Saturday, July 5, 2014

"Telah lama saya tidak merasakan tertidur saat membaca buku. Rasanya ternyata masih sama. Nyaman sekali. Mengingatkanku bahwa saya dahulu pernah menjadi seorang kutu buku. Membaca novel-novel Danarto, Dewi Lestari, Ayu Utami, Fira Basuki dengan terlalu dini. Mungkin kelas tiga dengan seragam putih biru. 

Ah, aku rindu masa-masa itu."

Friday, June 13, 2014

13 Juni 2014

Dan bagian terberat untuk Merona adalah untuk menyadari bahwa rindunya bukan setengah jadi. Menjalar kemana-mana, bukan dari tangan menuju kamar-kamar. Menggulung sisa-sisa tenaganya untuk menepis helanya supaya sampai tepi. 

Di satu sisi, masih tentang hal yang setengah jadi tadi, Petang... Mungkin Ia sendiri tidak pernah mengerti, mungkin tidak bisa Ia jelajahi. Bukanlah hal yang dilumrahi, apalagi dijangkaui. Petang mawas diri karena Ia ternyata dirindui. Lelaki itu hanya mencoba melindungi gengsinya dari hati, menjauhkan yang Petang kira memanjangkan durasi.

Merona tahu apa-apa yang datang dari otak kiri dan apa-apa yang datang dari hati.

Sunday, June 1, 2014

(Masih) Tentang Petang.

Namanya Petang. Merona tidak tahu kepanjangannya. Yang Merona tahu, Petang selalu ada di saat Ia tidak baik-baik saja. Yang juga Merona tahu, Petang selalu ada lalu hilang. 
Celakanya, Merona jadi gelisah bukan kepalang.

Namanya Petang. Merona tidak tahu kepanjanganya. Yang Merona tahu, Petang selalu bilang bahwa Ia (juga) merindukan Merona. Yang juga Merona tahu, setelahnya, Petang lalu hilang.
Celakanya, Merona jadi gelisah bukan kepalang.

Namanya Petang. Merona tidak tahu kepanjangannya. Yang Merona tahu, Ia berkali-kali bilang pada kawan, atau sekedar jatuh di kertas, bahwa perasaan tidak (bisa) lagi ditahan. Seusai lampu kantor dimatikan. Seusai gedung itu kembali kesepian. Merona selalu senang jika malam jadi lebih pekat. Segala hal tentang Petang tidak juga mau minggat. Merona jadi gelisah bukan kepalang.





Seminyak, malam hari.
..Merona memang punya pesona tersendiri.
Petang kelimpungan setengah mati. Otaknya rusak fungsi.



Wednesday, May 28, 2014

Dermaga

Aku ingin mengangkut hujan dari kaki dewa-dewa

Tak ingin ia dibilang lemah tak juga ia sedang ingin jatuh, Ya. Jatuh pada cinta. Ini minggu kesekian setelahnya lembur di kantor, Merona tidak langsung pulang. Memilih untuk diam di dermaga yang satu arah jalannya ke rumah. Merona gelisah. Gundahnya Indah.

Dan Merona tidaklah tahu, apakah ia bernyanyi, apakah Ia perlu dekat menepi, Apakah Ia bahagia, apa perlu jadi serenada. Merona gelisah. Gundahnya Indah.

Aku ingin mengangkut hujan dari kaki dewa-dewa,

.
di antara doa dan nyanyi itu
derak dayung-dayung gondola mematahkan
sunyinya.

di satu tepi,
Petang tidak menyukai melankoli.
rindu demi rindunya 
mulai bernotasi.

Thursday, April 3, 2014

3 April 2014

Nostalgia tentangmu bukanlah nostalgia yang biasa-biasa saja.
Kau harus tahu:
(Perlu duakali putaran penuh jarum jam untuk mengurai-urai rindu demi rindu) 

Nostalgia tentangmu itu melelahkan.
Kau harus tahu:
(Tenagaku seolah diserap masa lalu yang kau putar-putar dan terlempar-lempar) 

Kau adalah ombak yang mudah tertebak. 
Dulu kita genap lantas sekarang lenyap
Berdua kita buat langit-langit penuh berkumpul angan,
juga di samping kolam ikan
tapi siapa tahu sekarang 
hanya
kenangan?

Thursday, March 13, 2014

Antara Petang yang Merona dalam Tiga Paragraf

Hari ke lima dalam minggu ini.
Jumat siang Petang mencari Merona. Aduhai Petang, mengapa kau lantas berlari ketika punggung Merona ada sekilas? Mengapa juga ketika Petang mencecap malam, Merona tidak kau sapa? Merona itu wanita, Petang. Katanya, kodrat wanita itu memang hanya bisa menunggu.

tak terasa gelap pun jatuh... di ujung malam..

Hari ke lima dalam minggu ini.
Seusai rapat terakhir di kantornya, entah kali keberapabelas Merona mengintip ponsel, menunggu Petang mengirimnya pesan singkat. Mungkin rindunya telah jadi kolase, tanda-tanda Merona memang jatuh cinta tingkat keras. Petang membuatnya semakin akut. 

tak terasa gelap pun jatuh... di ujung malam...

Sebenarnya Petang tidak benar-benar mencari Merona. Sebenarnya. Bukankah bukan mencari namanya, jika Petang telah sejak dahulu tahu tempat tinggal Merona serta di mana Ia kerja? Bukankah bukan mencari namanya, jika Petang telah sejak dahulu tahu cafe mana yang selalu Merona singgahi seusai kerja pukul sepuluh malam? dan bukankah bukan mencari namanya, jika Petang telah sejak dahulu, memberanikan diri hanya mengetuk pintu apartemen Merona, tetapi kemudian tiga detik setelahnya malah pergi?
Iya. Sejak dahulu, sejak Petang memutuskan untuk kembali ke Jakarta.

tak terasa gelap pun jatuh... di ujung malam...

...

Setiap Sore, di Ruang Kerjanya

Kedatanganmu dikorupsi waktu, di sore hari Sabtu
padahal masih banyak cerita yang tak tergelontor; tentang manusia seninya berbicara; tentang isu; tentang agama
Kedatanganmu dikorupsi waktu, usiaku melelangnya;
Padahal siapatahu jatahmu masih banyak, melimpahku
Sayangku, ingin kulanjutkan cerita kemarin,
Senang melihat wajahmu tegang-naik turun, tulang pipimu
Ada masa mudaku di kelopak matamu, sayangku.
Juga
Ada rahasia-rahasia semimpiku, di bolanya.