Kau menjadi lebih lembut dari buih ombak
Kau menjadi lebih serpih dari butir pasir
Kau menjadi lebih temaram dari jingga senja
Kau menjadi lebih wangi dari secangkir kopi
Kau menjadi lebih
Kau menjadi lebih ada
Kau menjelma segalanya
Kau menjadi sekelopak rekahan mawar mekar
Kau menjadi langkah
Yang setahuku
Kau menjadi sepekat malam
Seperti pekatnya kau
Di pikiranku
Thursday, April 26, 2012
24 yang ke 18 kalinya
Bulan ini bulan April, saya bertemu lagi dengan tanggal 24 untuk yang ke 18 kalinya. I just wanna share some pictures. Thanks family and friends for the surprises (yang tidak henti-hentinya.)
E.T, terlebih Suci Intani yang ngibulin saya karena bilangnya enggak pulang ke Tasik. Dan ketika saya bangun pagi, mereka udah bawa lilin. Merci. I love you, you and you. More than anything :*
Cakes
Dari Stones Hotel *Rojak Husni Tagoy Albret Ali Bako Oling
From Momeeyy and Daddy :*
Masbro masbro yang amazing. (Dwikinya ke Bandung, Albret enggak ke SMS, Bako pulang)
Selasa, 24 April 23.45 WIB
Thankyouuuuuuu :)
Patutku berterimakasih,
"Maka nikmat Tuhan yang mana lagikah yang engkau dustakan?"
Sunday, April 22, 2012
KPB 2
Kau rasakan juga?
Kita mengalami perubahan
Kau rasakan juga?
Kita menjadi satu
Satu kehampaan
Satu kegelisahan
Aku berlari mengejar keindahan yang kau kerlingkan pada kedua bola mata
Aku rebahkan semua lelah dalam mimpimu
Yang lelap
Yang dalam
Aku seperti
Rintik hujan
Aku seperti
Roman
Aku seperti
Rahasia kecil
Aku seperti
Ruang
Aku seperti
Ribuan
Rindu
Dan ketika aku menoleh sekali lagi sebelum pergi, rasaku tertinggal di sana.
"Kamu pulang, kalau pulang aku temani. Janji."
Aku juga ingin pulang
"Indah"
"Apa?"
"Kamu."
Tiada yang lebih indah
Tiada yang lebih rindu
Selain hatiku.
Aku ingin pulang, menjadi lautan biru tempatmu mengadu.
Kita mengalami perubahan
Kau rasakan juga?
Kita menjadi satu
Satu kehampaan
Satu kegelisahan
Aku berlari mengejar keindahan yang kau kerlingkan pada kedua bola mata
Aku rebahkan semua lelah dalam mimpimu
Yang lelap
Yang dalam
Aku seperti
Rintik hujan
Aku seperti
Roman
Aku seperti
Rahasia kecil
Aku seperti
Ruang
Aku seperti
Ribuan
Rindu
Dan ketika aku menoleh sekali lagi sebelum pergi, rasaku tertinggal di sana.
"Kamu pulang, kalau pulang aku temani. Janji."
Aku juga ingin pulang
"Indah"
"Apa?"
"Kamu."
Tiada yang lebih indah
Tiada yang lebih rindu
Selain hatiku.
Aku ingin pulang, menjadi lautan biru tempatmu mengadu.
Tuesday, April 17, 2012
Kisah Pelangi Biru
Aku mengiris pelangi yang tujuh warna itu
Ku ambil satu
Ternyata warna biru
Mengenai rasamu yang dikira rancu
Ternyata menjadi dialek yang ketir
Birunya biru satir
Ternyata kembali bermuara rasa
Yang tidak bisa ku tinggalkan
Sepertinya kau pemanis diorama
Yang berbahaya
Pelangiku biru
Birunya biru satir
Aku tak tahu
Melepas kamu atau
Terus kubelenggu
II
Enam warna yang lain datang memberi cerah
Dalam celah
Bidadari meluncur turun
Dan siluetnya mengajakku-
Berdansa
Tak mau aku,
Selain warna biru
Tak indah untukku
Selain satu itu
Semestinya aku
Tahu
Ah entah
Pelangi biru
Kenapa harus kamu?
III
Sementara yang lain terpesona dengan keenam warna-warninya
Aku terus mencari
Kamu
Pelangi biru
Yang berseteru waktu
Mungkin kau tahu
Kenapa ku cerabut satu
Sederhanamu membatu
Dalam mataku
Sekelilingmu merdu
Untuk jiwaku
Di bawah biru itu
Emosiku menjadi sirkus
Yang tidak biasanya
Menjadi keresahan
Yang melompat-lompat
Seperti huruf-huruf
Yang membuatku tersandung
Aku tidak bisa memberangus rasa,
Biru,
Nyamanku denganmu
Dan sekeping sore membangunkanku,
Bolehkah aku genggam secuil,
Pelangi,
Biru?
"Untuk pertama kalinya, aku merasa amat dekat, dan tidak merasa takut karenanya."
Ku ambil satu
Ternyata warna biru
Mengenai rasamu yang dikira rancu
Ternyata menjadi dialek yang ketir
Birunya biru satir
Ternyata kembali bermuara rasa
Yang tidak bisa ku tinggalkan
Sepertinya kau pemanis diorama
Yang berbahaya
Pelangiku biru
Birunya biru satir
Aku tak tahu
Melepas kamu atau
Terus kubelenggu
II
Enam warna yang lain datang memberi cerah
Dalam celah
Bidadari meluncur turun
Dan siluetnya mengajakku-
Berdansa
Tak mau aku,
Selain warna biru
Tak indah untukku
Selain satu itu
Semestinya aku
Tahu
Ah entah
Pelangi biru
Kenapa harus kamu?
III
Sementara yang lain terpesona dengan keenam warna-warninya
Aku terus mencari
Kamu
Pelangi biru
Yang berseteru waktu
Mungkin kau tahu
Kenapa ku cerabut satu
Sederhanamu membatu
Dalam mataku
Sekelilingmu merdu
Untuk jiwaku
Di bawah biru itu
Emosiku menjadi sirkus
Yang tidak biasanya
Menjadi keresahan
Yang melompat-lompat
Seperti huruf-huruf
Yang membuatku tersandung
Aku tidak bisa memberangus rasa,
Biru,
Nyamanku denganmu
Dan sekeping sore membangunkanku,
Bolehkah aku genggam secuil,
Pelangi,
Biru?
"Untuk pertama kalinya, aku merasa amat dekat, dan tidak merasa takut karenanya."
Monday, April 16, 2012
Rumah
Jarum penglihatanku memasuki seluruh pori-pori
Dalam tubuhmu. Keindahan yang kugali sering menjelma api
Yang menyalakan sumbu urat-urat darahku
Aku memintal lagu sepanjang lorong rahasiamu
Untuk kunyanyikan diam-diam. Tanganku meraba ayat-ayat
Tapi setiap kunaiki tangga ke langit terjauh
Aku selalu ditenggelamkan sinar bulan
Mengupas kemolekanmu dengan pisau pikiran
Adalah sia-sia. Keindahan hanya bisa kurasakan getarnya
Seperti cinta yang membakarku tiba-tiba
Aku menggali cahaya dari kuburan-kuburan kenanganmu
Untuk kunyalakan dalam jiwa. Dengan kaki telanjang
Kumasuki rumah batinmu yang terbuka
Di lantai pualam aku bergulingan sepanjang malam
-Acep Zamzam Noor
-Acep Zamzam Noor
Aku ingat kamu pernah meminta
Untuk tak pernah dilupakan
Dan aku tidak mengabulkan
Karena memang inginku buang
Semua perasaan
Tidaklah sebentar, waktu
Yang disulam jadi rindu
Dan jadi memahami setiap percekcokan
Dan menyulam daun diammu
Tak apa,
Mungkin aku sedang diracun bisu
Tak apa,
Kamu jadi hantu malamku
Lagi
Untuk tak pernah dilupakan
Dan aku tidak mengabulkan
Karena memang inginku buang
Semua perasaan
Tidaklah sebentar, waktu
Yang disulam jadi rindu
Dan jadi memahami setiap percekcokan
Dan menyulam daun diammu
Tak apa,
Mungkin aku sedang diracun bisu
Tak apa,
Kamu jadi hantu malamku
Lagi
Merci
"Hatiku mudah saja terkunci. Mungkin terlalu dini. Seseorang yang telah menjadi tuannya pada enam tahun lalu, selalu sampai hari ini. Aku ingin menua dengannya. Menjadi petang yang perlahan tenggelam. Menjadi senja yang indah karena ketiadaan."
Subscribe to:
Posts (Atom)













