Wednesday, July 9, 2025

Akar Tubuh

Semua tangan meraba tombol, dan bunyi ketukan serentak mencipta ruang mendengar

Seperti gendang, gong, kecapi bertaut tanpa dominasi

Perjalanan suara-suara yang bertemu di luar hierarki

Di situ; sastra, nada, dan pengalaman perempuan bergelora setara

Cahaya merambat di atas dahan,

bercabang lebat, menopang daun tanpa cemburu

Begitu pula pemikiran kita, tumbuh dalam simpul yang saling memanggul

Tidak ada batang tunggal yang berdiri sendiri

hanya hutan lintas suara dan tubuh

Napas masuk dan keluar bersamaan, seperti kurasi pengalaman;

yang bergulir tanpa jeda

Di sanalah Ia tumbuh;

menjadi akar

yang sama menghidupi ragam kata

 


2025

 

Laut di Telingaku

 

Ibu, ibu, ibu, mengapa di kupingku selalu ada suara gemuruh air bergulung?”

“Gemuruh? Gemuruh seperti apa, Nak?”

“Seperti pertama kali Ibu membawaku ke Wohkudu.”

“Maksudmu seperti suara ombak?”

“Nah iya, seperti itu.”

“Kapan pertama kali kamu menyadarinya?”

“Beberapa minggu lalu. Aku bermimpi juga dihujani pasir-pasir, berwarna merah muda, coklat kemudaan. Malam setelahnya aku juga bermimpi tuts-tuts piano kamarku beterbangan mengelilingi wajahku.”

“Hmm.. mimpimu absurd sekali..”

“Ibu mengerti?”

“Tidak. Tapi kakekmu pernah bermimpi seperti itu juga. Diceritakannya berulang-ulang kepada kami, anak-anaknya, dan cucu-cucunya. Ibu lupa cerita kepadamu karena Ibu rasa ini tidak penting.”

 

***

 

Lima tahun sejak percakapan petang di hari Kamis itu. Telingaku tidak sama lagi. Setiap hari aku harus hidup dengan telinga yang bergemuruh, aku tinggal di kota besar, tetapi seakan-akan kamarku langsung menghadap samudera. Ibu juga telah membawaku ke dokter—dokter umum, dokter spesialis, cenayang, tabib, usada. Sebutlah semua penjuru pengobatan, namun semua tidak punya jawabannya. Jika kalian membayangkan seperti white noise yang berdampak pada menurunnya kepekaan pendengaranku, bukan. Bukan seperti itu. Aku mencoba mendefinisikan sedetail mungkin kepada orang-orang. Sederhananya, Aku seperti membawa laut kemanapun. Di dalam busway, ketika lari di GBK, ketika gereja, bahkan ketika mandi. Seolah-olah jalur busway, running track GBK, barisan kursi ibadah jemaat dan shower kamar mandiku terletak sejajar dengan bibir pantai.

 

Maka sejak saat itupula, ketika aku sudah bisa berdamai dengan suara gemuruh, Aku kerap mendatangi bibir-bibir laut. Tidak pernah ada jam pasti untuk mengunjungi. Mau tengah malam sekalipun, laut selalu menerimaku dengan senyum dan tentu saja, nasihat. 



(Aku selalu merawat pertemuanku dengan laut walau telingaku hampir berdarah,  karena Ia tak pernah menutup mulutnya ketika Aku datang menjenguk. Ada saja nasihatnya, dari penampilan, finansial, percintaan, bahkan spiritual. Kupikir, ketika Laut sedang sibuk, dan Aku menyempatkan berkunjung, Ia akan dalam kondisi tidak mood dan menemaniku dalam hening saja. Oh ternyata tidak, lewat angin, burung, atau perahu-perahu nelayan, Ia menyampaikan nasihat-nasihatnya. Tidak peduli Aku datang dalam kondisi bahagia, patah, gamang atau sumringah. Selalu saja ada celoteh.)

  

 

 

 

Thursday, September 22, 2022

I'll see you around. 2021.

Ini adalah beberapa yang tertangkap di luar kata

Setelah kita melumat petang di Martadinata

Apakah selamanya akan ada?

Atas seluruh jawaban ini kusisip Martini

Cawan ini dari nirwana, rasanya.


Gemawan menarik rupa, ada matahari tembus di dalam dada

Anglaksa luka memerih tiada

Bersandar pada angin bulan September

Riak dalam mataku menyanyikan lagu, dan

Ia tidak suka ditanya, kecuali

Elang menyuruhnya pulang, untuk kembali ke;

Lautan biru di sudut pipimu


Menuliskanmu perlahan di angkasa, bersama

Opus yang kaunyanyikan menggema di telinga

Nanti, Aku menyimpan suaramu dengan hati-hati di celah kemejaku

Dan Bandung kembali jadi bibir-bibir bisu 

Ini kaldera rindu yang selalu menggandakan diri tanpa tahu waktu



                                     

                                                              I'll see you around. 

Thursday, September 1, 2022

Sore itu, Ternyata

Di garis-garis tanganmu,

ada empat tokoh

berkejaran

berlarian

memutar-mutar jalan cerita

menunggu

kapan waktunya


SI Putri berlari ke arah ujung kelingking

menunggu Pangeran 

bersepeda ke tengah

kurcaci mengikuti dari buku jari

berlompatan

dua lainnya

membaca buku di bukit 


Waktunya Pangeran masuk ke puisiku! 

2022.

Sepanjang Trotoar Jalan Hegarmanah

doa-doa kedaluwarsa

kembali terhidangkan

bersilekas menghapus 

kesedihan yang tak beradab

kenangan menuntun lampah si Perempuan


di pohon jati kesembilan

mereka berciuman

terpagut memungut sisa

yang sebetulnya mungkin bisa

dibaringkan bersama matahari

yang kabur mengungsi


2022

Kedatangan

Mereka telah mengetahui

Sejak lama

Ada laut di kepalaku

dengan rintik hujan

di kedalamannya


Mengangkat gelas risau, getir robek lampau

Angkasa tidak lagi jadi tempat memintal mimpi

Kosong terpecahkan dengan belati;

Kanan, kiri

dan 

hampa diperas jadi riuh yang asing


Kemudian hidup; serta merta

Memberiku spasi

yang menjemput jarak

untuk kembali


2022

Saturday, February 19, 2022

Pada Suatu Hari yang Hujannya Deras Sekali

Pada suatu hari yang hujannya deras sekali.

Ada seloyang pizza stuffed crust yang hampir habis, kartu remi, sebotol anggur, sisa kacang tanah dalam bungkus plastik, dan televisi yang terus menyala. Dia meneriakiku dengan parau suara, mata yang menahan airnya,  dan tubuh yang menolak untuk rubuh. 


Aku cuma bisa duduk di sampingnya, mengelus rambut yang anaknya banyak sekali. Sepinggang, tidak pernah lebih pendek atau lebih panjang. Mendengar napas yang terburu-buru, menunggu hingga Ia lebih tenang, baru rencananya akan Aku mulai bicara. 

Tidak pernah mudah membuatnya membuka mulut. Harus nyaman dulu, selalu begitu.


Pada suatu hari yang hujannya deras sekali.

Ada mobil yang berhenti tetiba, di kiri trotoar Jalan Pelajar Pejuang, tidak berniat menepi. Ia turun dan membiarkan dirinya basah kuyup. Aku hanya takut dia kedinginan dan nantinya meriang. Badannya langsing tinggi, sedikit kurang lemak. Semakin aneh, Ia terus berjalan, dengan tas, sepatu, rok rajut  yang kutahu merknya mahal semua.


Pada suatu hari yang hujannya deras sekali.

Ia hanya menyodorkan telapak tangannya untuk kugenggam. Wajahnya jelita, namun terlihat angkuh karena tak ada senyum sama sekali. Halus kulitnya, dan selalu hangat. Mungkin yang lahir pagi ini bukan ketenangan baginya, mungkin memang belum ketemu. Tapi kuperhatikan, Ia selalu mencari. Keping yang tidak pernah diketahui keberadaannya sama sekali. 


Aku juga jadi ikut bingung.


“Akhirnya tangismu berhenti, masih kosong?”

Tanpa jawaban.

“Ruangnya sudah diperbaiki?”

Masih, tanpa jawaban.


Tolong beritahu Aku bagaimana caranya untuk bisa menembus galaksi mini yang ada di kepalanya. Hanya senyum yang tipis keluar setelah dua pertanyaan itu terlontar. Dan Ia peluk Aku dalam-dalam. 



2022