Ketika dadaku mendadak kaku
Pasti itu kamu
Bergelayut;senyummu seraut
Namun kubiar
Hingga biru, tak lagi berdebar
jantungku
Karena
Kau merasa denganku seraga
biarlah aku menata airmata
Wednesday, January 18, 2017
Friday, December 23, 2016
Matahari Merona, Merah Dahlia.
Merona.
Mendadak sunyi bibirnya, kepalanya pening bukan kepalang. Ia jatuh terduduk, punggungnya disender pada kawat-kawat tipis pinggir jembatan. Langit sore itu pekat merahnya. Matahari bagai kembang dahlia. Merona susah payah membalikkan badan.
Words don’t see my heart
Days go by restart
Everything seems like a city of dreams
I never know why
“Perhaps we never found the right time.”
“Ini semua memang tentang waktu.”
Merona tersenyum, sendirian. Mungil bibirnya tersungging tipis-tipis. Matanya mengembara ke awan-awan kapas di puncak langit, sementara benaknya terus mencari cara untuk bertahan. Airmatanya digali. Merona ingin kencang berteriak. Pikirannya gaduh. Tangisnya diam namun membising. Hatinya melolongkan pada semesta, menjerit kencang. Kepergian lelaki itu ternyata meninggalkan jejak lebam di dadanya. Lagi, kepalanya menengadah.
Petang.
Di jantung downtown Chicago. merapatkan mantel untuk menahan angin dari arah Danau Michigan yang mulai mengiris ngilu tulang-tulangnya. Lebar langkahnya menapak trotoar kelabu yang basah. Terlipat koran di tangan, berjalan cepat menuju apartemennya. Sekejap saja Ia telah menyatu dalam arus pejalan kaki yang gegas ke tujuan masing-masing. Di dekat gang sempit di sebelah toko bunga, Petang berhenti, menyalakan sebatang rokok, menengadah.
I walk these streets disguise my mind
and the days going by but I still remember
everything seems like a city of dreams
I close my eyes
Pandangan mereka sama-sama menuju ke langit luas, namun pandangan itu buntu. Seperti membentur tembok tinggi yang tak kasat mata.
..but I still miss you.
Friday, December 2, 2016
Monday, November 28, 2016
Jalan Anggrek, Bandung
Di balik banyaknya protes yang diposting
Seruan dan celotehan kedai kopi pinggiran
Mengata-ngatai politisi di sini semua sinting
Negara yang isinya ricuh kekacauan
Kami mencintai kamu diam-diam.
Seruan dan celotehan kedai kopi pinggiran
Mengata-ngatai politisi di sini semua sinting
Negara yang isinya ricuh kekacauan
Kami mencintai kamu diam-diam.
Thursday, November 17, 2016
takdir.
aku tidak sedang
mencari
tapi kau
tidak berlari
kau tidak sedang
memerhati
tapi aku
berhenti.
kita
terpikat
kita
lekat
terikat
mencari
tapi kau
tidak berlari
kau tidak sedang
memerhati
tapi aku
berhenti.
kita
terpikat
kita
lekat
terikat
Tuesday, November 1, 2016
Di Depan Piano
Kau terbang berlarian
Ada jutaan kau
Di kepalaku
Suaramu pasrah
Mengiang
Di telinga,
Tepat di gendang
Kau teriak memekak
2016
Alpha
Tenangmu
lautan,
Matamu
kilap-kilap senja
Bibirmu
riuh
kelepak elang
Dan
Pinggulmu, merangkul
debur ombak
yang
menepi
Ke
jiwaku
Tenangmu
Langkah kaki
Kita,
Menjejak
di derap waktu
Dan cakrawala
Memerangkap.
2016.
lautan,
Matamu
kilap-kilap senja
Bibirmu
riuh
kelepak elang
Dan
Pinggulmu, merangkul
debur ombak
yang
menepi
Ke
jiwaku
Tenangmu
Langkah kaki
Kita,
Menjejak
di derap waktu
Dan cakrawala
Memerangkap.
2016.
Subscribe to:
Posts (Atom)