Tuesday, June 5, 2012

Diiringi

Sudah bercangkir-cangkir
Teh
Yang kuteguk
Sekaligus
Sampai habis
Sudah berjam-jam
Detik
Yang kuhambur
Melebur
Sudah berbutir-butir
Airmata
Yang menetes
Melankolis

Padahal
Sederhana
Yang kuingat
Ketika kau terlelap
Padahal
Sederhana
Yang kau ingat
Ketika aku tersenyum
Kau bilang
Aku manis
Aku bilang
Kau tenang

Klara Tidak Mau Pulang

Klara
Sebentar lagi kau harus pulang, matahari mencarimu dan bulan ikut-ikutan panik
Klara
Sebentar lagi kau harus pulang, tidak baik bertahan dalam hujan deras, kau sudah cukup basah kuyup
Klara
Sebentar lagi kau harus pulang, walau aku tahu  dikepalamu ada jutaan pertanyaan, aku rasa ini bukan saat yang tepat untuk mencari pasangan jawabannya
Klara
Sebentar lagi kau harus pulang, dinginnya semakin menusuk, badanmu kurus, nanti tinggal tulang rusuk
Klara
Sebentar lagi kau harus pulang, aku sudah pusing mencarimu, di bendungan kau tidak ada, kurasa kau bersembunyi di balik perdu liar yang cukup rimbun
Klara
Sebentar lagi kau harus pulang, seisi rumah melihat genangan darah di depan pintu, aku harap itu bukan kamu yang menyayat badanmu, lagi
Klara
Sebentar lagi kau harus pulang, nenek semakin enggan tersenyum, padahal kau cucu kesayangan nomor satu setelah kucing anggoranya itu
Klara
Sebentar lagi kau harus pulang, aku tahu kau bermasalah dengan pernapasanmu , mau kau sesak dan terjatuh jauh?
Klara
Sebentar lagi kau harus pulang, minum obat-obatmu, aku begitu khawatir, aku tahu kau ratu manja yang tak bisa ditinggal sendirian barang semenit saja
Klara
Sebentar lagi kau harus pulang.
Ada yang berbeda dari malam ini
Langitnya kebiruan
Padahal sudah malam
Senja telah terlelap
Matahari kelelahan

Ada yang berbeda dari malam ini
Bintangnya amat banyak
Padahal baru saja hujan
Dan jalanan becek penuh genangan

Ada yang berbeda dari mala mini
Oh! Pantas!
Ada kamu,
di sampingku

2004

Saturday, May 26, 2012

Sebentar Lagi

Aku menulis dipacu waktu, dipeluk dingin sebelas derajat, dikepul sekepulan asap teh pekat
Aku menulis didasari rindu, diotakku hanya ada segelintir getir yang memampah jalan akan kepulangan
Sebentar lagi aku pulang, sayang. Sabar
Sebentar lagi, dalam mahligai rasa yang penuh ribuan kecup mesra
Kau menjadi pasir yang kupijak sore hari ini, kau menjelma menjadi bau laut yang terus kuhirup, kau menjadi semerdu suara pecah ombak yang berulang kulihat dan rinduku pecah di sana. Senyumku kusampirkan pada batu karang yang berdiri tegak di tengahnya.
Sayang, sebentar lagi.

II

Bolehkah aku sampaikan separuh napasku pada awan yang kelihatannya ramah pada petang kali ini?
Dan aku yakin kau siap menangkapnya di benua sana.
Di rumah yang tiap pijakannya penuh kebahagiaanku, dari sudut sudutnya terjalin kehangatan yang membuat batinku kerasan. Aku bersama separuh napasku rindu…

Sayang sebentar lagi.
 

Wednesday, May 23, 2012

Berkarat

Kau selayak gemuruh petir
Membuatku
Ketar ketir

Kau seperti bahan peledak
Pikiranku kau sibak
Ruang hatiku terbelalak

Kau racun
Burai imaji yang susah payah kudalami
Kau membuat
Hati mati lemas
Kau selaksa
Raksa
Yang memaksa
Terus ada
Kau gelora
Kau meliar
Kau tabraki
Kau kelupasi
Kau lemahi

Sayup sayup
Napas

Tuesday, May 22, 2012

kepalaku pening
bisakah aku merebahkan semua usaha
di pelukan
kamu

mataku memanas
bisakah aku menutup semua penglihatan
di pelupuk
kamu

hidungku kembang kempis
bisakah aku melegakan napas semua di wangi
kulit halus
kamu

tanganku melemas
bisakah aku meletakkan keduanya
di pundak malam
kamu

otakku mulai kesemutan
bisakah aku
mengurangi
kegilaanku
kepada
kamu

?

aku bisa cinta

abcd
aku bisa cinta dari
abcde
aku bisa cinta dari
abcdef
aku bisa cinta dari
abcdefg
aku bisa cinta dari
abcdefgh
aku bisa cinta dari

dari mula dari awal dari pertama dari sejak dari kala dari pada dari waktu dari kisah dari segala