Showing posts with label celotehan. Show all posts
Showing posts with label celotehan. Show all posts

Tuesday, July 15, 2025

Perihal Membaca Kehidupan

Membaca kehidupan, bagi saya, adalah membaca sebuah naskah agung;  sebuah teks eksistensial yang ditulis oleh Tuhan dengan tinta waktu dan kertas realitas. Ia tidak terdiri dari huruf-huruf alfabet, melainkan dari kejadian, pertemuan, kehilangan, dan pencarian. Dalam perenungan atas Seni Membaca dan Memahami karya Mortimer Adler dan Charles Van Doren, saya menemukan analogi yang sangat kuat antara tingkatan membaca dalam literasi dan tingkat kedalaman kita dalam memahami hidup. Membaca secara sintopikal:tingkatan membaca tertinggi yang paling aktif dan menuntut usaha, mencerminkan bagaimana kita seharusnya mendekati hidup: tidak hanya sebagai rangkaian peristiwa, tapi sebagai sistem makna yang saling terhubung dan harus dibaca melampaui permukaan.



Tuhan telah memberikan kepada manusia tiga alat utama untuk membaca naskah ini: ruh, akal, dan fisik. Fisik adalah pembuka layar panggung. Ia mengalami: berjalan, jatuh, bangkit, mencinta, kehilangan. Ia seperti mata yang membaca huruf, tapi belum memahami kalimat. Akal adalah pembaca analitis: ia mengurai makna, mempertanyakan motif, menghubungkan bab demi bab dalam hidup kita. Tapi pada titik tertentu, akal pun terbatas. Ia bisa menemukan mengapa, tapi tidak selalu bisa menjawab untuk apa. Di sinilah ruh mengambil peran sebagai pembaca sintopikal; ia tidak hanya memahami isi hidup, tetapi juga menarik benang merah lintas dimensi dan lintas waktu, membandingkan nilai-nilai, dan menyimpulkan hikmah yang mungkin tak disebutkan dalam “teks kehidupan” secara eksplisit. Ruh mengarahkan kita untuk mencipta makna, bukan sekadar menemukan makna yang sudah ada.

Secara simbolik, membaca kehidupan dengan ketiga alat ini adalah seperti membaca wahyu dalam dua bentuk: qauliyah (teks tertulis: kitab) dan kauniyah (alam semesta dan peristiwa hidup). Keduanya harus dibaca bersamaan, dengan akal untuk menalar, fisik untuk mengalami, dan ruh untuk menafsirkan secara spiritual. Al-Ghazali menyebut ruh sebagai jauhar, inti hakiki dari diri manusia, yang hanya bisa disentuh melalui perenungan, kejujuran batin, dan pencarian akan kebenaran yang lebih tinggi dari sekadar data atau fakta.

Saya percaya, membaca hidup secara sintopikal berarti juga membaca Tuhan di balik kehidupan. Bukan sebagai objek, tapi sebagai Makna itu sendiri. Dalam hidup yang penuh paradoks ini; antara kebahagiaan dan duka, kejelasan dan kebingungan, kita diundang untuk tidak sekadar menjalani, tapi menafsirkan. Dan dalam penafsiran itulah, hidup menjadi kitab yang hidup, naskah yang tak pernah selesai, dan bacaan yang membawa kita, perlahan tapi pasti, dari ketidaktahuan menuju pemahaman.

Maka, jika kita bertanya, apa arti membaca dalam makna terdalamnya? Mungkin saya menjawabnya membaca adalah ziarah batin ke dalam teks kehidupan yang ditulis oleh Tuhan, dengan membawa seluruh instrumen kemanusiaan kita: akal, ruh, dan tubuh; agar tak hanya tahu, tapi juga mengerti dan menjadi.


2025




Thursday, January 21, 2016

Dermaga Sastra

Kalian percayakah?
Bahwa setiap jiwa-jiwa
memiliki tempat untuk pulang?
Sama seperti kekata
dan bahasa
yang bermetafora
karena jauh bertualang?

sila tambahkan akun DermagaSastra di jejaring sosial LINE kalian, untuk sekedar bermain dengan angin malam di tepi, atau untuk melihat kepulangannya.
 

Wednesday, December 17, 2014

Catatan Desember

Langit Bandung akhir ini tergantung-gantung. Sama seperti udaranya yang dingin dan panas sekaligus. Mendung yang nanggung. Tetapi seminggu ini, sore sering tenang. 

Seperti biasa. Birunya masih membuatku betah menatap lama. Sebelum senja. Sebelum lapang penuh motor-motor mesum. Di padang ilalang ini aku kembali berbaring. Di tengah-tengah daun yang menguning. Suara angin menyisir rumput-rumput tinggi sekeliling. Banyak dandelion yang rekah. Mahkotanya terbang-terbang. Oranye awan sedang berkilapan. Ternyata ini juga tentang memoar yang kian usang.

Aku menunggu kamu datang. Di antara. Di antara mega yang merah, di antara sengat yang mengerubut. Awan pelan-pelan hilang. Menjadi nila, menjadi jingga, menggelap.

Aku menunggu kamu datang. Di antara.
Sampai kapan?
Tak usah direka, pula jangan diterka. Entah. 

Saturday, October 25, 2014

Pertama Kali

Kehilangan orang yang dicintai untuk selama-lamanya, dan bagi saya, ini adalah pertama kalinya, bukanlah perkara yang mudah.

Tidak sama sekali.

“pengalaman pertama” dan “kehilangan” bukanlah dua hal yang tepat untuk dikombinasikan.

Pengalaman saya pertama kali jatuh dari sepeda, pertama kali dimarahi Ibu, pertama kali pulang malam, pertama kali menyontek, pertama kali ketahuan menjahili adik, pertama kali bertengkar dengan pasangan, pertama kali jatuh cinta, hari pertama ujian nasional, pertama masuk sekolah, pertama kali tertinggal bus jemputan, pertama kali pacaran, pertama kali tersesat, pertama kali belajar naik mobil, pertama kali menjadi kordinator divisi, pertama kali konser di atas panggung, pertama kali patah hati… Semua menghasilkan memori-memori yang tahan lama. Yang susah terhapus. Segala hal yang menjadi pertama, kesatu, perdana, adalah sesuatu hal yang selalu membuat ketakuan, deg-degan. Bagi saya, 'pertama' adalah segala sesuatu yang harus dipersiapkan dengan matang sebelum-sebelumnya. Kemudian kepala saya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan,

“apa yang harus dilakukan?”
“kapan saat tepat?”
“harus bagaimana jika salah?”
“jika gagal harus apa?”
“haruskah saya benar-benar melakukan itu?”
"cara membiasakannya bagaimana?"

Pertama kali menyontek atau pertama kali kabur dari sekolah misalnya, entah apa yang kebanyakan orang pikirkan, bagi saya, cukup menakutkan. Akankah ketahuan guru? Akankah ketinggalan pelajaran? Akankah saya terbiasa? Kemudian ketakutan tidak berhasil. Bimbang sehingga spekulasi-spekulasi muncul memenuhi pikiran dan hati. Atau mungkin, “pertama kali” berhubungan erat dengan sesuatu hal yang bukan lingkungan nyaman. Seperti saya mencoba pertama kalinya mengganti flatshoes dengan heels atau wedges. Akankah nyaman? Akankah seleluasa berjalan saat seperti menggunakan flatshoes? Akankah terlihat indah di kaki? Akankah saya terbiasa? Pada saat pindah ke rumah baru, akankah terbiasa? akankah betah?

dalam perjalanan hidup, seorang guru pernah berpesan, 

“semua hal yang menjadi ‘pertama-kali’ memang akan terasa menakutkan. Karena kita menerka bagaimana hasil yang mengikuti setelahnya. Namun ketika berhasil melewati dan menempuh itu semua, kamu akan terbiasa. Bahkan ketagihan. Seperti anak-anak yang merokok, lihat saja. Awalnya ketakutan batuk, tidak nyaman di tenggorokan. Eh, ketika sudah mulus merokok, akhirnya jadi biasa. Bayi juga, ketika pertama kali berdiri, ketika pertama kali berjalan…Semua dirasa berat pada mulanya, lantas latihlah.”

Tiba saatnya bagi saya, pada tahun ini. “pertama kali” yang lain datang. Pertama kali kehilangan yang dicintai untuk selama-lamanya. 

dan untuk saya,
“Pertama kali-kehilangan”, bukanlah hal yang membahagiakan. Ingin rasanya aku berkawan, berguru dan berlatih kepada waktu. Sepertinya, hanya waktu yang mampu memahami dan menghadapi kehilangan.

Lantas kemudian setelah berceloteh ini,
ah,
Aku rindu.
dan akan selalu rindu.

Tidurlah yang nyenyak. 
Aku tahu, kau memang tidak akan kemana-mana. 
Hanya tidak lagi terlihat,
kau di hatiku
tidak kemana-mana.
kau di jiwaku.
lekat.


Saturday, July 5, 2014

"Telah lama saya tidak merasakan tertidur saat membaca buku. Rasanya ternyata masih sama. Nyaman sekali. Mengingatkanku bahwa saya dahulu pernah menjadi seorang kutu buku. Membaca novel-novel Danarto, Dewi Lestari, Ayu Utami, Fira Basuki dengan terlalu dini. Mungkin kelas tiga dengan seragam putih biru. 

Ah, aku rindu masa-masa itu."

Thursday, August 22, 2013

Amin

semoga semua cinta tidak menghasil tepukan. cinta yang sebelah, cinta yang tak kesampaian, pedih, kan?

Saturday, July 6, 2013

Penyanyi Kamar Mandi

Sila dilirik dibagian kanan, ada link baru.  Hehe, iya, soundcloud saya :)

https://soundcloud.com/annisaresmana

Wednesday, June 26, 2013

Yogyakarta

Yogyakarta memberikan saya karma, lagi.

Lima hari ke belakang, saya datang ke kota ini, dan kunjungan kali ini cukup memperbaiki hubungan saya dan Yogya yang tidak pernah baik-baik saja. 
dari dulu Yogyakarta tidak pernah berhasil memikat hati saya, tidak pernah membuat saya kerasan, tidak pernah memberikan saya kenangan yang istimewa. Tiap saya ke sana, ya.. gitu-gitu aja.

Entah kenapa, dari dulu hubungan kami tidak pernah bisa harmonis. Saya tidak pernah suka kota itu. Kalau ada perbincangan tentang liburan dan Yogya ada di opsi itu, saya selalu akan menjawab, "Enggak! Kalo liburannya ke sana aku enggak akan ikut." dan orang-orang yang saya ceritakan tentang hal ini pasti selalu bertanya;
1. apakah ada hal buruk yang pernah terjadi di sana?
2. apakah ada kenangan yang bikin galau? putus misalnya, atau apapun tentang percintaan?

nomor satu dan dua jawabannya sama, tidak.

3. Jadi kenapa  bisa segitu sebelnya?

Jadi kenapa? ya gitu aja. Jawaban saya beserta alasannya akan selalu 'ya gitu aja.' Gitu aja, karena saya enggak suka panas dan enggak suka manis. Sebenarnya, first impression saya lah yang membuat hubungan ini memburuk. Saya enggak pernah suka gudeg, udara panas, dan makanan manis, yang justru dengan mudah bisa ditemui di sana. saya selalu tersiksa makan di sana kalau makan, selalu dengan catatan berulang "Mas jangan manis ya." atau, "bisa minta garam?"

Dan liburan sekarang, setelah dari pantai, papa saya ngajak liburan, alih-alih Bali yang diharap, telinga saya malah mendengar "Teh ke Yogya yuk, lima hari." 
Iya, lima hari. Langsung terbayang betapa saya akan mengeluh selalu ingin pulang.
Karma lagi.  Destinasi yang (sebenarnya) paling saya hindari untuk (setiap) liburan, malah dikunjungi.
Dengan alasan kesibukan Papa yang super, akhirnya saya mengiyakan. 

Dan kami memutuskan untuk sedikit mencoba memperbaiki hubungan ini.

Selain dari hotelnya yang memang, amat-sangat-super-pewe, saya memperhatikan sedikit tentang Yogyakarta yang bikin saya bangga. Kota pelajar memang pantas disandang untuk dia, serius. Tidak ada satu baligo, pamflet, papan-papan ruko yang tulisannya typo. Mau warung nasi atau kios rokok sekecil apapun. Saya tidak menjumpai kesalahan-kesalahan penulisan yang acapkali dilihat di Bandung, tidak ada vermak jins, gorden, fhotocopy, tehniker gigi, dan lain lain. Sepertinya, kalau masuk kelas bu Rosida, Yogya bab EYD lulus dengan nilai A. Senang lihatnya, well educated semua. Terlepas gimanapun caranya. Yap, sedikit menggambarkan bahwa memang di sana pendidikan enggak pandang bulu, ya merata. semua sepertinya tahu penulisan yang baik dan benar.
Candi-candinya yang cantik. Sudah jelas. Saya kemarin ke Prambanan. Akhirnya. Setiap ke Yogya candi ini tidak pernah dilirik sama sekali. Sebenarnya mungkin karena enggak ada kesempatan. Pengecualian, karena pada dasarnya saya cinta kebudayaan, sendratari dan sebundel kisah perwayangan yang Ia punya, memang selalu bikin horny. Saya betah berlama-lama diam ngelihatin emak-emak lagi nge-batik, atau khas bau dupa dari Mirota dan Raminten, juga debu museum-museum, keraton, ya pokok'ne yang gitu gitu...

Sebalnya, tahun ini, Yogya punya hal yang saya cintai. Satu-satunya.

Kedua sahabat saya kuliah di kota ini. Dan itulah yang membuat saya bertujuan dan akhirnya mau liburan ke Yogya. Iya, cuma ini. 'Cuma' sekedar mengunjungi mereka yang memang akan-selalu-jarang-sekali dan amat-sangat-susah-sekali diberi kesempatan untuk bertemu. Mungkin terakhir kali kami berkumpul, kurang lebih setahun yang lalu. Dan kemarin, kami mengadakan pertemuan kecil. Hanya makan malam sederhana.
Tenang rasanya melihat kedua sahabat saya menggemuk di Yogya, sahabat saya yang satu naik tujuh kilo, yang satunya lagi mengeluh jerawatan. Yang satu mengeluh susah move on, yang satu masih awet LDR karena pacarnya sekarang ada di Jambi. Selebihnya tidak ada yang berubah. Dekat dengan mereka, satu sofa, satu kota, nyamannya masih dan akan tetap selalu sama. Bahagianya, melihat mereka yang juga bahagia dan betah di Yogya. Selalu ada takdir kecil yang entah darimana datangnya, tiap pertemuan, selalu saja kami mengenakan hal yang sama. Dan untuk makan malam kali ini, softlense kami sama, dan warnanya sama juga. Saya sadar dan kami pun tertawa.

Tidak ada yang lebih hangat dari sekedar tertawa dan curhat-curhat kecil dengan sahabat.

Yogya, saya minta kamu rawat, kamu jaga kedua sahabat saya baik-baik, ya. Saya makin sebal sama kamu, saya cemburu, kamu sekarang punya apa yang saya cinta. 
Huh.

Kabar baiknya, hubungan saya dan Yogya sedikit baik, sedikit saja, ya. Kabari kalau semua makanan di sana sudah asin, dan udaranya sesejuk Bandung.



Wednesday, June 19, 2013

Renung

Jadi waktu itu, di sebuah cafe di Bandung, saya pesan satu Chamomile  Tea, dan saya bilang ke mbak-mbaknya untuk pisahin gulanya, berhubung saya  enggak suka (banget) teh manis, saya ngewanti-wanti mbaknya sampai duakali. Saya selalu rewel kalo masalah mesen minuman teh. Semua harus pas, rasanya, pahitnya.
Dan pas dateng... rasanya manis. Banget.
"Mbak kok manis?"
"Eh iya lupa dipisah.."

Ya mau digimanain lagi? Udah nunggu lama dan kehausan, saya minum aja tehnya. Terlajur bete banget, kesel. karena saya bilang ke mbaknya sampai dua kali. "Mbak gulanya pisah ya." Dua kali diulang, bayangin. Saya minumnya sambil  murang-maring, muka sebel saya kelihatan banget kayaknya, soalnya sampai pacar saya waktu itu bilang, “Yaudah pesen lagi aja atuh. Ganti.”
“Enggak usah deh. Udah diminum juga, kagok.”

Walaupun akhirnya satu gelas teh manis itu habis, tetep aja nyisain rasa gondok.  Pengen aja ngerutuk ke mbaknya kenapa bisa lupa, padahal udah di tekankan berulang ulang.
Terus saya diem, yah.. semua momen ada aja yang bisa direnungi.

Yap, Ada kalanya, di hidup ini, enggak semua yang kita ingin, yang kita mau, HARUS selalu datang dengan sempurna seperti yang diharapkan. Meskipun kita udah berusaha keras untuk itu, ada beberapa hal-hal di dunia ini yang harus diterima seperti itu adanya. Yang kalau diubah, udah telat, atau ngebuat hal itu jadi enggak enak, malah ngerusak.
Yang saya rasain sih, gitu.
Ada kalanya kita "kejebur" aja, rasain semua perasaan (yang kalau kata saya)  "pasrah-yaudahlah" itu seperti apa.

Jadi? Kalau sudah berusaha untuk mendapatkan, tapi hasilnya tidak sesuai yang diharapkan, ngapain?
Saya sih, berusaha lagi, belajar lagi.
Berusaha menerima. Belajar menerima

Ya, Terima aja.

#bukanperkuliahan #celotehandoang #romantisitubukanParis

Sunday, June 9, 2013

When I get upset, I shut down. I feel like I should be crying or screaming or something, but I can’t because I’m turned off. I go silent and don’t talk very much. I just sit there and think.

She has her days when she feels like breaking down  
 and crying until her eyes hurt because she feels like 
everything is falling apart and there isn’t one thing she can do about.
Like she has no say whether or not her life goes well. 
Life isn’t an easy ride. 
There are ups and downs, twists and turns, but in the end, 
she smiles and tells herself that it’s alright.
Dear God, Please give me the strength and faith to help me get through each and everyday for it is a challenge. My heart is heavy and my soul aches. Give me the courage to go on and fight to make me well again. Amin.

know not everything I wished and hoped for will come true. Please give me strength to let go and entrust everything to You. I understand You won’t allow me to be in pain for the sake of hurting but for the sake of learning. You know me more than I know myself that even when I feel alone and unloved, there is still someone who knows all my flaws yet loves me unconditionally like no other human can.

Wednesday, June 5, 2013

Geo(love)gi

seperti episentrum, tegak lurus, diatas fokus. dan ia menjalar layaknya gelombang seismik, terus menerus.
atau mungkin seperti endapan karbonat, yang masih belum terkonsolidasi dan aku akan menunggu ia melebur menjadi satu.

ini tak sebanding dengan kristal hexagonal, yang dengan mudahnya dapat terjadi akibat pergantian mineral kalsit dan dolomit, atau sering terjadi akibat dari rombakan batuan. maaf, aku permanen atas rasaku. tidak dapat dirombak, diubah, maupun dipecah.

aku tak mengenal iderit, ankerit, maupun rodokrosit, yang sering di anak tirikan atau disepelekan dalam satuan karbonat. satupun dari sifatmu, tidak. semua penting untukku. apapun.

p.s: dari tumpukan notes facebook tahun 2011. Ceritanya saya dan Arya lagi lomba nulis puisi dengan bidang OSN masing-masing #eaaaa

Tuesday, June 4, 2013

Anak Perempuan Papa

Ijinkan anakmu, Pah, untuk menceritakan sedikit rasa bangganya memiliki Papa yang romantis. Saya adalah sosok perempuan yang kekeuh bahwa keromantisan dan keindahan bisa datang dari kesederhanaan. Dan memang sebenarnya romantis itu, sederhana. Seperti hashtag di twitter #BahagiaItuSederhana. Yap bukan hanya Bahagia, tapi Romantis juga! 
Papa bukan datang dari keluarga bangsawan, atau  milyuner yang uangnya bisa datang darimana saja, papa juga bukan tipe orangtua yang gampang beliin ini itu untuk anak-anaknya. Dan saya juga setuju, romantis tidak datang dari hal-hal seperti itu. Adalah kembali, bahwa romantis bisa datang dari kesederhanaan, 

Yang selama ini papa lakukan selama 19 tahun.

Sedikit tentang Papa, papa itu tegas, perfeksionis, pekerja keras, introvert, tapi romantisnya bukan main. Ada beberapa momen yang akan selalu saya ingat, dan i'll swear, hanya Papa lah lelaki satu-satunya yang pernah melakukan hal se-sweet itu.

Ketika itu, kalau tidak salah saya masih duduk di bangku kelas 5 atau kelas 6 SD saya lupa persisnya, sepanjang jalan menuju rumah, saya merengek minta Papa untuk membelikan parfum baru, sebut merk saja ya, Anna Sui. Ya, saya masih ingat. Karena siangnya Papa dan aku jalan-jalan ke suatu pusat perbelanjaan di Jalan Gatot Subroto Bandung. Dan papa dengan kalemnya menjawab  “Nanti ajalah, minggu depan ya...” mendengar papa yang tidak berhasil saya enyuhkan hatinya, saya makin rewel dan pulang dengan muka murung. Dan papa tidak ubahnya cuek bebek, flat selurus-lurusnya rambut rebonding dari jalan sampai rumah. Beberapa hari setelahnya, entah hari keberapa, saya pulang sekolah dan terkejut melihat di atas tempat tidur saya terletak sebuah kotak kecil hijau yang tidak lain adalah parfum yang saya inginkan, dan ternyata terdapat kertas di bawahnya, bertuliskan, "Dipakai ya Teh Parfumnya. Love, Papa."
                                                                                                                
Itu adalah hal yang sangat romantis menurut saya, dan nilainya bukan terletak pada materi bahwa papa akhirnya membelikan parfum. Tetapi niat beliaulah yang menge-set, membentuk suasana, untuk tetap terlihat cuek bebek mendengar rengekan saya, padahal ternyata diam diam dibelakang beliau malah membelikan parfum, lalu dengan sengaja menyimpan parfumnya di atas kasur, bahkan menuliskan surat di bawahnya.

Atau misalkan, hal yang sebenarnya papa mungkin mengganggap saya tidak tahu (sebenarnya saya tahu betul hehe) Sampai sekarang, sampai tahun ini,  papa tidak pernah lupa untuk mencium kening saya di saat (yang mungkin papa kira) saya sudah terlelap tidur. 

Romantisnya Papa juga terlihat, ketika saya berulang tahun ke-19 kemarin, karena ada rezeki, papa menghadiahkan saya sebuah mobil. Bukan, sekali lagi yang ditekankan bukan hadiah mobilnya  Sehari setelahnya, di pagi hari papa membangunkan saya dan dengan khas-nya,  oh iya... Papa adalah orang yang sangat prosedural, bagaimana Ia mengingatkan dalam setiap hak, tentu ada kewajiban. Papa mengajak saya untuk “mengenal” mobil itu lebih banyak. Beliau menyuruh saya untuk membuka segala macam kotak yang ada di bagasi belakang, dongkrak, ban, dan segala macamnya.  Tangan kami sampai kotor pada saat itu, karena Papa juga mengajarkan saya bagaimana caranya mengganti ban (ternyata ban itu berat sekali, haha). Hingga sebagai perempuan, saya bisa mengganti air wiper, mengetahui dan memasang klakson, mencuci mobil hingga bersih sesuai dengan tata cara, hingga mengantre untuk servis onderdil. Haha lumayan lah, ya?

Saya sempat berpikir, “Apaan sih, ginian doang.”  Tapi Papa hanya ingin anaknya nanti tidak kenapa-napa di jalan, ya kan?
Kami menghabiskan waktu setengah hari hanya untuk mengotak-atik hal-hal seperti itu. Dan Papa itu detailnya minta ampun.  “Ini Teh,  obeng ini.. coba cek di operational book nya ada engga?” lalu, “Nah ini segitiga pengaman, cara pakainya gini. Kamu nanti kalau bannya kempes atau apa-apa usahakan cari yang jalannya rata... sepi, dan jangan di  pinggiran yang padat.” Atau, “Nih coba, kalau lampu ini menyala, artinya apa yang belum?”
Papa sampai segitunya, ya? Iya. Memang. Tapi menurut saya, itu keromantisan papa dengan kemasannya yang lain.

Dan yang baru-baru ini, pada saat saya mau Ujian Akhir Semester, saya sering kesulitan belajar di malam hari karena lampu belajar saya rusak. Entah apanya, karena sudah berulang kali diganti bola lampunya pun tetap tidak menyala. Saya sampai seempat rebutan lampu belajar dengan adik pertama saya, menyebalkannya lampu itu bukan pertama kalinya mati, papa sudah dua kali membetulkan lampu itu dan pasti dalam waktu sebentar akan rusak lagi. Dan hal romantis antara papa-saya-dan lampu itu adalah, papa niat membetulkan lampu belajar saya, (sampai beliau bawa keluar kota dan membetulkannya di sana lalu kembali dengan lampu yang sudah betul) Padahal kalau ingin tidak ribet, papa bisa membelikan saya lampu belajar baru ketimbang mengganggu pekerjaan beliau di sana. Rasanya, papa ingin memberikan hasil “buah-tangan”-nya kepada saya. Ah, Papa memang selalu menyimpan effort di mana saja. Saat papa pulang, papa masuk ke kamar saya, dengan sederhana papa memberitahu, "Nih Teh, lampunya udah jadi, tapi warnanya kuning, enggak apa-apa ya?"

Romantis untuk saya bisa datang dari hal sekecil apa saja, dan hal terabsurd sekalipun. Romantis bisa datang dari menyempatkannya Papa di sela kesibukannya, untuk sekedar BBM, telepon, ataupun kalau papa sudah kangennya keterlaluan, Papa menyuruh anak-anaknya untuk dadah-dadah ke CCTV (semua saluran cctv di rumah saya terkoneksi langsung ke handphone beliau) Romantis bisa datang saat Papa sama sekali tidak gengsi untuk mengekspresikan cintanya untuk keluarga, rindunya, saat Papa supersibuk. Satu waktu, papa pernah tiba-tiba BBM saya di siang hari "Teh kita serumah tapi kok belum ketemu dua hari ya? Kangen." Romantis bisa datang dari emote-emote kiss dan hug yang tak pernah lupa Papa simpan di akhir kalimat pesan singkat. Atau, konyolnya lagi, romantis bisa datang dari teganya papa yang menjeburkan saya ke kolam setinggi 1,5 meter, empat belas tahun lalu ketika saya belum bisa berenang. Walaupun pada akhirnya ternyata saya hanya tidak pede dengan kemampuan diri sendiri, dan malah renang dengan lancarnya. 
"Apa Papa bilang, kamu tuh sebenarnya bisa, tapi enggak pernah mau coba. Jadi papa sengaja jeburin."

Romantis juga bisa datang ketika Papa tidak pernah mau mengambil centong nasi ketika ada anggota keluarga yang belum turun ke meja makan, keromantisannya dilanjut ketika Papa dengan senangnya mendengarkan saya bercerita apa saja. Romantisnya juga pernah mengejutkan sekolah, Papa berniat menjemput saya pulang sekolah, dan beliau datang dengan ambulans pembawa mayat. Guru-guru panik dan menanyakan siapa yang meninggal di sekolah pada saat itu. Papa..papa...yang penting anaknya dia jemput. Takut menunggu lama, takut anaknya kenapa-napa. Lagi-lagi itu alasannya.
Romantis bisa datang ketika Papa membetulkan jendela kamar saya yang rusak, atau sekedar memasangkan jam dinding di kamar saya. Romantisnya Papa juga datang saat... beliau tidak pernah memaksa saya untuk masuk ke fakultas kedokteran. Katanya, biarlah anak perempuannya ini mengambil keputusan penuh akan kehidupannya, sehingga nanti dapat membuktikan dan bertanggungjawab atas pilihannya terebut.
Dan yang membuat saya menjadi perempuan pecinta bunga, apapun bunganya. Adalah Papa. Selama saya bisa mengingat, sepanjang ulang tahun saya, Papa tak pernah absen mengirimkan buket bunga, biasanya mawar merah, namun ketika mengetahui saya menyukai warna ungu, pada ulang tahun ke enambelas hingga sekarang, digantinyalah bunga itu, menjadi mawar atau lily, apapun, asalkan warnanya ungu,

Saya sayang papa. 

Saya jadi ingat, sekali waktu saya pernah mengobrak-abrik dompet Ibu dan menemukan sebuah foto sunset, karena bingung saya bertanya untuk apa ibu menyimpan foto sunset di dalam dompetnya, bukan foto mereka berdua,  Ibu langsung membalikkan lembar foto tersebut, dan di belakangnya terdapat tulisan tangan papa. Papa menuliskan puisi untuk ibu, dan foto sunset tersebut adalah hasil jepretan papa.
Saya jadi membayangkan, seromantis apa Papa untuk ibu, ya...


"Wujudku adalah patung terbengkalai
cinta telah mengukirnya
dan jadilah aku manusia.
 'de keinginanku hanyalah satukan cinta dan perasaan kita."

                                              Pangandaran 1990. Love
                                                                       DadanR.

Sunday, May 12, 2013

mimpi

Satu hal yang saya percayai (dan ingin dilakukan) sejak dulu, 
Melaksanakan dengan kesungguhan, diiringi konsistensi atas apa yang disukai, yang membuat menyenangkan, membuat bahagia, dan akhirnya bisa menghasilkan

Jadi, seberapa banyaknya waktu yang terpakai, tenaga yang terbuang, seberapa sulit hal itu dikerjakan, tidak akan pernah merasa lelah. "Karena kamu mencintai pekerjaanmu"

Ya Tuhan, semoga ada jalan. Saya tahu Engkau tidak pernah tidur..

Tuesday, April 23, 2013

Tik,tok.


Beberapa menit sebelum menulis ini, saya tergeletak di atas kasur dan mulai sibuk gadget-ing, check path, line, BBM dengan sahabat-sahabat, melamun, gelisah, lalu merenung.

Hal apa yang kiranya baik untuk menutup tahun ini? setelah berjalan-jalan sore tadi, saya memutuskan untuk menulis. oh ya, sebelum menulis,tidak lupa saya bersyukur. berterima kasih, atas usia dan waktu yang (ternyata) masih dipercayai untuk tetap bersama saya. Hingga saat ini.

Dan apa yang mau ditulis? Tentang apa? Tentang berterima. Hal baik yang harus dibiasakan, ya toh?

Di awal delapan belas tahun saya, tepatnya setahun lalu, masih galau-galaunya tentang kelulusan Ujian Nasional, lupa persisnya, tapi yang saya ingat bulan April tahun lalu masih berbau khas kertas LJK (lebay).

Di delapan belas tahun pada awalnya, diwarnai banyak keputusan-keputusan berat yang harus saya ambil, ada beberapa kehilangan (dengan sengaja dihilangkan, sebenarnya) yang begitu besar, yang kata orang, berani-beraninya, dan sangat bodohnya saya untuk menghilangkan itu, bersanding dengan ketiadaan, saya juga mendapatkan kelahiran-kelahiran baru yang amat-sangat-berharga. Ada gula, ada kopi, ada manis ada pahit, ada masa galau, bahagia, labil, stabil dan keselaluan berproses. 

Awal perkuliahan, proses. Awal pedekate, proses. Awal pendewasaan, proses. Semua awal dan berproses. Awal memilih mana yang baik, enak, salah, sakit, benar, juga proses. Sampai umur ke delapanbelas, saya (masih) termasuk orang yang mempercayai proses. Momentum awal perkuliahan, misalnya; orang baru, transisi dari putih abu menjadi ‘maha’-siswa, bertemu dengan banyak orang, banyak ilmu, banyak pelajaran. Kebiasaan baru, passion baru, target-target baru, impian baru, yang rasanya, ‘perkuliahan’ mendekatkan dan menjadi regulator, fasilitator itu semua. Oh ya, khusus saya mengucap terima kasih untuk mimpi-mimpi lama yang betah dan tanpa menjadi usang, selalu berada dekat saya. yang sampai sekarang nyatanya masih belum kesampaian, he..he.. terima kasih untukNya, atas izinnya lah saya diberikan konsistensi untuk terus percaya pada  mimpi.

Bagaimana semua itu melatih saya, untuk menjadi orang yang lebih ‘manusia’. Lebih melihat, mendengar, lebih vokal, lebih peka. Segala bentuk diskusi dengan orangtua, dengan teman, pacar, sahabat, adik-kakak. Segala macam perdebatan, perkelahian, ketidaksamaan sudut. Segala jenis keputusan, musyawarah, mufakat. Mengalah, keluar dari ‘kotak aman’ kita, untuk belajar lebih berani pushing limits saya, mencomot comot hal yang dirasa positif dan match dengan kepribadian, membentuk, menebalkan, mengasah karakter dan menabraknya dengan hal kontras,  untuk menjadi pribadi yang semakin tumbuh berkembang.

Dari sekian banyak yang harus diucapkan terima kasih, dan tanpa bermaksud memilah-milah karunia yang telah diberi, saya amat sangat bahagia. 
Doa saya di  awal April tahun lalu, didengar dan dikabul, saya diperkenankan, didekatkan, dipercayai, hingga akhirnya diberikan (juga tentu memiliki) yang saya butuhkan.


Banyak terima kasih, untukNya. Atas segala. Duka, bahagia, adalah karunia.

Monday, April 8, 2013

bukan sunlight and pure fantasies lagi, untuk apa? jika kenyataan kehidupan jauh lebih indah daripada fantasi dan mimpi..

Saturday, March 30, 2013

Tuesday, March 19, 2013

Sepertinya saya harus merubah sedikit tema blog ini.. Tampak terlalu kaku, ya? Hehe bagaimanapun temanya, saya akan tetap menulis. Namun tidak benar-benar murni fantasi, sedikit cerita hidup akan lebih baik.. sedikit terciprat oranye, kuning, merah jambu...

Tuesday, May 15, 2012

Putih Salju

Bukankah pada saat kau membicarakanku, itu sama saja dengan menaruh kaca besar di depan badanmu. Aku dan kau? Apa bedanya. Sama saja hebat berkelit dan senang berkelana. Bedanya, kau membiarkan semua terjatuh dalam tanpa janji kau tangkap, dan aku, aku selalu wanti-wanti dari awal, bermain denganku, tak perlulah dengan sepenuh hati. Jadi siapa yang lebih kejam?

Sampai Kapan

Sejauh apa akan bertahan? Sejauh apa akan berlari dengan beban sebegini? Sampai kapan kau sanggup menyeka keringatku yang karena ulahmu. Sampai kapan kau tidak akan menyudahi?