Wednesday, June 5, 2013

Hau(mim)usah(api)

Hausaha   
    usah    hausaha
haus             s
   usaha         a
                      h
mimpi
mimpi
mimpi 
mimpi 
mimpi 

Kemudian mimpi disuruh berlari, ia yang memilih tidak mau melepaskan diri
tidak usah katanya, tidak usah
jangan usaha 
nanti haus



"mimpi tak berlengan, tetapi akan selalu ada jika engkau menginginkan. ketika badai datang atau api menelan bangunanmu, batu-batu itu tak akan hancur atau jadi abu. mereka hanya menunggu uluranmu, kekuatan hatimu, dan satu lagi rancangan cetak biru." -filosofi kopi.

Depresan

Lonceng tengah kota berdentang dua belas kali, gagak-gagak betina datang untuk tidur, setelah memberi makan anak-anak hitamnya di belakang gedung tua pinggir jam raksasa. Lolongan serigala tua yang tinggal di pinggir bukit saling sahut dengan puluhan klakson jalan raya pusat perbelanjaan, merasa tidak disambut, serigala turun ke kota;
Lohomora sedang bermain lilin dan korek api pada saatnya
jalan di pinggir gorong-gorong gelap, yang acapkali datang mafia; sekarung mayat di tangannya dan dibuang begitu saja
lantas ibu gagak-gagak tadi mengacak mayat, yang kadang pengemis dari kota tetangga
kaki-kakinya dampalan, tebal dengan kudis, atau hanya bulu lebat yang terlihat
bukan jadi makanan sehat untuk anak-anakmu, Ibu Gagak!
Lohomora menyalakan sebatang lilin dan menjatuhkannya di atas bau-bauan
mungkin kesturi,
atau mungkin
bau busuk datang dari minyak rambut mayat pengemis yang berbulan-bulan tak ditemukan  
Serigala tengah separuh jalan, matanya mengecil pusing melihat banyak bongkah besi penghasil asap monoklorida bulak-balik di jalan raya

Lohomora jelmaan serigala, setelah lilin di tangannya mati, seluruh penghuni kota akan menjelma menjadi lolongan panjang

Tuesday, June 4, 2013

Anak Perempuan Papa

Ijinkan anakmu, Pah, untuk menceritakan sedikit rasa bangganya memiliki Papa yang romantis. Saya adalah sosok perempuan yang kekeuh bahwa keromantisan dan keindahan bisa datang dari kesederhanaan. Dan memang sebenarnya romantis itu, sederhana. Seperti hashtag di twitter #BahagiaItuSederhana. Yap bukan hanya Bahagia, tapi Romantis juga! 
Papa bukan datang dari keluarga bangsawan, atau  milyuner yang uangnya bisa datang darimana saja, papa juga bukan tipe orangtua yang gampang beliin ini itu untuk anak-anaknya. Dan saya juga setuju, romantis tidak datang dari hal-hal seperti itu. Adalah kembali, bahwa romantis bisa datang dari kesederhanaan, 

Yang selama ini papa lakukan selama 19 tahun.

Sedikit tentang Papa, papa itu tegas, perfeksionis, pekerja keras, introvert, tapi romantisnya bukan main. Ada beberapa momen yang akan selalu saya ingat, dan i'll swear, hanya Papa lah lelaki satu-satunya yang pernah melakukan hal se-sweet itu.

Ketika itu, kalau tidak salah saya masih duduk di bangku kelas 5 atau kelas 6 SD saya lupa persisnya, sepanjang jalan menuju rumah, saya merengek minta Papa untuk membelikan parfum baru, sebut merk saja ya, Anna Sui. Ya, saya masih ingat. Karena siangnya Papa dan aku jalan-jalan ke suatu pusat perbelanjaan di Jalan Gatot Subroto Bandung. Dan papa dengan kalemnya menjawab  “Nanti ajalah, minggu depan ya...” mendengar papa yang tidak berhasil saya enyuhkan hatinya, saya makin rewel dan pulang dengan muka murung. Dan papa tidak ubahnya cuek bebek, flat selurus-lurusnya rambut rebonding dari jalan sampai rumah. Beberapa hari setelahnya, entah hari keberapa, saya pulang sekolah dan terkejut melihat di atas tempat tidur saya terletak sebuah kotak kecil hijau yang tidak lain adalah parfum yang saya inginkan, dan ternyata terdapat kertas di bawahnya, bertuliskan, "Dipakai ya Teh Parfumnya. Love, Papa."
                                                                                                                
Itu adalah hal yang sangat romantis menurut saya, dan nilainya bukan terletak pada materi bahwa papa akhirnya membelikan parfum. Tetapi niat beliaulah yang menge-set, membentuk suasana, untuk tetap terlihat cuek bebek mendengar rengekan saya, padahal ternyata diam diam dibelakang beliau malah membelikan parfum, lalu dengan sengaja menyimpan parfumnya di atas kasur, bahkan menuliskan surat di bawahnya.

Atau misalkan, hal yang sebenarnya papa mungkin mengganggap saya tidak tahu (sebenarnya saya tahu betul hehe) Sampai sekarang, sampai tahun ini,  papa tidak pernah lupa untuk mencium kening saya di saat (yang mungkin papa kira) saya sudah terlelap tidur. 

Romantisnya Papa juga terlihat, ketika saya berulang tahun ke-19 kemarin, karena ada rezeki, papa menghadiahkan saya sebuah mobil. Bukan, sekali lagi yang ditekankan bukan hadiah mobilnya  Sehari setelahnya, di pagi hari papa membangunkan saya dan dengan khas-nya,  oh iya... Papa adalah orang yang sangat prosedural, bagaimana Ia mengingatkan dalam setiap hak, tentu ada kewajiban. Papa mengajak saya untuk “mengenal” mobil itu lebih banyak. Beliau menyuruh saya untuk membuka segala macam kotak yang ada di bagasi belakang, dongkrak, ban, dan segala macamnya.  Tangan kami sampai kotor pada saat itu, karena Papa juga mengajarkan saya bagaimana caranya mengganti ban (ternyata ban itu berat sekali, haha). Hingga sebagai perempuan, saya bisa mengganti air wiper, mengetahui dan memasang klakson, mencuci mobil hingga bersih sesuai dengan tata cara, hingga mengantre untuk servis onderdil. Haha lumayan lah, ya?

Saya sempat berpikir, “Apaan sih, ginian doang.”  Tapi Papa hanya ingin anaknya nanti tidak kenapa-napa di jalan, ya kan?
Kami menghabiskan waktu setengah hari hanya untuk mengotak-atik hal-hal seperti itu. Dan Papa itu detailnya minta ampun.  “Ini Teh,  obeng ini.. coba cek di operational book nya ada engga?” lalu, “Nah ini segitiga pengaman, cara pakainya gini. Kamu nanti kalau bannya kempes atau apa-apa usahakan cari yang jalannya rata... sepi, dan jangan di  pinggiran yang padat.” Atau, “Nih coba, kalau lampu ini menyala, artinya apa yang belum?”
Papa sampai segitunya, ya? Iya. Memang. Tapi menurut saya, itu keromantisan papa dengan kemasannya yang lain.

Dan yang baru-baru ini, pada saat saya mau Ujian Akhir Semester, saya sering kesulitan belajar di malam hari karena lampu belajar saya rusak. Entah apanya, karena sudah berulang kali diganti bola lampunya pun tetap tidak menyala. Saya sampai seempat rebutan lampu belajar dengan adik pertama saya, menyebalkannya lampu itu bukan pertama kalinya mati, papa sudah dua kali membetulkan lampu itu dan pasti dalam waktu sebentar akan rusak lagi. Dan hal romantis antara papa-saya-dan lampu itu adalah, papa niat membetulkan lampu belajar saya, (sampai beliau bawa keluar kota dan membetulkannya di sana lalu kembali dengan lampu yang sudah betul) Padahal kalau ingin tidak ribet, papa bisa membelikan saya lampu belajar baru ketimbang mengganggu pekerjaan beliau di sana. Rasanya, papa ingin memberikan hasil “buah-tangan”-nya kepada saya. Ah, Papa memang selalu menyimpan effort di mana saja. Saat papa pulang, papa masuk ke kamar saya, dengan sederhana papa memberitahu, "Nih Teh, lampunya udah jadi, tapi warnanya kuning, enggak apa-apa ya?"

Romantis untuk saya bisa datang dari hal sekecil apa saja, dan hal terabsurd sekalipun. Romantis bisa datang dari menyempatkannya Papa di sela kesibukannya, untuk sekedar BBM, telepon, ataupun kalau papa sudah kangennya keterlaluan, Papa menyuruh anak-anaknya untuk dadah-dadah ke CCTV (semua saluran cctv di rumah saya terkoneksi langsung ke handphone beliau) Romantis bisa datang saat Papa sama sekali tidak gengsi untuk mengekspresikan cintanya untuk keluarga, rindunya, saat Papa supersibuk. Satu waktu, papa pernah tiba-tiba BBM saya di siang hari "Teh kita serumah tapi kok belum ketemu dua hari ya? Kangen." Romantis bisa datang dari emote-emote kiss dan hug yang tak pernah lupa Papa simpan di akhir kalimat pesan singkat. Atau, konyolnya lagi, romantis bisa datang dari teganya papa yang menjeburkan saya ke kolam setinggi 1,5 meter, empat belas tahun lalu ketika saya belum bisa berenang. Walaupun pada akhirnya ternyata saya hanya tidak pede dengan kemampuan diri sendiri, dan malah renang dengan lancarnya. 
"Apa Papa bilang, kamu tuh sebenarnya bisa, tapi enggak pernah mau coba. Jadi papa sengaja jeburin."

Romantis juga bisa datang ketika Papa tidak pernah mau mengambil centong nasi ketika ada anggota keluarga yang belum turun ke meja makan, keromantisannya dilanjut ketika Papa dengan senangnya mendengarkan saya bercerita apa saja. Romantisnya juga pernah mengejutkan sekolah, Papa berniat menjemput saya pulang sekolah, dan beliau datang dengan ambulans pembawa mayat. Guru-guru panik dan menanyakan siapa yang meninggal di sekolah pada saat itu. Papa..papa...yang penting anaknya dia jemput. Takut menunggu lama, takut anaknya kenapa-napa. Lagi-lagi itu alasannya.
Romantis bisa datang ketika Papa membetulkan jendela kamar saya yang rusak, atau sekedar memasangkan jam dinding di kamar saya. Romantisnya Papa juga datang saat... beliau tidak pernah memaksa saya untuk masuk ke fakultas kedokteran. Katanya, biarlah anak perempuannya ini mengambil keputusan penuh akan kehidupannya, sehingga nanti dapat membuktikan dan bertanggungjawab atas pilihannya terebut.
Dan yang membuat saya menjadi perempuan pecinta bunga, apapun bunganya. Adalah Papa. Selama saya bisa mengingat, sepanjang ulang tahun saya, Papa tak pernah absen mengirimkan buket bunga, biasanya mawar merah, namun ketika mengetahui saya menyukai warna ungu, pada ulang tahun ke enambelas hingga sekarang, digantinyalah bunga itu, menjadi mawar atau lily, apapun, asalkan warnanya ungu,

Saya sayang papa. 

Saya jadi ingat, sekali waktu saya pernah mengobrak-abrik dompet Ibu dan menemukan sebuah foto sunset, karena bingung saya bertanya untuk apa ibu menyimpan foto sunset di dalam dompetnya, bukan foto mereka berdua,  Ibu langsung membalikkan lembar foto tersebut, dan di belakangnya terdapat tulisan tangan papa. Papa menuliskan puisi untuk ibu, dan foto sunset tersebut adalah hasil jepretan papa.
Saya jadi membayangkan, seromantis apa Papa untuk ibu, ya...


"Wujudku adalah patung terbengkalai
cinta telah mengukirnya
dan jadilah aku manusia.
 'de keinginanku hanyalah satukan cinta dan perasaan kita."

                                              Pangandaran 1990. Love
                                                                       DadanR.

Sunday, June 2, 2013

Ketika malam bertanya pada ombak, hati siapakah yang dibawa berlayar ke tengah sampai jauh; ombak makin mengguyur tepi dengan buih, menjilat dengan pecah
Malam tertegun dan sakit mendengarnya, kedua kali ditanyakannya hati siapakah yang dibawa jauh sampai tengah, ombak menjawab dengan air pasang surut bulan, sedikit tersenyum tafsir agar bingung
Malam dengan berkuda ditanyakannya lagi, pada siapakah hati terjauh yang ombak bawa sampai tengah; samudera sekarang acap menjawab dengan gelontor-gelontor sekumpulan tuna, terjaring sampai pinggir, nelayan sukacita, ombak mengalihkan perhatian tanggahnya pada malam

2013

Sunday, May 26, 2013

Oksimoron

ketika aku berpuisi
aku mengawinkan kata dengan dirimu
mungkin aku sedang oleng
mabuk wiski
di sekitaran lereng
kaki kaki
hingga diksi sederhana
dari sutardji atau alisyahbana
menenggelamkan aku
serindu
putik-putik bunga
mekar
menunggu

ketika aku berpuisi
aku mengawinkan kata dengan jiwamu
ruh ruh keluar dari sepatu
hujan menenggelamkanmu
lantas apa dan bisa mengaduh; berlari rindu berpeluh
lelah lesu; kau uyup salju cair itu
segera kenang yang akan hilang
segera buang yang tak kau juga lelang
di tanganmu ada sebuku
bau tinta dan bau debu
tolong coba kesinikan!

ketika aku berpuisi
aku mengawinkan kata dengan sore-sore
jiwa dan dirimu selalu baru pulang jalan-jalan
mereka buka sepatu kotor cepat-cepat
dan sambut aku yang sedang duduk-duduk
di depan televisi hitam putih abu-abu

ketika aku berpuisi
aku mengawinkan kata dengan merpati
       ah sudah!
nanti kalau terlalu lama, pasti aku dikencingi


tunggulah aku di sana, kukawinkan bibirmu dengan secawan anggur


Mei 2013

Saturday, May 18, 2013

Namaku Cinta I

Namaku Cinta. Di dunia, keberadaanku bisa kau temukan di mana saja, tetapi sekarang, aku tepat berada di antara kedua nama. Fabiana dan Kalhan, dan mereka telah hidup denganku selama delapan tahun,

Aku tengah mengamati mereka dari pojok kopi yang cukup sepi. Tempat Fabiana berlama-lama diam, dan berjarak 30 meter dari kantor Kalhan. Untuk pertemuan yang kali ini, mereka tidak menyertakan aku. Karena penasaran, diam diam aku mengikuti mereka hingga sampailah di sini.

“Kenapa baru bilang Mas? Kan rencananya dua tahun lagi?”
“Dipercepat Na, saya ternyata disuruh kesana. Ibu enggak ada yang nemenin.”
“Loh? Terus bagaimana? Aku ngikut baiknya saja. Nanggung Mas, sekolahku sebentar lagi juga selesai.”
“Inilah kenapa saya ingin ketemu dan bicara, Na. Saya juga bingung. Enggak bermaksud untuk nyuruh kamu berhenti kuliah... Tapi...”
“Kan rencananya setelah aku beresin ini, aku ikut Mas dan doktoralku dilanjutkan di sana.”
“Kalau pernikahan kita dipercepat? Atau kalau bisa di sana saja. Saya tahu ini serba mendadak dan pasti kamu kaget, Na. Cuma ibu bilang begitu. Ibu kemarin sakit lagi dan ingin saya segera boyong Nana ke sana, sama ibu. Ibu yang minta, Na.”

Ternyata aku menguping percakapan yang cukup rumit. Muka mereka berdua lebih semrawut daripada jalanan macet ibukota jam pulang kantor. Sambil menyeruput frappucino ukuran ekstra, aku kembali mendengarkan.

Semoga mereka tidak melupakan bahwa mereka telah hidup dan menghadirkanku selama delapan tahun.  Fabiana dan Kalhan membangunku dan selalu menyertakan sebagai perekat mereka berdua. Aku juga jadi saksi atas pertengkaran, debat, tangis, tawa terbahak, cemburu, setia, rindu,  senang, pelukan, ciuman, kebahagiaan mereka. Bahkan aku akan diagungkan oleh mereka di atas altar dua tahun lagi, hidup bersama dengan mengikatku selamanya. Kadang permasalahan datang untuk menguji manusia, untuk tetap memilih bersamaku, atau malah meniadakanku.

Namaku Cinta, dan aku tidak mau dihilangkan.

***


Lagi-lagi di taman ini, kau lelaki yang selalu mengikuti dan hapal betul jam makan siangku, dan di mana tempatku membuka bekal. Kau lelaki yang entah secara kebetulan, selalu tepat berada di kursi depan. Kemarin wajahmu kau tutupi oleh majalah otomotif, dan sekarang? Kau terlihat serius membaca dan membolak-balikkan koran.
Entah aku yang geer, atau memang seperti itu keadaannya, tapi di saat aku  mulai membuka kotak bekal dan mengambil sendok, mengiris-ngiris daging ayam, lalu menyuapnya, aku suka merasa kau suka memperhatikanku. Dan di saat aku penasaran ingin melihat kamu, kau memalingkan muka. Tidak terhitung sudah berapa kali seperti itu. Namun bukannya risih, aku malah senang diperhatikan kamu seperti itu.

Nah, lima menit lagi dia pasti datang. Bawa menu bekal apa ya dia hari ini? Kenapa kamu lucu sekali sih? Tuhan beranikan lah aku untuk sekedar pindah tempat duduk dan bertanya siapa namanya, pada sore hari ini saja. Sudah lima hari saya hanya duduk diam dan memperhatikan wajahnya yang manis itu.  Apa dia merasa, ya? Okay, dia datang. Mana? Mana koran yang barusan saya bawa? Saya terlihat rapi kan? Lebih baik saya berpura-pura membaca saja, barang sepuluh menit, mungkin saya tahan untuk bersikap biasa saja dan tidak jadi salah tingkah Ah! Kenapa dia lucu sekali sih? Caranya menyuap dan pipinya yang nanti menggembung itu membuat saya ingin mencubitnya. Jangan ketinggian, namanya saja saya belum tahu. Apalagi mencubit pipinya...Sial! Sepertinya dia sadar aku perhatikan, pipinya memerah walau dia berpura-pura sibuk dengan makan siangnya. Dia tersenyum!!! Serius Duh, bodoh! Lebih baik saya baca koran lagi. Dan tetap bersikap tenang.

Lelaki itu kenapa sih? Ada yang aneh denganku ya siang ini? Apa ada yang salah dengan bajuku? Atau... ada nasi yang menempel di pipiku? Atau aku bau badan dan tercium sampai sana? Kenapa aku sering merasa matanya terus mengamatiku, ya? Tapi di lihat-lihat dia lumayan juga sih,
Ah! Bodoh! Kenapa aku tersenyum barusan? Aduh! Pasti pipiku memerah dan aku disangka kegeeran... Ah Bagaimana ini? Tenang Ra, tenang... Habiskan makananmu ini...

Mungkin saatnya sekarang,

Kenapa dia jalan mendekat?

Bismillah. Tuhan, saya cuma ingin berkenalan. Berikan keberanian..

“Siang, saya Rama. Boleh duduk di sini?”

“Eh... mmm... Saya Arla, silakan. Kosong di sini.”

“.....”

Namaku Cinta. Di dunia, keberadaanku bisa kau temukan di mana saja, tetapi sekarang, aku tepat berada di antara kedua nama. Rama dan Arla. Sepertinya mereka memang menunggu kedatanganku, dan sekarang, dirasa pas waktunya. Hallo Arla, Rama, selamat datang. Selamat bertemu denganku.

Namaku Cinta. Dan aku bisa datang kapanpun semauku.

Sunday, May 12, 2013

mimpi

Satu hal yang saya percayai (dan ingin dilakukan) sejak dulu, 
Melaksanakan dengan kesungguhan, diiringi konsistensi atas apa yang disukai, yang membuat menyenangkan, membuat bahagia, dan akhirnya bisa menghasilkan

Jadi, seberapa banyaknya waktu yang terpakai, tenaga yang terbuang, seberapa sulit hal itu dikerjakan, tidak akan pernah merasa lelah. "Karena kamu mencintai pekerjaanmu"

Ya Tuhan, semoga ada jalan. Saya tahu Engkau tidak pernah tidur..