Aku menjelma menjadi laut
Dalam tidurku
Bulir garam keluar dari keringat
Dan bau asin menyengat
Berbicara pada kedalaman
membungkus sunyi
Untuk dilebur
Airmataku dipungut nelayan
Dan mereka berteriak
Laut kali ini berisik sekali
Padahal aku sedang bernyanyi dengan sengau
Untuk kekasih-kekasihku
Yang menjadi debur
November 2018.
Monday, November 5, 2018
Tuesday, October 30, 2018
Petang dan Pertemuan yang Sengaja.
Petang merangkul pinggul perempuan itu yang telah menjadi miliknya. Bangku-bangku banyak tanpa isi, Lelaki itu mendongakkan wajah. Langit oranye polos dengan gemawan berwarna merah bersolek dengan warna kuning tua.
“Tidak secara sadar aku menyayangi kamu.”
“Tapi secara sadar kau mencari aku,
…menerus.” jahil senyum simpulnya. Merona terkekeh, naik tulang pipinya.
Matahari masuk lewat ranggas pepohonan. Dua bola mata perempuannya itu lebih rindang dari angin sore yang berjelanak, dan Petang selalu memeluknya seperti bagaimana Bernini menggambarkan kisah Persephone.
“Kenapa mengajak bertemu di sini?”
“Supaya romantis. Kamu perempuan paling manis yang aku pernah kenal.”
Merona mengerling, “Di… sini? Romantis? Dudley Garden?”
Petang terbahak seraya mengelus rambut Merona.
“Sebetulnya karena saya ada kelas lagi. Dan kamu sangat sibuk akhir-akhir ini.”
Perempuan yang di dalam pelukannya itu ikut tertawa, seraya menenggelamkan wajahnya di dada Petang.
“Memang bukan jarak itu benar yang memisahkan. Sebab, sejauh apa pun jarak, jika hatimu masih utuh untuk aku, setelah sekian lama ini, semua bukan halangan untuk kurengkuh. Kamu ingat malam di mana aku secara tetiba datang dan berbicara kita hingga pukul tiga?
…Namun kemudian…Memang kau seperti angin, Merona. Kadang aku tak bisa membaca apa-apa yang kau ingin.”
Seperti biasa, perempuan itu lebih banyak bergeming. Mendengarkan lelaki dengan wajah yang menyiratkan selaksa kepucatan yang membentang seperti iring-iringan awan. Membuat Merona menampik pikirannya sendiri. Ia ingin percakapan sore yang disengaja ini, membuat segalanya menjadi jelas. Ia melonggarkan tubuhnya dari Petang. Sebetulnya, Merona lebih ingin diam dan menikmati gugurnya semua laku satu demi satu bersama deru. Ia kembali melihat daun-daun pohon diembus angin. Beberapa rontok dan rebah ke tanah.
“Yang benar-benar kuinginkan adalah kau menemukan kenyataan bahwa pelukanku adalah satu-satunya tempatmu untuk jatuh tertidur.”
Petang tersenyum.
“Kau ingin aku menjawabnya?”
Si perempuan pergi beberapa langkah, memain-mainkan kelopak krisan di hadapannya dengan ujung jarinya.
“Bunganya bagus,
…boleh aku tinggal di sini?”
“Kamu? Yang selalu telah-menyiapkan-segala-sesuatunya?”
Merona bergeming. Ia mengibaskan rambut yang menutupi pipi kanannya dengan menggerakan kepala searah jarum jam dan diusapnya pelipis Petang. Otaknya entah mengapa membawa banyak memori kembali. Bagaimana beberapa bulan lalu, Ia masih duduk di tepian sungai Thames. Satu tahun ternyata begitu cepat. Seperti baru kemarin Merona meninggalkan London. Suasana masih terekam sama: langit petang yang mirip lembayung di Lembang, kemilau riak air diterpa mentari, London Aquarium, kafe tempat menyambut malam dengan kursi dan meja berbahan kayu oak merah, ikon kota London Eye, dan bagaimana pantulan sungai Thames menggambar wajah Petang, lelaki lima tahunnya.
“Eh? Coba ulang pertanyaanmu tadi? Mau tinggal di sini?”
Tangannya menggamit Petang. Sela-sela jemari yang beradu erat cukup menjawab. Baru bulan lalu Ia menjadi perempuan paling nelangsa di tanah Britania. Tidak, tidak lagi. Jakarta-Amerika, London-Amerika. Pertemuan-pertemuan tanpa sengaja, percakapan tanpa dimakna ternyata membuatnya tersiksa. Memang ternyata waktu dan cinta adalah dua perkara yang didekap rahasia.
Merona mengangguk.
“Dan kurasa matahari jingga sudah menjawab pertanyaanmu. Kau mau menunggu aku di sini? Karena professorku sudah tiba, atau menunggu di kedai kopi biasa?”
"Aku tunggu saja. Tamannya sepi. Aku bawa buku."
"Merona,"
"Ya?"
"I want to be the only story in your poem."
Seperti namanya, pipi Merona meranum, memerah. Ada yang berkepak-kepak di dadanya. Memang apa yang dikatakan hati, kadang tanpa memerlukan bunyi tetapi selalu mampu dimengerti.
Friday, July 20, 2018
Borneo.
Mara menutup mata,
malam kali ini terasa amat panjang dan melelahkan. Ada yang hampa dan terus
terbawa, setelah bertahun lamanya mencari apa yang ternyata tidak bertepi. Berlari, menyalahkan yang telah terjadi. Menganggapnya sebagai ilusi, seringkali. Mara lelah menangis, airmatanya
tidak lagi jatuh dari bola yang kiri.
Mara hampir saja
berpikir bahwa hidupnya adalah monolog. Usia yang semakin matang hanya Ia jalani seperti sebuah sketsa dengan dialog bisu. Ramai oleh sunyi. Perjalanannya adalah sebuah
teater yang dilakoni sendiri. Tanpa perlu ada apa-apa, tanpa perlu ada
siapa-siapa.
Ia sedang menyelesaikan bait terakhir puisinya ketika lelaki itu
kembali datang.
Delmara. Delmara Alfa.
Kau lahir dari lautan?
Iya. Tahu dari mana
arti namaku?
Bukan. Bukan dari nama.
Ada perlu apa kau
datang kemari?
Pertanyaan seperti itu melukai hatiku.
Aku harap kau bukan
sebuah delusi. Aku kemari tidak sedang menjadikanmu sebagai barangkali.
Kuharap suatu saat kau punya minat selain
mencurigaiku.
Mara menunduk. Tersenyum, tetapi wajahnya tanpa citra jiwa. Pada
malam-malam yang meresahkan hati, hanya dalam keadaan itulah, dengan pria itu
dalam pelukannya, Ia bisa
tertidur. Mara mengutuk
pikirannya sendiri yang seolah tak mau berhenti.
Aku
tidak ingin ada yang selesai di antara kita.
Pria itu membenamkan wajahnya di lekukan leher Mara.
Mara tahu
Tuhan meletakkan keindahan pada tempat-tempat yang tepat. Mara ingin bersangka bahwa Tuhan sedang
menggambarkan ilustrasi untuk dipahami. Berharap pria itu bukan sekedar
empat musim yang selang berganti.
Wednesday, July 4, 2018
Tiba-tiba, Pagi menjadi Begitu Indah.
Dan mendadak,
Bunga depan halaman jauh lebih harum
dari biasanya
Dan mendadak,
Embun yang jatuh dari daun dan
kepodang jauh lebih sejuk dari biasanya
Dan mendadak,
Kekupu yang datang memberi kunjungan
jauh lebih ramai dari biasanya
Dan mendadak,
Matahari yang muncul dari sela jendela
jauh lebih hangat dari biasanya
Dan mendadak;
Langit muda yang berhias gemawan tipis
jauh lebih biru dari biasanya
Dan mendadak;
Rindu ini ternyata tidak dapat melipat
jarak
“Matanya yang
seperti langit bertemu dengan mata perempuan yang seperti laut dan terjadilah
percakapan yang bahkan mereka sendiri tak tahu apa maksudnya.. Mereka seperti
jelmaan dua ekor camar yang sudah terbang terlalu jauh ke samudra dan merasa
sangat letih tetapi tidak melihat apapun yang bisa dihinggapinya, kecuali
sebuah bahtera.”
Saturday, June 16, 2018
Bandung di Bulan Hujan (I)
Ketika aku pulang, matahari tidak terlalu terang
menyapa, Ia sudah tahu aku akan misuh-misuh bila kepanasan. Namun kedai-kedai
tua masih menungguku dengan setia. Sudut-sudut kota ini adalah separuh cerita.
Kau sudah menunggu.
Di meja yang itu, kursi menyudut sembilanpuluh derajat
dengan bantalan sofa paling empuk, menurutku. Ia sudah tahu aku akan
misuh-misuh bila punggungku pegal. Dekat dua jendela besar.
Matamu menangkap kedatanganku.
Maaf ya, buatmu menunggu. Sudah lama?
Tidak, kok. Macet ya?
Kemudian duduk aku di depanmu. Memerhatikan wajah yang
tidak kulihat hampir setahun lamanya.
Aku mensisip kopi susumu. Keningmu mengernyit.
Di Jakarta sekarang minum kopi?
Tidak. Lambungku masih payah. Mau coba saja.
Oh, iya. Bahaya. Nanti salah-salah kamu masuk ke UGD lagi.
Tidak seperti kemarin sore dan lusa, sore itu pikiranku sulit berkonsentrasi. Ada banyak yang kupikirkan dan terangkumkan. Banyak rencana yang tetap menjadi wacana.
Kemudian hujan turun. Jelas kulihat dari dalam.
Bagaimana persiapan? Lancar semua?
Begitulah.
Kenapa? Ada kendala?
Pernikahan ternyata rumit. Banyak orang dan banyak mau. Kau tahu, terlebih aku anak pertama. Gengsi keluarga, katanya. Belum debat pendapat, biaya..
Sisa kalimatmu tidak lagi kudengar. Lamunanku pada hujan. Berharap semoga kenangan dapat hanyut terbawa.
Thursday, April 5, 2018
Ba la da.
Aku ingin memetik matahari sebelum lingsir. Agar tetap merona, kuulaskan di pipimu.
Mugkin aku tak tahu atau lupa untuk apa mencintaimu,
dengan melukai dada. Bersama celah waktu yang selalu terbuka.
Cinta adalah sejumlah luka
Yang nyerinya masih kutampung
di dada dan lambung.
(bahkan setelah ratusan senja, sakitnya tak kunjung reda. Ia luka dari bahagia yang sebenarnya tak pernah ada)
Mugkin aku tak tahu atau lupa untuk apa mencintaimu,
dengan melukai dada. Bersama celah waktu yang selalu terbuka.
Cinta adalah sejumlah luka
Yang nyerinya masih kutampung
di dada dan lambung.
(bahkan setelah ratusan senja, sakitnya tak kunjung reda. Ia luka dari bahagia yang sebenarnya tak pernah ada)
Antara Jakarta dan Bandung.
Kamu memang tinggal di sana, dan di sini.
Di sana, jauh di angan-angan. Menyentuh mega, menyublim dengan angkasa, bersama rindu dan pedih yang menggema.
Di sini, di palung hati terdalam, di sela degup jantung menghentam, di aortaku, menderas namamu jutaan kali.
Di sana, jauh di angan-angan. Menyentuh mega, menyublim dengan angkasa, bersama rindu dan pedih yang menggema.
Di sini, di palung hati terdalam, di sela degup jantung menghentam, di aortaku, menderas namamu jutaan kali.
Subscribe to:
Posts (Atom)