu menjadi restu.
Aku menunggu takdir mengikat,
kamu dan aku.

November 2015.
weheartit.com

Monday, August 31, 2015

Lagi, Pada Suatu Pagi.

Berdua kita di balkon. Pada pagi itu kau menyeruput kopimu lebih tergesa dari biasanya. Aku beranjak dari kursi sofa, menyenderkan lenganku ke sudut satunya. Laut mungkin sedang biru muda. Empat atau lima menit sesudahnya, aku menunggu mereka nampak terlihat. Sekawanan lumba-lumba berloncatan di tengah air tenang.  

Sebelum kau semprotkan lotion anti serangga ke kedua lengan, kau mengambil satu dari tiga tangkup roti yang kubuat. Memakannya dengan lahap. Nyala ponsel menarik matamu perhatian. Pasti urusan kerjaan. Melihat keningku yang mengernyit, kau menghampiri aku.

Nggak bosan lihatnya?”

Aku tersenyum. 

Mahal lho lihat yang kayak gini. Minggu depan kan, kita harus sudah di Jakarta lagi.

“Iya juga, ya.”

Kau melingkarkan lengan ke pinggangku. Menaruh dagumu di pundak kanan. Pelukmu erat melekat. Matamu ikut mataku yang menyimak batas langit. Kau mendongak kecil. Bisa kurasakan lembur-lemburmu, laporan-laporan dan tekanan dari Pejambon nomor enam yang padahal tidak pernah sepenuhnya kau ceritakan. Tapi begitulah caramu membagi. Dengan pasti, aku juga akan segera mengetahui. Dengan tidak aku berkata dan tanpaku harus bicara, resahmu menguap. 
Aku menggenggam tanganmu erat dan mencium pipimu tipis. Bibirmu menyungging senyum. Tatapan 'semua-akan-baik-baik-saja'-ku akhirnya menenangkanmu.  

“Abbi, I want to swim in the open sea among the dolphins… Just once.” 

Dengan piyama biru, botol dot di tangan, dan langkah kaki yang kecil-kecil, tetiba Ia keluar berjalan. Pantatnya naik turun keberatan oleh popok. Meminta dipangku.

Seraya melepas pinggangku, kamu menggamit tangannya, bertiga wajah kita mengarah ke kuning cakrawala.
Menolehlah aku, "Selamat pagi, sayang."
Yang aku sapa malah sibuk memerhatikan pasang-surut ombak, dan menghabiskan setengah botol susu, di tengah-tengah kita. 

“Lihat! Lihat! One..two..three..four.." Menghitung lumba-lumba, telunjuknya mengarah ke lautan lepas.  Aku dan kamu  tertawa. Pipi kalian memerah tomat.

Kau menciumi ubun-ubunnya dan terkekeh. Kemudian, Ia menolehkan wajahnya ke arahku.  Senyum mungilnya lebar sekali. 
Matahari membuat coklat matanya (yang matamu)
menjadi semakin terang.



Setelahnya, terdengar serupa deru yang sederhana.
2015.




Wednesday, April 1, 2015

I'll tell you one thing, It's always better when we're together.

 Akhirnya  tiba satu waktu, lengan ini menggamit lenganmu.
Aku akan menemanimu. kubilang. Aku berjanji.

Perjalananku jauh dan lama. Nanti kamu haus kering. Sanggupkah kedua langkah kaki mungil itu terus mengiring? Ketika kau ragu, alismu naik dan mengerling.

Bagiku, menemani seseorang yang berjuang demi masa depan adalah kebanggaan.  Aku tahu persis yang aku butuhkan bukanlah bahagia instan. Aku bisa jadi kawan. Karena dengan itu, kita bisa memudahkan kekecewaan yang dihadirkan oleh kenyataan. Aku memercayakan hidupku kepadamu juga karena aku yakin akan baik berjalan. Aku ingin jadi yang menghidupkan, ketika api di matamu padam karena sandungan masa depan. Bahwa cita-citaku dan cita-citamu yang telah direncanakan tidaklah kemana-mana. Aku juga bukan pasangan yang bisa memberimu segalanya, aku jauh dari sempurna. Namun aku akan terus memberikan yang terbaik. Tapi kau tahu, ketika kau merasa lelah untuk membangun, tengoklah. Ada aku, perempuan yang kau sanding. Aku yang akan terus menguatkanmu dari samping. Aku tidak mau melihat mimpimu jatuh dari langit.

Tidak ada salah satu dari kita menawar kesempurnaan. Kita berdua didekatkan, juga satu paket dengan masing-masing kekurangan. Tidak bisa pula kuberjanji untuk terus senyum dan sabar menahan amarah nanti. Untuk terus-terusan tidak cemburu dan egois. Untuk tidak meledak dan menahan tangis. Justru disitulah kau hadir dan mencontohkan. Dewasamu jauh dibanding aku.  Bersyukur aku denganmu yang sulit naik pitam. 

Tidak ada salah satu dari kita dapat memastikan jalan mulus tanpa gangguan. Siapa yang berani jamin, jika di depan tidak akan ada pertengkaran? Bagaimana jika di tengah nanti kau uring-uringan?
Ragumu datang sesekali.  Kalau nanti akan pergi, tutup pintunya pelan. Dengan hati-hati.
 Sengaja aku buat rumah tidak berpintu. Aku nyaman di sini, lantas mengapa harus kucari tempat tinggal baru? Kamu tempat aku pulang. Kau ragu karena kau tak bisa mendengar doa yang kurapal berulang-ulang.

Mari berdoa dan sama-sama belajar. Toh merencanakan masa depan tidaklah makan waktu yang sebentar. Mari berdoa dan sama-sama belajar. Agar berdua kita melihat, ini adalah suatu yang layak diperjuangkan, adalah cinta yang menggenapkan. Semoga kamu melihat bahwa aku memberikan semua ini secara utuh. Semoga Tuhan mendekatkan, untuk tidak berkesudahan. Aku berniat dan Ia sudah pasti tahu. Aku ingin memeliharamu dengan kasih sayang. Seperti bentuk cintaNya selama duapuluh satu tahun ini untukku.


photo: @rigaaaa/rigaramadhan

Hingga akhirnya kita,
memahami kita.
 Hingga dengan hati-hati, kamu dan aku akan saling mengerti
bahwa lebih baik bersama kamu, apapun yang terjadi.
2015.

Thursday, March 5, 2015

Andai Matamu, Melihat Aku II

Untukmu, aku tidak bisa menjadi seorang pujangga. Sungguh. Tidak pernah kuperhitungkan akan lahir berpuluh lembar puisi cinta dengan kau jadi objeknya. 
Apalagi, aku tidak mengenalmu sebentar.

Andai matamu, melihat aku,
terungkap semua isi hatiku...

Terungkap? 
Kau sudah tahu semuanya. Aku anggap.

Tanpa perlu aku berkata apa-apa. Tanpa perlu aku jelaskan bagaimana. Karena memang sederhana adanya. Tanpa kau tahu, aku akan tetap sama dalam setiap suasana. 
Tidak peduli mau kau percaya atau tidak. Karena ini tentang hati yang tidak sembarang tergeletak. 

Misal, ketika kau mulai bercerita tentang apa yang akan dilakukan untuk menata hidup. Kau berbicara dengan mata yang  tidak pernah redup. Turut aku ingin menjadi seorang yang menjaga semangatmu untuk terus meletup-letup.
Kau seharusnya sadar, aku cukup bernyali.

Lalu, sesaat setelah aku sarapan dan tidak lupa membuatkannya untukmu. Dua tangkup roti bersaus daging spaghetti. Membawa dan memastikan bahwa kau menghabiskannya hingga perutmu terisi.
Kau seharusnya sadar, aku cukup bernyali.

Dan setelahnya, kau berjemur di bawah matahari. Angin pagi membuat rambutmu berantakan. Suatu pemandangan yang jarang sekali. Karena kau selalu memastikan bahwa sisir membuatnya rapi. Lantas aku memerhatikanmu yang seperti bayi. 
Kau seharusnya sadar, aku cukup bernyali.

Pun ketika malam. Kau tertidur pulas dan selimutmu sedikit lepas, aku menoleh sekilas dan membetulkannya. (Kemudian sesaat setelahnya kukecup dahimu pelan-pelan)
Karena jika tak lekas, mungkin kau akan kedinginan dan ketika esok kau terbangun, perutmu sakit dan mulas-mulas.
Kau seharusnya sadar, aku cukup bernyali.

Ditambah, kau seorang pemerhati. Komentarmu tentang parfumku yang wanginya tak sama lagi, atau sekedar bertanya minuman apa yang kubawa karena beraroma melati, atau ketika kau mengelus pipiku dengan hati-hati ketika aku masih setengah bangun dari mimpi. Itu semua membuat aku tersanjung sendiri.
Kau seharusnya sadar, aku cukup bernyali.

Sekalipun sekeras tenaga kucoba diam-diam menutupi, tiap kau dicemoohi dengan beberapa perempuan, lantas kemudian aku berlindung dengan malah ikut-ikutan…
Kau seharusnya sadar, aku cukup bernyali.

  
“Sekacau itukah?”
Wajahmu memerah dengan mudah. Sama seperti perasaan ini, 
(yang sialnya) semakin membuat betah.

Aku kerasan menatap kedua matamu yang coklat,
lekat-lekat.



2015

Thursday, January 8, 2015

Tentang Liku yang Meluka

Ia kehilangan dia. Cukup sulit bagi Ia kehilangan dia yang telah beberapa tahun menemaninya bersama-sama. Pagi malam, tenang kelam, bahagia muram. Ia telah dijanjikan banyak oleh dia ketika cinta masih berjalan dengan mereka. Cinta seolah menjadi payung Ia dan dia kemanapun  melangkah. Sederas apapun hujan turun, sekencang apapun angin yang terbang-terbang, Ia dan dia selalu melanjutkan perjalanan.

Dia berkata kepada Ia untuk terus ada. Berjanji jika usia tidak lagi bisa berlanjut karena renta, bahkan dia akan merajut jiwa untuknya. 
Cinta seolah menjadi atasnama. 
Segala yang Ia korbankan, 
dilakukan demi cinta. 
Semua yang dirasa perih oleh dia, 
dia lakukan untuk Ia. 
Dia berkata kepada Ia untuk terus ada. Tidak perlu bertanya apa yang diingin, seolah semua disetel serba bisa dan serba mudah. Apa-apa untuk dia. Mungkin ini semacam kisah cinta 'aku rela mati karenanya'.  

Hingga suatu waktu, ada yang terjadi ketika Ia meminta dia untuk menemaninya pergi ke tempat biasa mereka berdua menonton sajak. Selalu, di tangan Ia ada eskrim vanilla yang sedikit leyur. Kuceritakan di sini, Ia adalah penyair. Maka dia juga sering meminta Ia untuk berdiri dan sedikit menyumbang membacakan bait-bait Sapardi atau Sutardji. Setelahnya, Dia tersenyum lama. Menggamit tangan Ia dan kembali pulang.

Namun kali itu, entah apa yang terjadi. Senyum dia kandas. Selama-lamanya.
Ia menjadi merasa nelangsa. Dia tak lagi bangga pada Ia.
Hingga suatu waktu, mereka menyayat jalur-jalur darah. 
Dia salah.
Ia lelah.

menyerah.

Mungkin dia berharap cinta seperti satu kalimat puisi yang tidak berima dan tidak banyak meminta. Mungkin dia menginginkan Ia menjadikannya sejiwa yang tidak harus memberikan apa-apa. Lah, namanya juga cinta, kata Ia. Pasti ada pengorbanan yang satu paket diberi. Hanya sebubuh dua bubuh. Ia tidak meminta dia memberikan sekujur tubuh, namun dia malah menciptakan api, Dia mencuram dan kemudian menikung. Tajam.

Singkat cerita Ia dan dia tidak lagi bersama. Perpisahan yang membuat Ia jerit-jerit sendiri. Kepalanya semrawut. Tingkahnya makin menjadi-jadi. Tiap malam Ia tidur dan meracau di tumpukan buku-buku tua depan perapian. Ia tendang pintu, Ia pecahkan kaca lampu. Terkadang. Matahari pagi malah mengoyak otak. Mengisinya dengan remah-remah ingatan yang merembes lewat jendela. 

Dan dia memang menghilang begitu saja. Terdengar kabar telah kawin dengan wanita kampung sebelah, bahagia.

Ia meminta pada siapapun yang bisa, untuk membersihkan luka yang kiranya meranggas. Pada tiap celah-celahnya, ada lecet-lecet kecil yang minta obat. Sayatannya meggurat-gurat, jika kau bisa lihat. Pada napas yang telah berbunyi raung, pada malam yang goyah dan terus gelisah, Ia masuk ke relung. Bersembunyi dari tamu-tamu yang mencoba datang dan menawarkan hidup yang berbinar-binar. 

Bahkan beberapa temannya akhirnya datang menghampiri. Masuk ke rumahnya pun susah sekali. Mengetuk tubuhnya agar bibir itu nampak sesungging senyum. Kerjaan Ia menjadi keluar masuk pesta. Ia mencoba memintal sendiri robeknya jelujur demi jelujur. 

Malam berganti beberapa windu, Bunga-bunga dari musim salju telah berperdu.

Angin berjalan-jalan, berpapasanlah dengan Ia yang masih menyangkar. Ia hanya melengos ke atas. Mukanya mendongak ke cakrawala. Angit melihat jiwa Ia yang nanar. Karena enggan bertanya, Angin penasaran dan tidak bisa lelap. Angin  menghampiri Langit Senja dan Hujan Malam yang sedang pacaran di atas kuburan.

"Masih betah Ia. mengapa tidak kunjung keluar saja? Kerjaannya hanya melamun. Lama-lama bisa tidak waras. Kasihan, cantik itu paras. Apalagi jika lukanya mengekal. Kalian tahu, tadi saat kubertemu, dari matanya masih juga keluar air yang tak kunjung henti. Merembes ke bajunya, ke lipatan-lipatan rok. ke tanah, ke rumput... kemudian menggenangi jalanan. Bahaya, bisa banjir satu kota. Di tangannya, memegang hati yang ia peras sendiri. Kemudian darahnya masuk ke cawan yang Ia pegang di tangan kiri. Jika aku berani iseng menggoda bertanya, apakah manusia memang payah soal ditinggalkan?"

Mendengar cerita, senja dan hujan berhenti berpojokan. Mereka seksama. Sayup-sayup menjawab, bersamaan.

Dia mengeruk perihnya keterlaluan, begitu yang kami dengar.
"Mungkin terlalu dalam"


Beberapa jam setelahnya, Ia lewat. Melihat Langit Senja dan Hujan Malam bercumbu mesra. Angin menatap mata Ia nanar. Sampailah ke telinga Ia beberapa kalimat rayu yang Langit Senja dan Hujan Malam lontar.
Tubuhnya seketika limbung, badannya bilur-bilur.
Beberapa detik setelahnya,
Ia muntah.
Anggurdarah.
Januari 2014

Wednesday, December 17, 2014

Catatan Desember

Langit Bandung akhir ini tergantung-gantung. Sama seperti udaranya yang dingin dan panas sekaligus. Mendung yang nanggung. Tetapi seminggu ini, sore sering tenang. 

Seperti biasa. Birunya masih membuatku betah menatap lama. Sebelum senja. Sebelum lapang penuh motor-motor mesum. Di padang ilalang ini aku kembali berbaring. Di tengah-tengah daun yang menguning. Suara angin menyisir rumput-rumput tinggi sekeliling. Banyak dandelion yang rekah. Mahkotanya terbang-terbang. Oranye awan sedang berkilapan. Ternyata ini juga tentang memoar yang kian usang.

Aku menunggu kamu datang. Di antara. Di antara mega yang merah, di antara sengat yang mengerubut. Awan pelan-pelan hilang. Menjadi nila, menjadi jingga, menggelap.

Aku menunggu kamu datang. Di antara.
Sampai kapan?
Tak usah direka, pula jangan diterka. Entah. 

Sunday, November 9, 2014

Sesaat Setelah Hujan

Mendung yang sedari siang telah ada, tidak membuatku kaget akan datangnya hujan besar di senja. Ia menutup siang. Menemani matahari kembali ke peraduan. Dengan tirai-tirai air.

Sederhananya seperti itu.

Aku bercerita pada hujan yang jatuh sekarang. Katanya, jangan khawatir. Hujan pun ada berhenti, setelahnya muncul matahari, atau mungkin, pelangi.

Seperti hidup, siklusnya pun berganti-ganti. 
Dan apapun musimnya, aku ingin berdua denganmu, menikmati.


Friday, October 3, 2014

Mengagumimu dari Jauh II

Menyukaimu sama seperti aku menyukai sore hari yang tenang. Diam di pojokan art gallery. Sendirian. Menurut orang pecinta keramaian, untuk apa senang dalam kesunyian. 

Tapi begitulah, karena kamu yang ‘tenang dan kadang menghilang’  itu, maka aku suka. 

Menyukaimu sama seperti aku menyukai malam lepas senja, dan lampu-lampu pinggir jalan mulai menyala- aku memperlambat jalan. Menyukaimu itu buram. Buraman itu mengantar antara tergoda dan tergetar. Kala penyair bersimpul bahwa tergoda adalah awal aku tertarik padanya, sedang tergetar adalah ketika kau telah terlibat atasku… –entahlah, yang jelas melihatmu tersenyum, akan membuat bibirku juga tersenyum.

Tapi begitulah, melihat pipimu memerah, juga membuat pipiku ikut-ikutan merona.

Bahkan menyukaimu membuatku lebih senang diam membatu, lantas melamun. Bukannya menuliskan semua dalam kertas dan pena. Itu karena aku terlalu menikmati menyukaimu dalam diam. Hingga menjelaskannya pada pena dan kertas pun-aku tak sudi. Padahal kata penyair, banyak yang dapat dieksplorasi dari rasa jatuh-cinta. Karena ketika kau menjadi orang yang sedang kasmaran karenanya, kau bisa jadi pujangga kelas dunia. 
Katanya.

Tapi begitulah, untuk yang satu ini. Aku tidak mau berbagi.

Aku menikmati tiap riak-riak perasaan. Ingin rasanya kudekap jantungku sendiri. Ia melincah ketika kau lewat. Gawat. Ia memberikan kejutan-kejutan bagi tubuhku yang lain. Aku makin menikmati ketika semua orang memanggilku penakut bahkan pengecut.

Tapi begitulah, menyukaimu diam-diam jauh lebih indah. 

Ternyata. 

Dikatakan atau tidak dikatakan, itu tetap cinta...


*terima kasih Tulus - Mengagumi dari Jauh yang diputar berulang-ulang. Hingga laptop ini menjadi panas.

Friday, September 26, 2014

Dari Jauh I

Cukup bagiku hanya memerhatikannya. Ketika Ia tertawa, ketika Ia memicingkan mata, kemudian mengambil pena dan kembali menulis. Serius mendengar atau terkadang menjawab pertanyaan-pertanyaan dosen depan kelas. Kakinya tak bisa diam. Mungkin dia kelebihan energi. Tangannya lincah mencatat. Setengah jam kelas berjalan pasti Ia akan menguap, mungkin mengantuk. Rambutnya lantas diikat. Bandung memang membuat gerah akhir-akhir ini. Padahal lokasi kampus lumayan tinggi. Angin sejuknya hanya bertahan sampai pukul sepuluh pagi. Ini kerjaanku di kelas akhir-akhir ini. Kalau kami berpapasan di lorong luar dan mata kami tidak sengaja  bertemu, Ia akan tersenyum sebentar. Rambut panjangnya begoyang-goyang. Setelahnya, aku bersembunyi di kerumunan. Supaya pipi yang memerah ini tidak kelihatan.

“Aku duluan, ya.”
“….Silakan. Hati-hati.”

Hai perempuan, sampai kapan tenggorokan ini hanya berhenti di kalimat tadi?

**

Untuk orang-orang, kawan-kawan yang cintanya terlalu betah disembunyikan dan terlalu malu dikatakan. Terkadang, perasaan terlalu indah untuk diendapkan...

Thursday, July 10, 2014

Alasan Mengapa Aku Menyukai Petang

Ada beberapa belas menit sebelum matahari tenggelam, sebelum Ia kembali tidur dalam senja,
di mana matahari bermain-main, dengan tenaganya yang akhir.. Kemudian bercerita menumpah celoteh pada awan-awan kuning keemasan, tentang apa saja yang telah dilihatnya seharian penuh. 

Menuju pukul satu siang misalnya, matahari berpapasan dengan burung, dengan pepohonan, dengan serigala, dengan manusia-manusia yang bekerja, yang mencari makan, 
juga seorang wanita. 
Yang sedang tersenyum, 
Kebetulan matahari berlari ke Bandung Utara , (awan-awan masih setia mendengarkan) ;seksama
Kemudian, dalam kisahnya, 
Matahari jahil
Ia mengisi mata-mata, 
wanita diisinya silau saat itu,

Lalu matahari menghela napas karena kelelahan, badannya yang besar membuat napasnya tersendat-sendat, tertunduk Ia di dekat awan-awan oranye; mencari pundak lalu merebah,
sudah saatnya kembali ke rumah; 
kata awan,

Baiklah sudah cukup ku bercerita; 
Ah padahal,

Langit sedang cantik-cantiknya,
Ketika itu,
Ketika Petang.


Wednesday, May 28, 2014

Dermaga

Aku ingin mengangkut hujan dari kaki dewa-dewa

Tak ingin ia dibilang lemah tak juga ia sedang ingin jatuh, Ya. Jatuh pada cinta. Ini minggu kesekian setelahnya lembur di kantor, Merona tidak langsung pulang. Memilih untuk diam di dermaga yang satu arah jalannya ke rumah. Merona gelisah. Gundahnya Indah.

Dan Merona tidaklah tahu, apakah ia bernyanyi, apakah Ia perlu dekat menepi, Apakah Ia bahagia, apa perlu jadi serenada. Merona gelisah. Gundahnya Indah.

Aku ingin mengangkut hujan dari kaki dewa-dewa,

.
di antara doa dan nyanyi itu
derak dayung-dayung gondola mematahkan
sunyinya.

di satu tepi,
Petang tidak menyukai melankoli.
rindu demi rindunya 
mulai bernotasi.

Sunday, January 12, 2014

Setelah Petang Pergi dan Merona Ternyata Tidak Bisa Biasa.

Merona terbangun, Petang terbangun. Merona menyisakan sedikit pertanyaan yang terkepul di asbak meja kerja. Petang terbangun karena turbulensi. Petang kembali ke Bali pukul lima kini. Gerimis merimbun sedikit. Merona senang karena hujan mau bermain-main sampai tempat tinggalnya ini. Petang tidak tahu, Merona dan rasa rindu redup remang untuk disambut. Merona masih disinggahi mimpi. Mimpinya dan Petang lagi.  Merona berharap gerimis mengerti pada siapa rindu ini ditempati. Petang kembali ingat Merona, antara tidur dan terjaga.

And I... I still miss you.

7.
Petang membuat Merona semakin gila. Seharusnya tidak ada harapan apa-apa setelah Merona bertemu Petang. Hanya satu malam biasa dan laki-laki yang tidak istimewa. Malam tidak terlucuti kemarin. Merona berderai tawa di wajah Petang. Juga pada Petang. Jejaknya tidak ingin cepat-cepat hilang. Seolah waktu terselip pada saku kemeja yang pelan-pelan dibuka. Petang membawa bianglala jatuh ke ranjang. Mereka berdua mendekap gigil. Menyurutkan malam dan menghadiahkannya pada Merona. Di kepala Merona ada airterjun yang menjuntai turun. Petang bebas berloncatan, Merona merebah tesengal.   
Merona berharap gerimis mengerti pada siapa rindu ini ditempati.

And I... I still miss you.


8.
Merona Mariana. 
Merona Mariana. Namanya didapat di sampul belakang buku yang menjadi teman Petang minum kopi. Perempuan itu, fotonya sama persis. Iya, itu kau Merona! Perempuan yang tempatnya kusinggahi kemarin malam. Perempuan yang dengan rambut ikalnya menarik aku untuk menyapa meja di ujung sebuah bar ibukota. Merona yang harusnya gampang dilupa. Oh Merona Mariana. Uurusan pekerjaanku di Bali hampir saja hilang nyaris kutinggalkan gegaramu. Penulis rupanya. Cuaca di luar pesawat dan ingatannya tentang Merona, mengantar Petang kembali tidur pulas. Mimpinya kian meluas. Petang kembali ingat Merona, antara tidur dan terjaga.

And I.. I Still miss you

9.
Suatu sore selampir suara Petang di telepon genggam Merona;
Iya katanya, Iya aku akan segera kembali ke kotamu. Walaupun sesak jalannya. Tapi katanya Ia pun sedikit ada memikirkan aku. Untuk bertemu kamu kembali. Tambahnya. Ya sudahlah, Petang. Minggu depan kita bertemu. Akan kuajak kau berjalan-jalan lima atau enam jam lamanya. Mampir ke tempatku, mampir ke waktuku. Lepas kerja. Merona mengakhiri percakapan.
Rerintik kembali mengguyur senja. 
Ia berharap gerimis mengerti pada siapa rindu ini ditempati.

Merona gembira, merona tidak bisa biasa saja.

And I.. I still miss you.

***

Thursday, December 19, 2013

Membelukar (1)

Kenangan-kenangan itu terus tumbuh, menjalar, dulu hanya ada di ujung kepala, sepertinya kenangan-kenangan itu bertunas, tumpukan-tumpukan foto kita yang memupuknya rajin. Adakah sesudut rumah ini yang tidak mengingatkan aku padamu? Seperti sore ini, tunasnya muncul jadi daun, masih hijau segar, satu kelopak daun kenangan mengingatkan wangi napas yang kau embuskan, kelopak yang lain menimbulkan wangi rokok berkhas kau di setiap helanya. Sisa-sisa baju di lemari seperti musim penghujan, setelah tunas itu berdaun, batangnya mulai terlihat dan semakin kuat.
Kemudian tangisku membuat tunas kenangan itu kegirangan, 
Ia semakin cepat tumbuh..

Dan pada saat matahari jatuh di barat, gelap bukan membuat kenangan itu lantas tertidur. Ia bersama kawan-kawan lainnya menciptakan pesta semalam suntuk di otak. Wallpaper ponsel anak-anak yang lupa diganti, seolah-olah menjadi satu shot tequila yang kenangan tenggak. Wajahmu meliar di kepala, suara batuk, teriak hingga tertawamu acap masuk syaraf. 
Lantas aku masuk ke dalam rumah.

Semakin melandai dan akhirnya rata.  
Namun kenangan-kenangan semakin mencuat. Adalah kau yang membetulkan permukaan tanah di halaman belakang hingga akhirnya aku dapat menanam jambu, mangga,  juga manggis. Ingatanku tiba-tiba tumbuh di gundukkan tanah. Ada cangkul yang biasa kau gunakan setiap akhir pekan. Andai kenangan-kenangan itu juga bisa aku kubur dan dimasukkan ke dalam tanah, lalu membiarkannya rata dimakan ulat. 
Sebaliknya, layak akar, kenangan itu terus tumbuh kuat dan menghujam waktu demi waktu sejak kau pergi.

Oktober selalu dingin. Melewati taman, perapian di ruang tengah menunggu untuk dinyalakan.
Setelah bertunas dan mengakar, ingatan kini muncul berbuah dari kayu-kayu yang lambat laun menjadi bara. Kepalaku menjadi hutan rimba, hening di ruang ini membuat suaramu seakan berayun dari pohon-pohon kenangan yang semakin tak berjarak.

Thursday, November 14, 2013

Andai Matamu, Melihat Aku.

Sudah terlalu lama kau menunggu untuk aku sapa, untuk aku mulai bertanya
Karena aku wanita, karena aku tak biasanya jadi yang pertama
Untuk mengungkap,
untuk sekedar mengutarakan rasa yang mengendap

Tadi malam aku memimpikan kamu lagi, mengenakan kemeja yang sama, seperti biasa kancingmu penuh sampai leher atas. Kau tampak seperti bapak-bapak tigapuluh tahun. Namun kau senantiasa mempesona. Mataku selalu ingin melihatmu. Menengok ke mana kau berjalan. Ya, di meja ujung itu lagi.
Kau mengambil kopi, tenggakmu pertama.
Andai matamu, melihat aku.

Setelah itu kau pasti berjalan ke depan kasir, mengambil beberapa koran lokal dan membawanya kembali duduk. Kau mulai membaca, duapuluh menit kemudian, kacamatamu mulai turun, dan kau membenarkannya kembali dengan ujung telunjuk. Kau benar-benar indah karena sederhana.
Kau meraih ujung cangkir, tenggakmu kedua.
Andai matamu, melihat aku.

Terkadang kau batuk-batuk, wajah seriusmu tampak selalu menarik. Kala ini lah kau mulai tersadar ada yang memerhatikan, rokok ditanganmu kau matikan, melipat koran koran dan menyelipkannya di samping meja makan.
kau menoleh ke arahku
Sedangku menunduk. Malu.
Setelahnya,
Kau mengaduk kopimu, tenggakmu ketiga.
Andai matamu, melihat aku.

Memang dasarnya aku yang cerewet, aku yang gegabah, yang paling tidak bisa menyembunyikan jika sesuatu terjadi, yang heboh sendiri. Kau tersenyum ke arah sini. Tortilla di tanganku tumpah semua. Kali ketiga kau senyum. Sisa paprika dimulutku terkulum. Bibirku membalas. Lesung pipiku amblas, kecil senyumku, namun lepas.
 Aku selalu berharap kau berlama-lama di sini.
Kau menghabiskan sisa kopimu, tenggakmu terakhir.
Andai matamu, melihat aku.

Lalu aku terbangun.
Memimpikan kamu, mimpi hampir empat tahunku.

Sudah terlalu lama, setelah itu. Kita berdua dijebak perasaan. Entah kita namakan apa segala sesuatunya,
karena aku wanita, aku menunggu diminta
aku masih menunggu kau bersuara,
      datanglah,
belahan benua yang berbeda tidaklah apa,
untuk sekedar mengungkap,
untuk sekedar mengutarakan rasa yang mengendap

andai matamu, melihat aku.
andai kau tahu.


2013

p.s:
Rahasia Hati - Nidji, beautiful song, beautiful lyric.
and for my best, thank you. your love life inspired me.

Monday, September 30, 2013

Sebelum Kau Pulang

Kau bilang duniaku ada di sana. Di sampingmu. Lalu biarkanlah aku menetap, di tepi. Pusing aku, semakin hari semakin bising. sama seperti hari-hari yang makin padat, kau tenggelam dalam kesibukan jam kerja yang jadi ketat.

Sama seperti hari ini, malam minggu yang mestinya kita makan berdua di restoran langganan tengah kota, aku malah jadi tertumpah kuyup hujan. Lagi-lagi menunggumu. Kulihat sekeliling, halte tempat meneduh, sudah penuh. Salahku tidak pakai jas hujan sedari tadi, karena memang saat berangkat awan masih bermain teka-teki.

Mulai jengkel aku, kuketiklah pesan singkat bertuju nomormu. Kutanya berapa lama lagi kau selesai. Tiga puluh menit tak juga kunjung ponselku bergetar. Jemariku makin dingin. Hujannya makin besar. Cuaca benar-benar mengusik. Kalau saja aku tega meninggalkanmu, kalau saja aku lebih memilih untuk tidur lelap dibalik selimut, kalau saja aku lebih memilih membiarkanmu dijemput taksi seperti biasanya, kalau saja aku tidak pernah merasa khawatir akan kau, kalau saja wanita  yang larut malam pulang sendirian di tengah ibu kota itu bukan istriku.  Kesalku akan hujan malah jadi makin tercurah. Kau yang membuatku jadi kehujanan, seolah-olah.

Andai saja kau tahu, di balik gedung tinggi kantormu itu, adalah aku yang setia menunggu kau pulang. Badanku semakin ringkih badan karena basah air dari mana-mana, dari langit, dari selokan tumpah, dari cipratan bus, dari mikrolet lewat, dari mobil-mobil mewah yang jalan cepat.

Sepatu  yang kupakai juga sudah tak jelas bentuknya, sudah kumel dan bulukan, kaus kakinya kebasahan. Jempol kakiku sudah pasti bau tak karuan. Kalau sudah begini, semua terasa tidak mengenakkan. Giliran perutku minta dikasih makan. Mataku kesana kemari mencari warung nasi yang mungkin buka, atau warteg ibu Mus yang biasa ada di bawah itu jembatan. Memang sedang tak beruntung aku, di jalan malam ini tidak ada lagi lampu menyala selain berasal dari bohlam penerangan.

Kumasukkan kedua telapak tanganku ke dalam jaket. Sesaat sebelum biji mata melirik arloji. Satu jam aku menunggu, pesan singkatku mungkin tertutup berkas-berkas dari bosmu yang sedang bernyanyian di atas gedung sana. Jalan sepi memaksa aku untuk termenung. Jika trotoar-trotoar dapat berujar, mungkin mereka sedang memaki dan menyindirku dengan nyiyir.

Aku lembur, maaf baru bilang. Kau di mana? Lumayan dapat uang tambah, bos sedang ada proyek sampingan. Teleponku berdering. Layarnya kedip-kedip.
Di rumah. Menunggu kau minta jemput. Ini malam minggu. Padahal mau kuajak kau makan di tempat biasa. Ingatku.
Renyah suaramu dari sebrang tak pernah berubah. Ah maaf aku lupa! Makannya nanti lagi saja. Baru kemarin kau belikan aku vas bunga baru
Aku menghela. Ya sudah, nanti kuhubungi lagi.

Kalau begitu aku pulang dari tadi. Menunggu di hujan yang menderas malah bikin penyakit, mau marah padamu pun percuma. Kau akan membalas dengan argumen yang memang tak akan pernah bisa aku bantah. Kasihan kau jika tahu aku sudah sampai tepat di bawah kantormu sejak satu jam yang lalu. Jika seperti itu kau selalu dirundung rasa bersalah. Aku tak makan malam ini dari hujan yang juga turun dari matamu.

Maaf jika aku belum bisa memberikan apa-apa, hanya sebuah kontrakan kecil sederhana yang tak berpendingin ruangan. Maaf jika setiap malam setelah lembur kau harus kedinginan karena kujemput dengan motor tua yang mudah mogok. Maaf juga jika sudah dua hari ini kau terus saja kubohongi; bosku memecatku karena aku ketahuan mengambil guci kesayangannya yang ternyata harganya jutaan.

Kau bilang duniaku ada di sana. Di sampingmu. Lalu biarkanlah aku menetap, di tepi. Pusing aku, semakin hari semakin bising.

Maafkan aku membawamu dalam duniaku. Lalu terpaksa jadi semuamu. Jikalau kau tak kuat, tinggalah saja untuk sesaat. Memusingkan kamu, membisingkan hidup dan sejiwamu.


2013