Sepertinya aku sudah cukup mati
aku bergerak sangat perlahan,
dadaku nyeri,
ngilu- kuku-kuku
telah berapa lama aku tidur di sebelah nisanmu?
2016.
Friday, October 14, 2016
Lagu Folk
Aku menunggu
Hingga keningmu terbelah
Bibirmu pecah
Dimana tangismu?
Tak kulihat airmata
Ternyata aku
bersimbah
malah.
Oktober 2016
Hingga keningmu terbelah
Bibirmu pecah
Dimana tangismu?
Tak kulihat airmata
Ternyata aku
bersimbah
malah.
Oktober 2016
Siang, 14 Oktober.
Renta, hujan meminta-minta
di salah satu toko musik favorit kita
mengingatkan pada cara kita jatuh cinta,
sederhana.
Oktober 2016
di salah satu toko musik favorit kita
mengingatkan pada cara kita jatuh cinta,
sederhana.
Oktober 2016
Dalam Emailmu.
Kau selalu menggerutu. Bandung sudah tidak lagi seperti yang dulu. Misuhmu adalah sesuatu yang selalu kau ulang di email. Kau protes Bandung panas, jalan Braga semakin macet, Dago sudah tidak lagi dingin, Martadinata seolah jadi Kemang Jakarta. Taman semakin banyak, namun volume mobil juga kian melonjak. Becak yang naik harganya, jajanan dari gurilem hingga kue cubit yang makin mahal. Ya, walau taman punya wi-fi sekarang, enggan tetap kau sambang. Kenapa? Ah, aku tahu, nanti tidak ada yang kau mintakan tisu. Kau kan mudah berpeluh. Kemudian akulah yang menampung keluh.
Aku sempat menerka apa jadinya kegiatan soremu di sana. Masihkah kau berkeliling ke galeri-galeri? Masihkah kau tetap memesan teh namun malah diammu di kedai kopi? Rumah seni mana lagi yang kau datangi? Apakabar anak-anak les yang kau amati di Barli? Atau, malam minggumu dengan anak-anak ganesa yang sibuk dengan pamerannya untuk tugas akhir, dan kau malah merecoki. Masih seringkah kau bertamu ke Siliwangi? Diam beberapa jam di kebun seni lalu pesan bitter ballen dari café di sebrang? Keliaran kah kau masih, ke teater kampus yang tempatnya macet setengah mampus?
Katamu, senja di belakang rindang kolam renang sudah tidak sebegitu indah. Siluetnya jadi susah menyorot mata-mata. Oh pantas kau gelisah. Kau dan senja adalah dua yang tidak bisa dipisah.
Katamu, kau ingin lihat senja di ibukota.
dan katamu, suasana menjadi amat sangat lain.
Menurutku, kau bukan kehilangan Bandung yang dulu,
Menurutku, Kau bilang kotamu sekarang begitu, karena di sana sudah tidak ada aku.
Tuesday, September 27, 2016
Nistagmus
Malam bergumul, malam itu saya dikejutkan
oleh riuh di belakang plataran candi.
Pangeran Sudhana Boghatta sedang berlari
turun tersengal. Kinnara Manohara hilang lagi. Pasti bukan diculik mertuanya,
kali ini.
Jammacitraka sampai dilepas untuk menuju
kerajaan Utara, di belakangnya, walet-walet terbang memutar.
Aku tengah menyapu dan angin menjamuku sepoi,
ketika ponselku berbunyi.
si
Bungsu dari Druma kabur?
Iya.
Heboh semua. Mungkin padahal mau nonton bioskop.
Sedang
genting kok dijadikan guyon, bukannya membantu.
Bosan
aku lama-lama, sudahlah riuh itu. Lihat, bulan saja terbahak.
Lama kau tidak membalas pesan singkatku.
Aku tersenyum pada mereka. Acuh tak acuh, tiga sampai lima begawan membuntuti Pangeran
yang bergegas pergi.
Kantung celanaku bergetar kembali.
Tak
perlukan aku dikorbankan dulu agar kamu mau meminta restu?
Sendiri, kutersenyum tengil.
Dasar perempuan sedang kasmaran, sabarlah
sebentar. Kemarin baru saja kutemui Pak Pendeta untuk kau selamanya bertahta.
Sunday, September 18, 2016
17.55
Beberapa menit sebelum matahari tenggelam
aku mencuri udara dan cuaca
di dalamnya ada sedu
yang tak kuasa kuhujani rindu
Heningku digenggam langit;
doa-doanya ditarik angin senja
dibawanya airmata
pun senduku jadi tak jenak
sembilu, dalam-
dalam samudera
juga wangi lautan
sebagai requiem
kenangan
Masihkah kau akan bertanya pada semesta?
Biarlah saja, memang ada hal-hal yang sedemikian rahasia.
Labuan Bajo
2015
aku mencuri udara dan cuaca
di dalamnya ada sedu
yang tak kuasa kuhujani rindu
Heningku digenggam langit;
doa-doanya ditarik angin senja
dibawanya airmata
pun senduku jadi tak jenak
sembilu, dalam-
dalam samudera
juga wangi lautan
sebagai requiem
kenangan
Masihkah kau akan bertanya pada semesta?
Biarlah saja, memang ada hal-hal yang sedemikian rahasia.
Labuan Bajo
2015
Labuan Bajo I
aku menyelami mata cakrawala,
kehidupan
fana dan kabur
mencoba menatap, bertanya
desis ombak-ombak
pagi
aku menyelami mata cakrawala
dijawabnya dengan
heningan
dan silau-silau emas
berderai
berseru
aku menyelami mata cakrawala
tepian teluk
mendengarkan,
mendegupi
berdebur jadi koor syahdu
mengedip ia
memberiku
isyarat
Labuan Bajo
2015
kehidupan
fana dan kabur
mencoba menatap, bertanya
desis ombak-ombak
pagi
aku menyelami mata cakrawala
dijawabnya dengan
heningan
dan silau-silau emas
berderai
berseru
aku menyelami mata cakrawala
tepian teluk
mendengarkan,
mendegupi
berdebur jadi koor syahdu
mengedip ia
memberiku
isyarat
Labuan Bajo
2015
Subscribe to:
Posts (Atom)
