Sunday, February 1, 2015

Lomba Tulis Nasional

Warta Himahi kembali menggelar Lomba Tulis Nasional 2015 dengan tema,
"Using Creative Industries as Indonesia Economic Power to Face ASEAN Economic Community 2015"!

Lomba dibuka untuk 2 kategori usia (A: 15-19, B: 20-25)
mulai 2 Februari 2015 - 6 April 2015.

Untuk informasi lebih lanjut dapat dilihat di http://goo.gl/49qWo1
Mari berkarya bersama! Keep Smart, Active, and Talkative!

Tuesday, January 20, 2015

Sekarang

Aku menemukanmu di tiga lembar pertama
Dalam sebuah buku usang
Di ujung perpustakaan tua, di desa
Tanpa ada yang menjaga
Tanpa lampu menyala

Aku menunggu tenangku datang ketika itu

Kemudian aku menemukanmu di sloki kedua
Dalam sebuah perjumpaan
Di bawah lampu-lampu gemerlapan
Tanpa aba-aba
Tanpa ada yang terjaga

Aku menunggu bingarku datang ketika itu

Pun aku menemukanmu di puncak Pangrango
Dalam sebuah perjalanan
Di bawah kaki terjal berbatu
Tanpa kabut-kabut
Tanpa sedikitpun ribut

Aku menunggu sunyiku datang ketika itu

Aku hanya takut kau ternyata maling,
Yang malah merapuhkan segalanya dalam sekerling

Aku hanya takut kau ternyata sengaja mampir
Yang malah membuat jiwaku ikut melipir

Sialan,
Aku ketar ketir


2015

Thursday, January 8, 2015

Tentang Liku yang Meluka

Ia kehilangan dia. Cukup sulit bagi Ia kehilangan dia yang telah beberapa tahun menemaninya bersama-sama. Pagi malam, tenang kelam, bahagia muram. Ia telah dijanjikan banyak oleh dia ketika cinta masih berjalan dengan mereka. Cinta seolah menjadi payung Ia dan dia kemanapun  melangkah. Sederas apapun hujan turun, sekencang apapun angin yang terbang-terbang, Ia dan dia selalu melanjutkan perjalanan.

Dia berkata kepada Ia untuk terus ada. Berjanji jika usia tidak lagi bisa berlanjut karena renta, bahkan dia akan merajut jiwa untuknya. 
Cinta seolah menjadi atasnama. 
Segala yang Ia korbankan, 
dilakukan demi cinta. 
Semua yang dirasa perih oleh dia, 
dia lakukan untuk Ia. 
Dia berkata kepada Ia untuk terus ada. Tidak perlu bertanya apa yang diingin, seolah semua disetel serba bisa dan serba mudah. Apa-apa untuk dia. Mungkin ini semacam kisah cinta 'aku rela mati karenanya'.  

Hingga suatu waktu, ada yang terjadi ketika Ia meminta dia untuk menemaninya pergi ke tempat biasa mereka berdua menonton sajak. Selalu, di tangan Ia ada eskrim vanilla yang sedikit leyur. Kuceritakan di sini, Ia adalah penyair. Maka dia juga sering meminta Ia untuk berdiri dan sedikit menyumbang membacakan bait-bait Sapardi atau Sutardji. Setelahnya, Dia tersenyum lama. Menggamit tangan Ia dan kembali pulang.

Namun kali itu, entah apa yang terjadi. Senyum dia kandas. Selama-lamanya.
Ia menjadi merasa nelangsa. Dia tak lagi bangga pada Ia.
Hingga suatu waktu, mereka menyayat jalur-jalur darah. 
Dia salah.
Ia lelah.

menyerah.

Mungkin dia berharap cinta seperti satu kalimat puisi yang tidak berima dan tidak banyak meminta. Mungkin dia menginginkan Ia menjadikannya sejiwa yang tidak harus memberikan apa-apa. Lah, namanya juga cinta, kata Ia. Pasti ada pengorbanan yang satu paket diberi. Hanya sebubuh dua bubuh. Ia tidak meminta dia memberikan sekujur tubuh, namun dia malah menciptakan api, Dia mencuram dan kemudian menikung. Tajam.

Singkat cerita Ia dan dia tidak lagi bersama. Perpisahan yang membuat Ia jerit-jerit sendiri. Kepalanya semrawut. Tingkahnya makin menjadi-jadi. Tiap malam Ia tidur dan meracau di tumpukan buku-buku tua depan perapian. Ia tendang pintu, Ia pecahkan kaca lampu. Terkadang. Matahari pagi malah mengoyak otak. Mengisinya dengan remah-remah ingatan yang merembes lewat jendela. 

Dan dia memang menghilang begitu saja. Terdengar kabar telah kawin dengan wanita kampung sebelah, bahagia.

Ia meminta pada siapapun yang bisa, untuk membersihkan luka yang kiranya meranggas. Pada tiap celah-celahnya, ada lecet-lecet kecil yang minta obat. Sayatannya meggurat-gurat, jika kau bisa lihat. Pada napas yang telah berbunyi raung, pada malam yang goyah dan terus gelisah, Ia masuk ke relung. Bersembunyi dari tamu-tamu yang mencoba datang dan menawarkan hidup yang berbinar-binar. 

Bahkan beberapa temannya akhirnya datang menghampiri. Masuk ke rumahnya pun susah sekali. Mengetuk tubuhnya agar bibir itu nampak sesungging senyum. Kerjaan Ia menjadi keluar masuk pesta. Ia mencoba memintal sendiri robeknya jelujur demi jelujur. 

Malam berganti beberapa windu, Bunga-bunga dari musim salju telah berperdu.

Angin berjalan-jalan, berpapasanlah dengan Ia yang masih menyangkar. Ia hanya melengos ke atas. Mukanya mendongak ke cakrawala. Angit melihat jiwa Ia yang nanar. Karena enggan bertanya, Angin penasaran dan tidak bisa lelap. Angin  menghampiri Langit Senja dan Hujan Malam yang sedang pacaran di atas kuburan.

"Masih betah Ia. mengapa tidak kunjung keluar saja? Kerjaannya hanya melamun. Lama-lama bisa tidak waras. Kasihan, cantik itu paras. Apalagi jika lukanya mengekal. Kalian tahu, tadi saat kubertemu, dari matanya masih juga keluar air yang tak kunjung henti. Merembes ke bajunya, ke lipatan-lipatan rok. ke tanah, ke rumput... kemudian menggenangi jalanan. Bahaya, bisa banjir satu kota. Di tangannya, memegang hati yang ia peras sendiri. Kemudian darahnya masuk ke cawan yang Ia pegang di tangan kiri. Jika aku berani iseng menggoda bertanya, apakah manusia memang payah soal ditinggalkan?"

Mendengar cerita, senja dan hujan berhenti berpojokan. Mereka seksama. Sayup-sayup menjawab, bersamaan.

Dia mengeruk perihnya keterlaluan, begitu yang kami dengar.
"Mungkin terlalu dalam"


Beberapa jam setelahnya, Ia lewat. Melihat Langit Senja dan Hujan Malam bercumbu mesra. Angin menatap mata Ia nanar. Sampailah ke telinga Ia beberapa kalimat rayu yang Langit Senja dan Hujan Malam lontar.
Tubuhnya seketika limbung, badannya bilur-bilur.
Beberapa detik setelahnya,
Ia muntah.
Anggurdarah.
Januari 2014

Wednesday, December 17, 2014

Catatan Desember

Langit Bandung akhir ini tergantung-gantung. Sama seperti udaranya yang dingin dan panas sekaligus. Mendung yang nanggung. Tetapi seminggu ini, sore sering tenang. 

Seperti biasa. Birunya masih membuatku betah menatap lama. Sebelum senja. Sebelum lapang penuh motor-motor mesum. Di padang ilalang ini aku kembali berbaring. Di tengah-tengah daun yang menguning. Suara angin menyisir rumput-rumput tinggi sekeliling. Banyak dandelion yang rekah. Mahkotanya terbang-terbang. Oranye awan sedang berkilapan. Ternyata ini juga tentang memoar yang kian usang.

Aku menunggu kamu datang. Di antara. Di antara mega yang merah, di antara sengat yang mengerubut. Awan pelan-pelan hilang. Menjadi nila, menjadi jingga, menggelap.

Aku menunggu kamu datang. Di antara.
Sampai kapan?
Tak usah direka, pula jangan diterka. Entah. 

Sunday, November 9, 2014

Sesaat Setelah Hujan

Mendung yang sedari siang telah ada, tidak membuatku kaget akan datangnya hujan besar di senja. Ia menutup siang. Menemani matahari kembali ke peraduan. Dengan tirai-tirai air.

Sederhananya seperti itu.

Aku bercerita pada hujan yang jatuh sekarang. Katanya, jangan khawatir. Hujan pun ada berhenti, setelahnya muncul matahari, atau mungkin, pelangi.

Seperti hidup, siklusnya pun berganti-ganti. 
Dan apapun musimnya, aku ingin berdua denganmu, menikmati.


Saturday, October 25, 2014

Pertama Kali

Kehilangan orang yang dicintai untuk selama-lamanya, dan bagi saya, ini adalah pertama kalinya, bukanlah perkara yang mudah.

Tidak sama sekali.

“pengalaman pertama” dan “kehilangan” bukanlah dua hal yang tepat untuk dikombinasikan.

Pengalaman saya pertama kali jatuh dari sepeda, pertama kali dimarahi Ibu, pertama kali pulang malam, pertama kali menyontek, pertama kali ketahuan menjahili adik, pertama kali bertengkar dengan pasangan, pertama kali jatuh cinta, hari pertama ujian nasional, pertama masuk sekolah, pertama kali tertinggal bus jemputan, pertama kali pacaran, pertama kali tersesat, pertama kali belajar naik mobil, pertama kali menjadi kordinator divisi, pertama kali konser di atas panggung, pertama kali patah hati… Semua menghasilkan memori-memori yang tahan lama. Yang susah terhapus. Segala hal yang menjadi pertama, kesatu, perdana, adalah sesuatu hal yang selalu membuat ketakuan, deg-degan. Bagi saya, 'pertama' adalah segala sesuatu yang harus dipersiapkan dengan matang sebelum-sebelumnya. Kemudian kepala saya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan,

“apa yang harus dilakukan?”
“kapan saat tepat?”
“harus bagaimana jika salah?”
“jika gagal harus apa?”
“haruskah saya benar-benar melakukan itu?”
"cara membiasakannya bagaimana?"

Pertama kali menyontek atau pertama kali kabur dari sekolah misalnya, entah apa yang kebanyakan orang pikirkan, bagi saya, cukup menakutkan. Akankah ketahuan guru? Akankah ketinggalan pelajaran? Akankah saya terbiasa? Kemudian ketakutan tidak berhasil. Bimbang sehingga spekulasi-spekulasi muncul memenuhi pikiran dan hati. Atau mungkin, “pertama kali” berhubungan erat dengan sesuatu hal yang bukan lingkungan nyaman. Seperti saya mencoba pertama kalinya mengganti flatshoes dengan heels atau wedges. Akankah nyaman? Akankah seleluasa berjalan saat seperti menggunakan flatshoes? Akankah terlihat indah di kaki? Akankah saya terbiasa? Pada saat pindah ke rumah baru, akankah terbiasa? akankah betah?

dalam perjalanan hidup, seorang guru pernah berpesan, 

“semua hal yang menjadi ‘pertama-kali’ memang akan terasa menakutkan. Karena kita menerka bagaimana hasil yang mengikuti setelahnya. Namun ketika berhasil melewati dan menempuh itu semua, kamu akan terbiasa. Bahkan ketagihan. Seperti anak-anak yang merokok, lihat saja. Awalnya ketakutan batuk, tidak nyaman di tenggorokan. Eh, ketika sudah mulus merokok, akhirnya jadi biasa. Bayi juga, ketika pertama kali berdiri, ketika pertama kali berjalan…Semua dirasa berat pada mulanya, lantas latihlah.”

Tiba saatnya bagi saya, pada tahun ini. “pertama kali” yang lain datang. Pertama kali kehilangan yang dicintai untuk selama-lamanya. 

dan untuk saya,
“Pertama kali-kehilangan”, bukanlah hal yang membahagiakan. Ingin rasanya aku berkawan, berguru dan berlatih kepada waktu. Sepertinya, hanya waktu yang mampu memahami dan menghadapi kehilangan.

Lantas kemudian setelah berceloteh ini,
ah,
Aku rindu.
dan akan selalu rindu.

Tidurlah yang nyenyak. 
Aku tahu, kau memang tidak akan kemana-mana. 
Hanya tidak lagi terlihat,
kau di hatiku
tidak kemana-mana.
kau di jiwaku.
lekat.


Friday, October 3, 2014

Mengagumimu dari Jauh II

Menyukaimu sama seperti aku menyukai sore hari yang tenang. Diam di pojokan art gallery. Sendirian. Menurut orang pecinta keramaian, untuk apa senang dalam kesunyian. 

Tapi begitulah, karena kamu yang ‘tenang dan kadang menghilang’  itu, maka aku suka. 

Menyukaimu sama seperti aku menyukai malam lepas senja, dan lampu-lampu pinggir jalan mulai menyala- aku memperlambat jalan. Menyukaimu itu buram. Buraman itu mengantar antara tergoda dan tergetar. Kala penyair bersimpul bahwa tergoda adalah awal aku tertarik padanya, sedang tergetar adalah ketika kau telah terlibat atasku… –entahlah, yang jelas melihatmu tersenyum, akan membuat bibirku juga tersenyum.

Tapi begitulah, melihat pipimu memerah, juga membuat pipiku ikut-ikutan merona.

Bahkan menyukaimu membuatku lebih senang diam membatu, lantas melamun. Bukannya menuliskan semua dalam kertas dan pena. Itu karena aku terlalu menikmati menyukaimu dalam diam. Hingga menjelaskannya pada pena dan kertas pun-aku tak sudi. Padahal kata penyair, banyak yang dapat dieksplorasi dari rasa jatuh-cinta. Karena ketika kau menjadi orang yang sedang kasmaran karenanya, kau bisa jadi pujangga kelas dunia. 
Katanya.

Tapi begitulah, untuk yang satu ini. Aku tidak mau berbagi.

Aku menikmati tiap riak-riak perasaan. Ingin rasanya kudekap jantungku sendiri. Ia melincah ketika kau lewat. Gawat. Ia memberikan kejutan-kejutan bagi tubuhku yang lain. Aku makin menikmati ketika semua orang memanggilku penakut bahkan pengecut.

Tapi begitulah, menyukaimu diam-diam jauh lebih indah. 

Ternyata. 

Dikatakan atau tidak dikatakan, itu tetap cinta...


*terima kasih Tulus - Mengagumi dari Jauh yang diputar berulang-ulang. Hingga laptop ini menjadi panas.