Sunday, March 20, 2016

Adalah Dia

Adalah penyair, (yang telah lama) duduk merebah, Ia
Lelah, larik-lariknya mengkristal begitu saja, didiamkan mengental
Dalam prosa yang tak berjiwa, tergantung di ujung-ujung rima,
Oh tetapi, Kali ini berbeda! Kata penyair. Pun ditelaahnya;

Puisi ini. Yang kemudian mengurai metafora, mengintip
Rahasia apa yang dititipkan semesta. Kepada siapa sajak-sajak
Akhirnya menjelma jadi makna, dan dengan-
Tanpa tergesa, ini kekata mewujud jadi rasa
Ada rindu yang setia mengendap lewat; Ia
Menyublim. Lewat udara, lewat senja yang sederhana
Adalah penyair, (yang ternyata telah)  jatuh cinta
      dengan sukarela


20/03/2016
23.02

Saturday, March 5, 2016

Embun Pada Bangku

Aku ingin menceritakan
sebuah pertemuan kecil
      di suatu sore
dengan rerintik--angin
angin meniup, mengail
lewat cuping hidungku-
wangi menyengat aroma tubuhmu
hatinya serupa candu yang memikat--ah mungkin aku jatuh;

mata jingga mengilap mengganti bintang di sela-sela ranting
dan malam tidak membuat hening
kemudian dari stereo, kutanya apakah
lagu-lagu Banda Neira akan menyejenakkan
pusing
kau terkekeh, - ketika berdua mendengarkan
datanglah tiga kucing. putih hitam dan emas kuning
salah satunya bunting,
"lihat ada pesawat menguing-nguing!" dasar kau
bocah,
sahutmu keaku
..can I take it to a morning?.. --ah mungkin aku jatuh;

bulan meluntur, lamat-lamat
menertawakan aku yang sedari tadi, lama-
menyusun sajak,
dan tanganku hanya bisa melipat,
di senyumnya aku
      hilang jejak
curang,
hidungnya, kacamatanya, juga tempias pipinya
  merebut ruang,
semacam yang membuat petualang lupa jalan pulang

semoga
lampu-lampu kecil yang kerlapkerlip
membawamu kembali,
dari-
ibukota
untuk bertemuku lagi
di-
Bandung utara
dan memberi satu peti
rindu yang
telah ditabung lama-lama
             apalagi yang memikat dari sini untuk seorang bocah perantau?
(aku memerhatikan saat) kau meminum bir dengan mata yang disipit-sipitkan
lagunya diigau-igau,
lantas rambutku helainya dipilin dan kaumainkan
(aku tak menoleh saat) kau menengadah mencari sisa bintang yang tadi kita hitung dan terlewatkan
tertawa kita parau
 hingga mitos Sirius kau lebar-panjang jelaskan

aku ingin menceritakan--ah mungkin aku jatuh....
        tunggu, tunggu sebentar!
ini langka. ingin kukristalkan
suasana
dalam satu kotak kaca
sebelum akhirnya tubuhku limbung
alamak, kepalaku pusing tujuh keliling.
(kau dan tempat ini benar-benar membuatku miring)

2016.

Monday, February 8, 2016

Makan Malam dan Setelahnya.

Mungkin kita bisa bersama. Tapi nanti.
Di sini?
Tidak. Tidak di sini.
Kenapa?
...
Kau terkekeh. ''Malu oleh waktu.''
 ''Malu oleh hingar bingar yang ada. Nanti kita ditertawakan''.
 ''Bukan masalah." Matamu mengubah pandangan.
 Mataku mengkail matamu, aku mendekat.
 "Sibuk sekali, sih? Sudah hampir lima jam kamu diam di depan sana. Punggungmu pegal nanti."
 Matamu masih melurus ke depan. "Ya kan ada kamu."
 "Mentang-mentang, ya." Senyummu terkembang.
 Kucium tengkukmu dari belakang. "Take some time off."
 "Kan, aku diomeli lagi. Makan saja, yuk." bibirmu cemberut.
 "Makan apa malam ini?"
 "Pancake?"
 Kau mematikan laptop. "Dua tangkup dengan nutella dan mapple?"
  "Boleh. Aku lapar sekali... Tapi...mengantuk." setelahmu mematikan rokok,
 "Tidurlah sebentar kalau begitu. I’ll come wake you when it’s ready, okay?"
 Keningku diciummu. "Terima kasih, babyboo."
 Kali ini senyummku terkembang.

We can be miracles, 
we can be the ones..

"Oh sayang! Dan kopi. Kali ini sedikit pekat." Berjalan ke ruang tengah, Kau bersahut.
Sedang...Sedang kubuat. Tanpamu perlu meminta, secangkirmu takkan kulewat.
Kau melepas dua kancing kemeja, menata dua bantal kecil di sofa. Lampunya kau redupkan, lantas menyalakan perapian. Setelah melepas kacamata dan menaruhnya di nakas. Kau merebah, kemudian memejam kedua mata.

Entah sampai kapan kebersamaan ini sampai pada ujungnya. Entah di mana kami akan bermuara. Mungkin tersampir pada kenyataan berdua harus melipir, atau mungkin terhanyut pada gelombang selanjutnya, yang membawa pada laut lepas. Itu berarti, masih kamu yang menjadi nahkoda dan ini hanya dermaga sementara. Semoga.

Wangi pancake hangat di atas meja tidak seraya membangunkan kamu ternyata. Rupanya kamu benar lelah. Segan jadinya aku membangunkan. Kuperhatikan kamu sejenak. Bulu matamu yang lentiknya melebihiku, dilindung alis lengkung halus. Jari telunjukku menelusur lengan hingga wajahmu. Bibirmu tipis kukecup. Lalu kunyalakan lampu yang sedikit meredup. Naik turun napasmu tenang terdengar. Sadar, kau terbangun perlahan. Mata yang jarang tidur itu memendar sebentar.

"Sudah jadi, sayang?"
Hanya dengan senyum ku membalas. Tanganku menggamit pergelangan
Kepalaku mengangguk. 

Lantas, kau dan aku menuju ruang makan. Dua gelas di samping piringmu kutuang. Malam tidak pernah terasa kosong dan sunyi, walau isi apartemen ini hanya kami. Banyak tawa dan diskusi-diskusi kecil yang mewarnai. Seperti malam ini, empat tangkup pancake berukuran besar habis juga oleh berdua. 

Hingga kemudian, seperti yang sudah-sudah, dering telepon selalu memotong pembicaraan. Aku  terburu-buru dari kursi, mengangkat telepon dan berjalan ke arah jendela. Kulihat sisa embun meruapkan basah di sebagian lempeng kaca jendela saat kau juga mendengarkan dengan syahdu suara di seberang.

 Dari ibuku.
''...Kamu baik-baik saja di sana? Sedang winter banyak makan buah ya, Nak! Kuliah lancar? Eh, ada yang mau mami kenalkan sama kamu. Anaknya Om Dewo, temannya Papa itu lho, kamu ingat, kan?''

Hebatnya, kamu hanya memberi kedua mata jahil itu, seperti... ''ayo-coba-silahkan-saja-tante." yang selalu berhasil membuatku tertawa kecil. Setelah telepon kumatikan, aku menumpuk piring kotor dan membawanya ke dapur.
"Biasa, Ibu." kataku datar sambil mengambil sabun pencuci dan membusakannya.
Kau mengikutiku.  
"I know..."
..Kamu takut?"
Kedua lengan kau lingkarkan di pinggulku. Kali ini, erat sekali.
"Kan kamu, menantu barunya.."
Dapur mendadak hening. Tinggal sunyi yang menahan senyumku sendiri.

We can be miracles..

Mungkin kita bisa bersama. Tapi nanti.
Di sini?
Tidak. Tidak di sini.
Kenapa?
Lebih tepatnya,
 tidak sekarang. 

Tak ada yang tahu, bahwa berdua, kami benar-benar menyelam di kerak kepiluan, atau lebih dalam lagi. Kau dan aku justru menyimpan cinta yang tak terkata.


weheartit.com

Thursday, January 21, 2016

Dermaga Sastra

Kalian percayakah?
Bahwa setiap jiwa-jiwa
memiliki tempat untuk pulang?
Sama seperti kekata
dan bahasa
yang bermetafora
karena jauh bertualang?

sila tambahkan akun DermagaSastra di jejaring sosial LINE kalian, untuk sekedar bermain dengan angin malam di tepi, atau untuk melihat kepulangannya.
 

20-1-2016

Aku kembali menulis sajakku untukmu,
Takut, takut, sayang...
Sekarang musim hujan
Takut rinduku terbawa derasnya kenangan


Aku kembali menulis sajakku untukmu,
Takut, takut, sayang...
Sekarang duaribulimabelas di Desember
Takut kental ingatku lebar meleber


Aku kembali menulis sajakku untukmu.
Takut, takut sayang...
Sekarang jaman sudah edan eling
Takut cemas rinduku kabur digondol maling


Aku kembali menulis sajakku untukmu
Takut, takut sayang...
Sekarang cuaca kurasa tambah dingin
Takut genggam rinduku jadi makin-makin

Kalau tak aku sampaikan, katanya
Mana mungkin kau bisa tahu
Ah, tapi kuhanya ingin
memberimu
Separuh?
Bukan, bukan sayang.
Seluruh.

Masih kurang?
Memang,

    sekarang....


Ah, bagaimana kalau kita bercinta saja dahulu?
Sofa merah empukmu membungkam,

               kubiarkan pasrah

ragaku
Kautikam
jiwaku
Kauselam

Sunday, January 17, 2016

On the way, Sayang!

Aku berlayar, kemudian berlabuh
Menaung teduh, kayu-kayuku rapuh
Sepertinya rayap disuruhmu menggaduh
agar ini perahu cepat kembali dikayuh
persediaan makananku masih utuh,
   padahal
dan tenagaku masih cukup di tubuh,
  padahal

Nanti, sayang... Di depan pintu, aku ingin kau rengkuh
lelahku, peluhku
kau basuh
jangan! jangan misuh-misuh
di tengah lautan sana
dengan siapa aku selingkuh?

Nanti, sayang... Di depan pintu, aku ingin kau
sentuh
   peluhku
basuh
   penatku
setubuh
   jiwaku
rubuh
   lelahku


jangan! jangan misuh-misuh
 sayang
di tengah lautan sana,
dengan siapa aku selingkuh?

---lagipula
di hatimu
kubenamkan sauh
dalam; jauh.


weheartit.com

Friday, November 27, 2015

Semoga Rindu Membawamu Lagi Padaku

Kabut belum turun sore itu. Hutan belakang rumahnya menyejuk. Beberapa jam yang lalu, hujan mengguyur kota. Si perempuan lantas berlari keluar kamar. Sedari kecil, Ia memang menyenangi hujan. Rambut panjangnya kuyup mengikal. Bertelanjang kaki kemudian menari memutar-mutar. Melepas jaket, Si Perempuan anteng berloncatan, di antara kubangan-kubangan. Menunggu jadi gerimis, lantas Ia duduk di tepian.

Perempuan itu mengubah posisi tubuh. Ia menyilang dan memasukkan kedua kaki ke air. Sungai di depannya beriak-riak. Bebatuan memecah arusnya menjadi kecil-kecil.


Ingatan si Perempuan memilah satu kenangan.

***

Aku jangan ditunggu. Kembaliku mungkin masih cukup lama.
Ingat kata Ayahmu, cari laki-laki itu  yang mapan, yang bisa beri kamu kesenangan. Jangan lihat aku terus. Malu-maluin kamu dan keluargamu..., Si Lelaki merunduk, melanjutkan,
...lagipula aku belum bisa kasih kamu apa-apa. Mungkin iya setahun ini kamu tidak bakal uring-uringan melulu aku ajak jalan-jalan naik motor. Tiga atau empat tahun nanti? Siapa yang tahu kamu membatin? Siapa tahu kamu mengharap bisa duduk di jok empuk mobil besar yang bisa terbuka atapnya? Untuk sekarang, aku tidak bisa kasih itu, Mar. Uangku habis untuk biaya daftar ulang universitas. Jauh dari bisa memberimu hadiah semisal gincu, atau tas.
Lelaki itu seolah-olah berpidato. 
Si Perempuan, Ia tidak menjawab barang satu patah. 

Mara, kamu dengarkan aku, tidak? Realistis saja lah. Kamu itu cantik. Di sini, siapa yang tidak mau sama kamu, sih? Sering aku ditanya, pakai pelet apa lah, kenapa kamu bisa sebegitu kepincutnya lah, sampai dukun mana yang aku gunakan untuk bisa mendapatkan kamu...

Padahal yang ada malah aku. Aku yang ingin sekali dilamar kamu... Perempuan dalam hati.

Ia memainkan ujung rambutnya dengan tertunduk. Si Perempuan menahan kekata di ujung lidah, membiarkannya tak terucap. Bingung dan kecewa cukup membuat hatinya megap-megap. Dipeluknya Si Lelaki. Tangannya lantas mengerat di bongkah kedua bahu. Pun tidak ada tetes mata yang jatuh, padahal ini adalah perpisahan. Entah sementara atau selamanya, ternyata.

Mar, saya cinta sama kamu. Tapi keadaan sekarang buat saya jadi kecil hati. Kamu tak usah khawatir, kalau memang Gusti beri izin untuk saya dan kamu. Nanti juga diberi, direstui.

Si Perempuan menjinjit, jempol kakinya menekan tanah basah. Diciumnya kening si Lelaki. Lama, Ia menumpahkan semua. Rela melepas pergi Lelaki demi mimpi-mimpi. Rentetan kalimat yang telah dirapikan malah hilang menguap.Si Perempuan tersenyum, walau rasanya pahit. Ia tahu, sulit bagi Lelaki untuk mengutarakan, mengambil keputusan yang jauh dari membahagiakan.


 ***

Seekor burung gereja kecil yang hinggap tepat di ujung tangan, menyadarkan Si Perempuan dari lamunan. Ia memandang jauh ke arah senja yang cepat menggelap. Mengapa perasaan ini tidak pernah sampai hingga tepinya. Mengapa semua yang datang meminang, Ia tolak dan kembali pulang. Mengapa hiruk pikuk kota tempatnya melanjutkan pendidikan, tidak menghilangkan Si Lelaki dari ingatan. Mengapa memori-memori yang kian mengusang, tidak juga membuyar.

Masih,
Pada lelaki itu, Ia besar harap.

Aku menunggu kau pulang. Aku menunggu rindu membawamu datang.
Dan semoga, waktu menjadi restu.
Aku menunggu takdir mengikat,
kamu dan aku.

November 2015.
weheartit.com